Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PUISI] Pundak Tanpa Jeda

[PUISI] Pundak Tanpa Jeda
ilustrasi sandwich generation (pixabay.com/pexels)
Share Article

Di tangan kanan, susu hangat harus diseduh,
tawa kecil butuh arah agar tak rubuh.
Di tangan kiri, sisa obat mesti dijaga,
napas tua pelan-pelan beradu dengan raga.

Aku jembatan di tengah dua muara,
menahan beban dari hulu hingga hilir udara.
Menelan lelah saat mentari baru menyapa,
menyimpan keluh di balik senyum pura-pura.

Tabungan bukan lagi angka masa depan,
tapi hitungan hari demi dapur kehidupan.
Antara biaya sekolah dan tagihan rumah sakit,
aku berdiri tegak, meski dada terasa sempit.

Namun di balik punggung kian membungkuk ini,
ada doa-doa tulus merawat nurani.
Menjadi penyambung napas adalah sebuah bakti,
meski diri sendiri sering lupa cara berhenti.

Aku tiang penyangga pantang goyah,
meski badai datang membawa lelah payah.
Sebab di pundak inilah dua generasi bersandar,
mencari perlindungan agar hidup tetap berpijar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya

Related Articles

See More

[PUISI] Pukul Tujuh Pagi

19 Jun 2026, 11:07 WIBFiction
[PUISI] Jurang

[PUISI] Jurang

18 Jun 2026, 16:47 WIBFiction
[PUISI] Parade Rasa

[PUISI] Parade Rasa

17 Jun 2026, 15:07 WIBFiction
[PUISI] Tak Tersentuh

[PUISI] Tak Tersentuh

16 Jun 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Segenggam Getar

[PUISI] Segenggam Getar

16 Jun 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Pergi ke Matahari

[PUISI] Pergi ke Matahari

16 Jun 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Rindu Tak Bertuan

[PUISI] Rindu Tak Bertuan

15 Jun 2026, 21:07 WIBFiction