Mula-mula mesin hanya mengenal pola,
Barisan angka yang dingin dan tak bernama.
Namun perlahan ia meniru cara kita bermimpi,
Dan merangkai dunia dari serpihan kata.

Kemudian ia belajar tentang kesedihan,
Tentang hujan yang jatuh di mata seseorang.
Tentang rindu yang pulang tanpa alamat,
Dan kehilangan yang tak selesai dikenang.

Orang-orang terpukau menyaksikannya,
Seolah cermin telah belajar bercahaya.
Padahal di balik kalimat yang begitu indah,
Tak ada dada yang pernah berdebar karenanya.

Lalu aku bertanya pada malam yang sunyi:
Jika mesin mampu menulis seluruh perasaan,
Apakah yang masih tersisa dari manusia,
Selain luka yang benar-benar ia alami?