5 Kuliner Suku Asli Indonesia yang Masih Memakai Teknik Masak Kuno

Indonesia punya banyak kuliner tradisional yang cara memasaknya jauh lebih unik daripada sekadar ditumis atau digoreng. Di sejumlah komunitas adat, teknik lama masih dipakai karena memang sesuai dengan bahan, lingkungan, dan kebiasaan hidup masyarakat setempat.
Menariknya, beberapa metode tersebut justru terasa relevan di tengah tren kuliner kekinian. Bambu dipakai sebagai wadah sekaligus alat masak, batu panas menjadi sumber panas, sementara asap kayu dipakai untuk mengolah sekaligus mengawetkan makanan. Kalau kamu suka kuliner yang punya cerita di balik prosesnya, lima makanan ini wajib kamu kenali.
1. Bakar batu dari masyarakat Papua Pegunungan

ilustrasi bakar batu (commons.wikimedia.org/ Keenan63) Bakar batu merupakan salah satu tradisi memasak yang dikenal luas di Papua, terutama masyarakat di wilayah pegunungan seperti Lembah Baliem. Tekniknya cukup unik karena makanan dimasak menggunakan batu yang dipanaskan hingga sangat panas, kemudian ditumpuk bersama bahan makanan dan ditutup agar panasnya bekerja dari berbagai sisi. Tradisi ini juga dikenal dengan nama berbeda di sejumlah daerah, seperti kit oba isogoa di Wamena dan gapiia di Paniai.
Bahan yang digunakan bisa berupa ubi, keladi, sayuran, ikan, atau daging sesuai tradisi dan wilayahnya. Setelah batu dipanaskan, bahan makanan disusun berlapis dengan daun, lalu ditutup dan dibiarkan matang. Cara seperti ini menarik karena proses memasaknya sangat bergantung pada panas batu, bukan kompor atau peralatan dapur modern.
2. Manok pansoh dari masyarakat Dayak

ilustrasi manok pansoh (istockphoto.com/ Bubbers13) Kalau kamu pernah melihat makanan yang dimasak langsung di dalam bambu, kemungkinan besar kamu akan tertarik dengan manok pansoh. Hidangan ini dikenal dalam tradisi masyarakat Dayak, termasuk Dayak Iban di Kalimantan Barat. Ayam atau ikan diberi bumbu, kemudian dimasukkan ke dalam bambu dan dimasak menggunakan api. Teknik pansoh sendiri secara sederhana memang merujuk pada memasak makanan di dalam bambu.
Bambu di sini bukan sekadar tempat menyimpan makanan. Tabung bambu menjadi bagian penting dari proses pemasakan karena bahan berada dalam ruang tertutup ketika dipanaskan. Tradisi ini juga masih dikaitkan dengan acara adat dan perayaan masyarakat Dayak. Jadi, kalau kamu menemukan manok pansoh dalam perjalanan kuliner ke Kalimantan, yang menarik bukan cuma rasa ayamnya, tetapi juga teknik memasak yang masih dipertahankan.
3. Pa'piong dari masyarakat Toraja

ilustrasi pa'piong (commons.wikimedia.org/ Lord Mountbatten) Pa'piong merupakan salah satu kuliner tradisional Toraja yang punya cara masak cukup unik. Daging, ikan, atau bahan lain dicampur dengan bumbu dan daun miana, lalu dimasukkan ke dalam batang bambu sebelum dipanggang di atas api. Penggunaan bambu sebagai wadah memasak membuat pa'piong punya karakter yang berbeda dari masakan yang dimasak menggunakan panci biasa.
Teknik ini juga masih berkaitan dengan kehidupan adat masyarakat Toraja. Pa'piong dapat ditemukan dalam berbagai acara dan perayaan tradisional, dengan jenis bahan yang menyesuaikan hidangan yang disiapkan. Ada pula versi berbahan beras ketan dan beberapa variasi lainnya. Jadi, kalau kamu ingin mengenal kuliner Toraja lebih jauh, pa'piong bisa menjadi salah satu makanan yang menarik untuk dicari.
4. Ikan asar dari masyarakat Maluku

ilustrasi ikan asar (commons.wikimedia.org/ 26Isabella) Ikan asar punya teknik pengolahan yang kelihatannya sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian. Ikan seperti cakalang, tongkol, atau tuna diasapi menggunakan panas dan asap dari pembakaran kayu atau sabut kelapa. Di sejumlah wilayah Maluku, metode pengasapan tradisional ini masih dilakukan menggunakan tungku sederhana dan rak bambu.
Ada karakter khas dalam teknik pengasapan ikan asar. Ikan ditempatkan dengan posisi tertentu di dekat sumber panas supaya asap dan panas bisa mengenai bagian ikan secara merata. Selain memberi aroma khas, pengasapan juga menjadi metode pengolahan sekaligus pengawetan ikan yang sudah lama digunakan masyarakat Maluku.
5. Sagu bakar dari masyarakat Asmat

ilustrasi sagu bakar (commons.wikimedia.org/ Diyanto Sarira) Sagu punya posisi penting dalam kehidupan masyarakat Papua, termasuk masyarakat Asmat. Salah satu bentuk pengolahannya adalah sagu bakar, yang dibuat dari bahan dasar sagu lalu dipanggang menggunakan tungku tradisional dan kayu bakar. Teknik sederhana ini memperlihatkan bagaimana bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar bisa diolah dengan peralatan yang juga berasal dari alam.
Buat kamu yang terbiasa melihat sagu dalam bentuk papeda, sagu bakar menawarkan pengalaman yang berbeda. Teksturnya berubah setelah melalui proses pemanggangan, sementara aroma dari proses pembakaran ikut melekat pada makanan. Dalam kehidupan masyarakat Asmat, sagu juga punya kaitan erat dengan budaya dan kehidupan sosial sehingga pengolahannya lebih dari sekadar urusan mengisi perut.
Ada alasan kenapa teknik memasak lama masih bertahan sampai sekarang. Bukan cuma soal mempertahankan rasa, tetapi juga karena di dalamnya ada pengetahuan tentang bahan, api, alam, dan cara hidup yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Kalau suatu saat kamu berkesempatan mencicipi salah satunya, coba jangan buru-buru menilai dari tampilannya saja. Perhatikan juga bagaimana makanan itu dimasak dan cerita masyarakat di baliknya. Dari sana, kuliner tradisional bisa terasa jauh lebih menarik daripada sekadar menu yang muncul di meja makan.



















