Kukira temu adalah permulaan,
Saat tatap menjelma percakapan.
Ternyata aku salah menafsirkan,
Kau hanya singgah, bukan menetap kemudian.

Kukira senyum menyimpan pertanda,
Ada rasa yang tumbuh tanpa suara.
Namun, aku terlalu pandai menerka,
Sementara kau biasa saja sejak semula.

Kita bertemu di simpang yang sama,
Lalu berjalan ke arah berbeda.
Aku sibuk memberi temu sebuah makna,
Kau bahkan tak pernah menyebutnya cinta.

Kini, kupahami setelah kehilangan,
Tak semua temu meminta kelanjutan.
Ada yang datang sekadar mengajarkan,
Cara merelakan tanpa menyalahkan keadaan.