Di langit surga, petir tak pernah mengoyak
Laksana gema cahaya mengingatkan gemintang
Awan-awan menekuk sayapnya
Menjadi sajadah bagi kilau yang pulang

Berdiri di tepi sunyi
Mengenakan jubah yang dijahit dari sisa-sisa doa
Sementara waktu berubah menjadi burung tua
Yang mematuki detik hingga tinggal tulang

Bukan sebagai amarah, melainkan pena langit
Menuliskan rahasia pada lembar cakrawala
Setiap kilat adalah ayat
Dibaca tanpa suara