Dulu kupikir ibu adalah matahari
Yang memang ditakdirkan selalu menyala
Aku menikmati hangatnya setiap hari
Tanpa pernah bertanya dari mana ia belajar membakar dirinya.
Lalu Tuhan menitipkan semesta kecil di rahimku
Dan waktu berubah menjadi malam yang tak selesai
Di setiap tangis yang kupeluk hingga fajar
Aku mendengar gema doa yang dulu diam-diam kau panjatkan
Kini kutahu, ibu bukanlah perempuan yang tak pernah lelah
Melainkan sungai yang terus mengalir meski musim mengering.
Ia menyembunyikan retaknya di dasar arus
Agar anak-anaknya hanya mengenal teduh di permukaan.
Aku mulai membaca bahasa yang dulu tak kupahami
Bahwa cinta seorang ibu tak pernah lahir dari kata-kata.
Ia tumbuh dari nasi yang diam-diam berpindah ke piring anaknya
Sementara laparnya belajar menjadi rahasia.
Kini setiap kali anakku memanggilku "Ibu"
Aku merasa sedang memanggil namamu dalam diriku sendiri.
Sebab rahim bukan hanya melahirkan seorang anak
Tetapi juga melahirkan seorang anak yang akhirnya mengerti ibunya.
![[PUISI] Rahim Mengajariku Menjadi Ibu](https://image.idntimes.com/post/20260629/1000114683_70f3cc51-5286-4e76-8fff-d43b8dbad1bc.jpg)