Sajadah usang itu masih tergelar
Warnanya luntur dimakan usia
Tiap seratnya bercerita tentang sujud
Tentang dahi yang menempel basah oleh air mata
Ada bau wangi khas di sana
Bukan minyak, tapi akumulasi cinta
Dulu di atas sajadah ini, Nenek berlama-lama
Berbisik pada Tuhan, tentang anak cucunya
Kini aku bersimpuh di atasnya
Merasakan hangat yang tertinggal
Sajadah ini bak perahu usang
Yang tetap setia mengarungi lautan doa
Aku mewarisi selembar sajadah
Dan di dalamnya, seluruh cinta Nenek yang tak pernah mati
Ia adalah peta menuju surga
Yang digambar dengan tetes-tetes air mata
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Sajadah Peninggalan Nenek
![[PUISI] Sajadah Peninggalan Nenek](https://image.idntimes.com/post/20260223/img-20260223-wa0003_14edc220-5daf-4888-93d0-1bf885748fde.jpg)
Ilustrasi sajadah (dok. pribadi/Julita Puspita)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us