Kata Wiji tak ada guna punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli
Namun, di negeri yang kusayangi
Jongos-jongos dengan ilmu tinggi
Jadi bahan tertawaan nepo babi
Yang cukup sejengkal akselerasi
Langsung diangkat sebagai pengganti

Kata temanku di kanan kiri
Buat apa lelah mengkritisi
Kalau kelak bakal dihabisi
Bukan sulit masuk jeruji
Hanya sebab melempar opini
Mending cari aman jadi apati
Toh, dari dulu cari makan sendiri

Lagi-lagi apa guna banyak baca buku
Kata Wiji, kalau mulut kau bungkam melulu
Namun, di negera yang prioritasnya isi perutmu
Boro-boro banyak membaca buku
Mendatangi toko keburu tak bernafsu
Lantaran harga yang terpajang setara satu
Bulan gaji bapak ibu guru

Di bawah selimut kedamaian palsu
Makin terang-terangan para pemangku
Sekali pun berakal tak pernah dalam berperilaku
Boro-boro mampu lantang meneriakkan pilu
Setiap sudut memilih diam tanpa sepatah asu
Lantaran lidah telanjur kelu dan kaku
Bukan mustahil besok pagi jidat ditembus peluru