ilustrasi sagu bakar (commons.wikimedia.org/ Diyanto Sarira)
Sagu punya posisi penting dalam kehidupan masyarakat Papua, termasuk masyarakat Asmat. Salah satu bentuk pengolahannya adalah sagu bakar, yang dibuat dari bahan dasar sagu lalu dipanggang menggunakan tungku tradisional dan kayu bakar. Teknik sederhana ini memperlihatkan bagaimana bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar bisa diolah dengan peralatan yang juga berasal dari alam.
Buat kamu yang terbiasa melihat sagu dalam bentuk papeda, sagu bakar menawarkan pengalaman yang berbeda. Teksturnya berubah setelah melalui proses pemanggangan, sementara aroma dari proses pembakaran ikut melekat pada makanan. Dalam kehidupan masyarakat Asmat, sagu juga punya kaitan erat dengan budaya dan kehidupan sosial sehingga pengolahannya lebih dari sekadar urusan mengisi perut.
Ada alasan kenapa teknik memasak lama masih bertahan sampai sekarang. Bukan cuma soal mempertahankan rasa, tetapi juga karena di dalamnya ada pengetahuan tentang bahan, api, alam, dan cara hidup yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Kalau suatu saat kamu berkesempatan mencicipi salah satunya, coba jangan buru-buru menilai dari tampilannya saja. Perhatikan juga bagaimana makanan itu dimasak dan cerita masyarakat di baliknya. Dari sana, kuliner tradisional bisa terasa jauh lebih menarik daripada sekadar menu yang muncul di meja makan.