Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Satu Persen
ilustrasi kemiskinan (unsplash.com/Ridwan Abdurrohman)

Jika negeri ini masih menyimpan jalan pulang,
Mengapa yang lurus justru paling dahulu ditendang?
Mengapa mereka yang menyalakan pelita perubahan,
Kerap dianggap bara yang mengancam tatanan?

Jika benar masih ada ruang bagi keadilan,
Mengapa yang culas begitu mudah mendapat pembenaran?
Mengapa suara jujur harus memikul hukuman,
Sedang dusta diberi panggung dan tepuk tangan?

Jika masa depan memang ditanam lewat pendidikan,
Mengapa nasib masih lebih patuh pada keberuntungan?
Mengapa rupiah merosot bersama keyakinan,
Seolah kebutuhan jadi kemewahan bagi kebanyakan?

Dan jika pemimpin dipilih untuk mendengar rakyatnya,
Mengapa empati kian samar rupa dan suaranya?
Masih adakah satu persen kemungkinan hidup cerah,
Ataukah harapan hanya cara halus untuk belajar menyerah?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks

Editorial Team