Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Rahim Mengajariku Menjadi Ibu
A mother loving care. (Sumber : unsplash.com / Bethany Beck)

Dulu kupikir ibu adalah matahari

Yang memang ditakdirkan selalu menyala

Aku menikmati hangatnya setiap hari

Tanpa pernah bertanya dari mana ia belajar membakar dirinya.

Lalu Tuhan menitipkan semesta kecil di rahimku

Dan waktu berubah menjadi malam yang tak selesai

Di setiap tangis yang kupeluk hingga fajar

Aku mendengar gema doa yang dulu diam-diam kau panjatkan

Kini kutahu, ibu bukanlah perempuan yang tak pernah lelah

Melainkan sungai yang terus mengalir meski musim mengering.

Ia menyembunyikan retaknya di dasar arus

Agar anak-anaknya hanya mengenal teduh di permukaan.

Aku mulai membaca bahasa yang dulu tak kupahami

Bahwa cinta seorang ibu tak pernah lahir dari kata-kata.

Ia tumbuh dari nasi yang diam-diam berpindah ke piring anaknya

Sementara laparnya belajar menjadi rahasia.

Kini setiap kali anakku memanggilku "Ibu"

Aku merasa sedang memanggil namamu dalam diriku sendiri.

Sebab rahim bukan hanya melahirkan seorang anak

Tetapi juga melahirkan seorang anak yang akhirnya mengerti ibunya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks

Editorial Team