Katanya perut tanah itu emas
Tersemai di bawah surga langit membiru
Yang diinjak sepatu-sepatu warisan
Nyaris tak menyisakan ruang
Mereka bilang serpihan surga yang subur
Benarkah?
Mengapa kami masih mengunyah batu?
Tertikam tajam pisau permata
Gagangnya diukir oleh ironi
Menjahit dahaga dengan muram
Kering kerontang persis musim kemarau
Sang rapuh bersuara parau
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Pisau Permata
![[PUISI] Pisau Permata](https://image.idntimes.com/post/20250906/wu-yi-f1xj_kez5rm-unsplash_0498ee83-1175-4250-901b-f342f0cda8ca.jpg)
ilustrasi pisau (unsplash.com/@takeshi2)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorYudha