Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PROSA] Serendipity

[PROSA] Serendipity
ilustrasi rekaman kejadian (pixabay.com/PublicDomainPictures)
Share Article

Sinar matahari belum sempurna menyapa bumi. Orang-orang telah ramai berkerumun di jalan. Terdengar suara orang saling berbisik menyaksikan sesuatu. Keadaan di sana cukup menegangkan. Terlihat seorang wanita melangkahkan kakinya ke sana untuk sekadar memastikan. Di balik kerumunan, seorang pria terkapar di jalan. Sepertinya pria itu baru saja mengalami kecelakaan. Darah segar mengalir dari pelipisnya.

Flashback on

Musim dingin telah tiba. Angin utara berembus kencang menyelimuti seisi kota. Ia keluar dari rumah dan pergi menjajakan jasanya. Ia berjalan melintasi jalan-jalan kota untuk mencari pelanggan. Meskipun kadang di hari-hari tertentu penghasilannya tidak seberapa karena sepi, tapi setidaknya hasil jerih payahnya ini cukup untuk makan sehari- hari. Angin pun mulai melemahkan embusannya, meninggalkan rentang jalan-jalan kota. Saat ia akan kembali, tiba-tiba dari arah belakang sebuah mobil Ferrari hitam menghantamnya dengan keras. Menabraknya hingga membuat tubuhnya terpelanting cukup jauh. Serasa sakit menjalar di sekujur tubuh. Ia berusaha untuk minta tolong, namun mobil itu dengan cepatnya memacu gas dan pergi begitu saja dari hadapannya. Matanya mulai kabur dan semuanya berubah menjadi gelap.

Flashback off

Orang-orang di jalan hanya menatap pria itu dengan rasa iba. Darah segar mengalir begitu derasnya. Dalam keadaan panik, seorang wanita mencoba menghubungi ambulans. Beberapa menit kemudian ambulans pun datang. Suara sirene menguar di udara. Warga sekitar menggotong pria malang itu masuk ambulans.

"Semoga pria itu baik-baik saja. Sungguh malang nasibnya," batin wanita itu iba.

"Tunggu, kenapa wajahnya begitu tidak asing bagiku?" pikir wanita itu dalam hati

Wanita itu berusaha mengingat sesuatu. Dia mencoba menggali ingatannya. Mengingat setiap detail kejadian minggu lalu. Betapa terkejut dirinya. Ternyata pria itu adalah penolongnya tempo lalu dari seorang pencopet yang hampir saja mencuri dompetnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy

Related Articles

See More

[PUISI] Sisanya Kuserahkan pada Waktu

26 Mei 2026, 15:07 WIBFiction
[PUISI] Tentang Mimpi

[PUISI] Tentang Mimpi

26 Mei 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Tolak Ukur

[PUISI] Tolak Ukur

25 Mei 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Perihal Ibu

[PUISI] Perihal Ibu

25 Mei 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Gambaran Masa Lalu

[PUISI] Gambaran Masa Lalu

24 Mei 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Pisau Permata

[PUISI] Pisau Permata

24 Mei 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Aku Tidak Peduli

[PUISI] Aku Tidak Peduli

23 Mei 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Lubang

[PUISI] Lubang

23 Mei 2026, 05:04 WIBFiction