Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mentega vs. Margarin: Mana Lebih Cocok untuk Memanggang di Oven 180°C?

Mentega vs. Margarin: Mana Lebih Cocok untuk Memanggang di Oven 180°C?
ilustrasi margarin (pexels.com/Jess Bailey Designs)

Kue Lebaran hampir selalu dipanggang di oven 180°C, suhu yang dianggap aman untuk nastar, kastengel, hingga putri salju. Di suhu ini, pilihan antara mentega atau margarin bukan cuma soal selera, melainkan soal hasil akhir yang benar-benar terasa di gigitan pertama. Banyak orang mengikuti resep tanpa berpikir ulang, padahal bahan kue yang dipakai bisa mengubah rasa, warna, sampai bentuk kue di loyang.

Kalau kue Lebaran sering melebar, terlalu pucat, atau justru keras, bisa jadi masalahnya bukan di oven, melainkan di bahan dasarnya. Supaya tidak salah langkah, berikut lima hal yang bisa dipertimbangkan untuk memakai mentega atau margarin sebelum mulai memanggang.

1. Mentega punya wangi yang langsung terasa sejak loyang keluar dari oven

ilustrasi mentega
ilustrasi mentega (unsplash.com/Sorin Gheorghita)

Saat loyang baru dikeluarkan dari oven 180°C, mentega langsung meninggalkan aroma gurih yang memenuhi dapur. Wangi ini tidak sekadar harum, tetapi memberi kesan kue lebih mahal dan kaya rasa meski resepnya sederhana. Pada nastar dan lidah kucing, aroma tersebut tetap terasa walau kue sudah dingin dan disimpan beberapa hari. Itu sebabnya banyak orang tetap memilih mentega ketika ingin suguhan terasa lebih istimewa.

Namun, mentega lebih cepat melunak di suhu ruang sehingga adonan mudah melebar saat dipanggang. Jika adonan terlalu lembek sejak awal, bentuk kue bisa berubah dan detail cetakan menghilang. Mentega juga membuat warna kue lebih cepat kecokelatan, jadi waktu panggang perlu diawasi agar tidak terlalu gelap.

2. Margarin menjaga bentuk kue tetap menarik meski dipanggang lama

ilustrasi kastengel
ilustrasi kastengel (vecteezy.com/Priyo Sanyoto)

Margarin sering dipilih ketika targetnya kue dengan bentuk rapi dan konsisten. Pada kue semprit, garis-garisnya cenderung bertahan hingga matang di suhu 180°C. Adonan terasa lebih mudah diatur, terutama bagi yang baru belajar membuat kue Lebaran. Hasilnya terlihat seragam di satu loyang tanpa banyak yang melebar.

Dari segi rasa, margarin memang tidak sewangi mentega, tetapi bukan berarti hambar. Pada kastengel dengan taburan keju melimpah atau nastar dengan selai manis, rasa margarin tetap menyatu tanpa terasa berat. Warna kue juga cenderung lebih cerah dan tidak cepat gosong. Jika prioritasnya tampilan rapi dan minim risiko gagal bentuk, margarin bisa jadi pilihan yang lebih praktis.

3. Mentega membuat bagian dalam kue terasa lebih lembut saat digigit

ilustrasi nastar
ilustrasi nastar (vecteezy.com/pana design)

Banyak orang menyukai nastar yang bagian luarnya tipis tetapi dalamnya terasa lembut dan sedikit lumer. Mentega sering memberi efek tersebut, terutama ketika dipanggang tepat di suhu 180°C tanpa overbake. Gigitan pertama terasa lebih halus dan tidak terlalu keras di bagian pinggir. Sensasi ini yang membuat kue terasa cepat habis di toples.

Meski begitu, tekstur lembut ini juga berarti kue lebih mudah hancur jika terlalu lama disimpan atau disusun bertumpuk. Untuk kue tipis seperti lidah kucing, hasilnya bisa terasa lebih rapuh. Karena itu, mentega cocok untuk kue yang ingin langsung disajikan atau dinikmati dalam waktu dekat.

4. Margarin memberi hasil renyah yang tahan lebih lama di toples

ilustrasi margarin
ilustrasi margarin (pexels.com/Felicity Tai)

Jika ingin kue tetap renyah sampai hari raya tiba, margarin sering memberi hasil yang lebih konsisten. Setelah dipanggang di oven 180°C dan didinginkan sempurna, teksturnya terasa lebih kokoh saat digigit. Kue tidak mudah melempem selama penyimpanan tertutup rapat. Ini penting terutama jika membuat kue dalam jumlah banyak beberapa hari sebelumnya.

Rasa yang dihasilkan memang lebih ringan, tetapi justru itu yang membuatnya tidak cepat terasa enek. Untuk kue tipis dan kering seperti sagu keju, margarin membantu menjaga kerenyahan tanpa perlu tambahan bahan lain. Hasilnya lebih oke saat disimpan, sehingga tidak perlu khawatir tekstur berubah drastis sebelum disajikan.

5. Campuran mentega dan margarin memberi hasil yang lebih seimbang

ilustrasi campuran mentega dan margarin
ilustrasi campuran mentega dan margarin (pexels.com/Taryn Elliott)

Banyak yang membuat kue Lebaran tidak memilih salah satu antara margarin atau mentega, melainkan menggabungkan keduanya. Campuran ini biasanya menghasilkan aroma yang cukup harum tanpa membuat bentuk kue terlalu melebar. Bentuk tetap terjaga, sementara rasa tidak terasa datar. Kombinasi ini sering dipakai untuk nastar dalam jumlah besar agar hasilnya aman dan tetap enak.

Perbandingan bisa disesuaikan, misalnya lebih banyak mentega jika ingin wangi dominan, atau lebih banyak margarin jika mengejar bentuk rapi. Dengan suhu oven tetap di 180°C, kamu bisa menyesuaikan karakter kue sesuai selera keluarga. Cara ini juga membantu menghindari rasa kue yang terlalu berat.

Pada akhirnya, pilihan mentega atau margarin untuk oven 180°C bergantung pada target kue Lebaran yang ingin dihasilkan. Jika mengejar aroma dan tekstur yang lembut, mentega lebih menonjol, sedangkan margarin unggul dalam bentuk hasil akhir kue serta daya simpan. Jadi, kamu tim margarin atau mentega, nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Food

See More

12 Daftar Makanan untuk Bekal Mudik Lebaran, Tahan Lama!

05 Mar 2026, 14:31 WIBFood