Haruskah aku mengubur harapan itu, Tuan?
Bukan lagi tentang menyelaraskan langkah, tapi tentang apakah aku masih boleh menanti sehelai daun maple dari genggamanmu-tanda kecil yang tak pernah sampai.
Gaun putihku kini sedikit kusut, terkena tanah dari kebun bunga yang dulu kau tanam. Tapi tak apa, aku masih ingin melangkah di atas kelopaknya.
Surat itu telah kubalas dengan tinta paling pekat, sebagai bukti bahwa aku membaca bukan hanya katanya-tapi juga hening di antaranya.
Dan lihatlah, aku bahkan berlari kecil menuruni tangga-tak sabar menyampaikan semua ini pada pemiliknya.
Ya, kepadamu, Tuan. Dengan sepasang lengkung hitam yang tak pernah gagal membuatku jatuh sedikit lebih dalam.
![[PUISI] Sehelai Daun Maple](https://image.idntimes.com/post/20260611/whatsapp-image-2026-06-11-at-12_5c10cf90-2822-4685-855e-57ba7b0e7bcd.jpeg)