5 Kuliner Khas Nara yang Tidak Dijual di Kyoto, Apa Saja?

Makanan Jepang sering diasosiasikan dengan menu populer seperti ramen, sashimi, atau katsudon. Padahal setiap kota punya hidangan yang mewakili kebiasaannya sendiri meski saling bertetangga. Nara adalah contoh paling gampang karena berada sangat dekat Kyoto tetapi justru menyimpan pilihan kuliner hidden gem.
Banyak makanan di sini muncul dari tradisi kecil keluarga atau resep kuil tua yang bertahan tanpa publisitas besar, lalu berkembang sebagai ciri unik yang tidak ditiru kota lain. Itulah sebabnya wisatawan pulang sambil membicarakan rasanya, bukan hanya pemandangannya. Berikut lima kuliner Nara yang jarang kamu temukan di Kyoto.
1. Miwa somen kering halus sebagai makanan khas kebanggaan Nara

Miwa somen dibuat dari adonan tepung yang dipilin tipis lalu dikeringkan lama hingga menjadi benang mi putih yang halus. Saat direbus, teksturnya tetap lembut tanpa rapuh dan disajikan dengan kuah sederhana yang memberi ruang bagi rasa asli mie. Banyak kedai sengaja menjaga jumlah bumbu agar karakter gandum tidak hilang. Pengunjung sering kaget karena mie tipis seperti ini terasa mengenyangkan.
Kualitas Miwa somen bergantung pada teknik pengeringan tradisional yang memerlukan ruang, waktu, dan cuaca tertentu sehingga produksinya kecil. Karena itu mie ini jarang dibuat di kota besar seperti Kyoto yang menuntut suplai tinggi dan konsisten. Di Nara, beberapa toko masih menjemurnya di rak kayu tinggi sehingga pengunjung bisa melihat prosesnya langsung. Tradisi sederhana seperti ini membuat Miwa Somen terasa istimewa tanpa butuh gimik modern.
2. Kakinoha sushi dibungkus daun kesemek mempertahankan aroma alaminya

Kakinoha sushi memadukan nasi cuka dan irisan ikan segar yang dipadatkan perlahan kemudian dibungkus daun kesemek sebagai pelindung sekaligus pemberi aroma lembut. Proses ini membuat sushi aman dibawa jalan jauh tanpa kehilangan kesegarannya bahkan setelah beberapa jam. Ikan biasanya dipilih dari tangkapan pesisir Kansai sehingga rasanya ringan dan tetap dominan tanpa saus tambahan. Bentuknya kecil dan padat sehingga mudah dimakan tanpa alat makan.
Daun kesemeknya dipanen musiman, jadi jumlah produksi mengikuti ketersediaan bahan dan tidak bisa dilebihkan sesuka hati. Inilah yang membuat Kakinoha sushi tidak cocok dijual cepat di pasar wisata besar seperti Kyoto yang membutuhkan suplai stabil. Banyak toko di Nara masih membuatnya secara manual dan meletakkannya dalam kotak kayu kecil yang cocok untuk piknik di kuil. Sensasi membuka bungkus daun sebelum menyantapnya memberi sentuhan personal seolah mencicipi bekal rumah buatan warga lokal.
3. Nakatanidou Yomogi Mochi dibuat dengan ketukan palu

Nakatanidou dikenal karena aksi menumbuk mochi yang dilakukan cepat menggunakan palu kayu besar sementara rekan mengatur adonannya. Proses ini menciptakan tekstur lembut dari luar hingga dalam tanpa bagian keras sedikit pun. Warna hijau berasal dari daun yomogi yang ditumbuk bersama adonan dan memberi aroma segar. Isian kacang merahnya seimbang sehingga manisnya tidak mengganggu.
Atraksi menumbuk mochi ini jarang ditemui di kota besar karena produksi manual memakan tenaga dan waktu. Kyoto punya banyak mochi, tetapi jarang yang menawarkan pengalaman menyaksikan pembuatan langsung seperti ini. Setiap potong mochi hanya bertahan beberapa jam di etalase karena dibuat dalam jumlah kecil. Wisatawan biasanya menganggap melihat prosesnya sama seru dengan memakannya.
4. Chagayu menyerap rasa teh menjadi bubur hangat yang menghibur

Chagayu adalah bubur beras yang dimasak dengan teh sehingga menghasilkan rasa lembut dengan sedikit sentuhan pahit yang menenangkan. Hidangan ini dulu sering muncul di kuil dan rumah keluarga sebagai sarapan hangat yang sederhana. Penyajiannya biasa ditemani acar sayuran kecil agar rasa bubur makin seimbang. Cocok untuk pengunjung yang ingin mencicipi hidangan ringan tanpa minyak.
Teknik memasaknya cukup lama agar teh menyatu dengan beras tanpa meninggalkan sepat yang mengganggu. Karena sederhana, banyak kedai mempertahankan resep lawas tanpa niat memodifikasi rasa agar lebih trendy. Kyoto punya sarapan populer lain, tetapi jarang yang memakai teh sebagai bahan utama. Chagayu pun tetap menjadi identitas Nara karena kesederhanaannya sulit disaingi.
5. Mitarashi Furumichi Dango menjaga rasa klasik ala pedagang perjalanan

Dango ini dibuat dari bola-bola tepung yang dipanggang pelan di atas arang hingga bagian luarnya mengeras halus tapi tetap kenyal ketika digigit. Sausnya berasal dari kecap manis gurih dengan sedikit gula yang caramelized di atas api. Tidak ada topping tambahan sehingga rasa dasarnya berperan penuh. Aromanya sering membuat orang menoleh sebelum melihat stannya.
Nara memilih mempertahankan gaya panggang arang karena dipercaya memberi sentuhan rasa yang tidak tergantikan. Di Kyoto, dango berkembang jadi lebih manis dan dekoratif menyesuaikan selera wisatawan internasional.
Nara membuktikan bahwa makanan Jepang tidak selalu seragam meski jaraknya hanya selemparan kerikil dari kota wisata besar seperti Kyoto. Kuliner kota kecil ini punya karakter kuat yang lahir dari kebiasaan lokal tanpa takut terlihat sederhana. Jadi, siap belajar rasa baru dan menemukan kejutan lain di kota Jepang yang jarang masuk itinerary?


















