Perbedaan Kaldu Jamur vs. Kaldu Ayam, Mana yang Lebih Sehat?

Saat sedang berada di dapur dan melihat panci sup yang mengepul, kamu mungkin merasa masih ada yang kurang dari rasa. Kamu ingin menambahkan rasa gurih di dalamnya, tapi bingung memilih kaldu apa yang tepat. Ya, perbedaan kaldu jamur vs. kaldu ayam yang ada di pasaran memang kerap membuat bingung.
Dulu, kaldu ayam selalu menjadi primadona tunggal untuk menciptakan rasa gurih alami pada setiap jenis masakan Indonesia. Namun belakangan ini, kaldu jamur mulai naik daun karena dianggap sebagai alternatif penyedap rasa yang lebih aman dan bebas MSG. Mari cari tahu lebih dalam mana di antara keduanya yang paling pas untuk menemani proses masak kamu sehari-hari agar masakan tetap lezat dan sehat.
1. Mengenal bahan dasar di balik gurihnya kaldu

Dilihat dari bahan dasarnya, perbedaan antara kedua jenis kaldu ini sebenarnya sangat mencolok dan mudah kamu kenali. Kaldu jamur umumnya terbuat dari ekstrak jamur Saccharomyces cerevisiae yang dikeringkan, sedangkan kaldu ayam murni menggunakan rebusan daging, kulit, hingga tulang ayam sebagai bahan utamanya. Proses pembuatan kaldu ayam biasanya melibatkan perebusan lama untuk mengeluarkan sari pati nutrisi dan lemak yang memberikan rasa gurih yang sangat khas.
Sementara itu, kaldu jamur diproses melalui teknologi fermentasi yang kemudian dinonaktifkan dengan suhu panas agar menjadi bubuk atau butiran. Karena berasal dari sumber yang berbeda, profil rasa yang dihasilkan pun memiliki karakteristik yang unik di lidah. Kaldu ayam cenderung memberikan rasa gurih yang "berat" dan berminyak, sedangkan kaldu jamur memberikan sensasi rasa umami yang lebih ringan namun tetap memperkuat rasa asli bahan masakan lainnya.
2. Segi kesehatan dan kandungan nutrisi di dalamnya

Jika berbicara dari segi kesehatan, kaldu jamur kerap dianggap lebih unggul bagi kamu yang sedang membatasi asupan kalori dan lemak. Hal ini dikarenakan kaldu jamur terbuat dari ekstrak ragi jamur yang tumbuh di media kaya gula seperti tebu atau bit, sehingga secara alami rendah lemak dan bebas kolesterol. Per satu sendok makan, kaldu jamur hanya mengandung sekitar 34 Kkal, tetapi sudah dilengkapi dengan 5 gram protein, serat, kalsium, serta deretan vitamin B kompleks seperti B12 (Kobalamin), B6 (Piridoksin), dan Niacin.
Di sisi lain, kaldu ayam juga tak kalah bermanfaat karena merupakan sumber mineral alami yang sangat lengkap bagi tubuh kamu. Dalam satu porsi gelas kaldu ayam, terdapat kandungan asam amino, Vitamin K2, Omega 3, serta mineral penting seperti magnesium, fosfor, zinc, dan selenium yang baik untuk imunitas. Meski memiliki sedikit kandungan lemak hewani, kaldu ayam tetap menjadi pilihan favorit untuk membantu masa pemulihan saat sakit karena sifatnya yang menghangatkan dan padat nutrisi, kok.
3. Kaldu jamur sebagai solusi diet dan gaya hidup vegan

Bagi kamu yang sedang menjalani gaya hidup vegan atau vegetarian, kaldu jamur tentu menjadi penyelamat karena sama sekali tidak menggunakan unsur hewani. Keunggulan lainnya adalah sifatnya yang bebas gluten dan bebas susu, sehingga sangat aman dipakai untuk anggota keluarga yang memiliki alergi makanan tertentu. Kaldu jamur juga sering disebut sebagai "keju vegan" karena bentuknya yang berupa butiran kuning dan memiliki aroma yang sekilas mirip dengan keju parmesan.
Selain itu, kaldu jamur mengandung antioksidan tinggi yang berasal dari vitamin A dan vitamin C untuk melindungi tubuh kamu dari radikal bebas. Kandungan selenium di dalamnya juga berfungsi efektif dalam mencegah kerusakan sel yang berisiko memicu penyakit kronis seperti kanker, lho. Dengan harga yang cukup terjangkau, yakni sekitar Rp11.000 hingga Rp13.000 per 100 gram, kamu sudah bisa mendapatkan penyedap rasa berkualitas tinggi yang kaya akan protein nabati.
4. Keunggulan kaldu ayam untuk nutrisi tradisional

Meskipun kaldu jamur populer, kaldu ayam tetap memiliki tempat tersendiri, terutama bagi kamu yang mengutamakan asupan kolagen alami dari tulang hewan. Kolagen yang terlarut dalam kaldu ayam sangat baik untuk menjaga kesehatan sendi, elastisitas kulit, dan kesehatan pencernaan. Selain itu, rasa gurih dari kaldu ayam sulit digantikan jika kamu ingin memasak menu tradisional seperti soto, opor, atau bakso yang membutuhkan aroma kaldu hewani yang kuat.
Kaldu ayam juga mengandung zat besi dan selenium yang cukup tinggi untuk membantu mencegah anemia dan menjaga fungsi tiroid tetap optimal. Jika kamu membuat kaldu ayam sendiri di rumah, kamu bahkan bisa mengontrol kadar garamnya agar jauh lebih sehat dibandingkan penyedap instan. Jadi, bagi kamu yang tidak memiliki batasan diet khusus atau alergi terhadap produk hewani, kaldu ayam tetap menjadi sumber nutrisi yang sangat valid untuk dikonsumsi harian, kok.
5. Tips memilih kaldu sesuai jenis masakan

Kamu mungkin merasa bingung harus meraih kaldu yang mana saat sudah berada di depan kompor saat memasak. Meski keduanya sama-sama memberikan rasa gurih, kecocokan antara jenis kaldu dengan bahan utama masakan sangat menentukan hasil akhir aroma serta kelezatan hidangan tersebut, lho. Nah, agar gak salah pilih, simak tips berikut!
1. Masakan berbasis daging atau unggas
Jika kamu berencana memasak hidangan berat seperti soto, opor, atau gulai, maka kaldu ayam adalah pilihan yang paling tepat. Lemak alami dari ayam akan menyatu sempurna dengan rempah-rempah tradisional sehingga menciptakan kuah yang kental dan kaya rasa. Hal ini akan memberikan sensasi rasa yang lebih autentik dan memuaskan bagi lidah keluarga Indonesia.
2. Tumisan sayur dan hidangan vegetarian
Kaldu jamur sangat disarankan bagi kamu yang ingin memasak hidangan ringan seperti tumis kangkung, capcay, atau masakan berbahan dasar nabati lainnya. Rasa umami dari jamur gak akan menutupi kesegaran asli dari sayuran, melainkan justru memperkuat profil rasanya secara lembut. Pemakaian kaldu jamur juga menjadi solusi terbaik jika kamu sedang menjalani pola makan sehat atau diet tanpa produk hewani, lho.
3. Sup bening untuk pemulihan
Ketika kamu sedang menyiapkan sup untuk anak-anak atau anggota keluarga yang sedang dalam masa pemulihan, pertimbangkan untuk memilih kaldu berdasarkan kebutuhan energi mereka. Kaldu ayam kaya akan protein dan kolagen yang membantu mempercepat proses penyembuhan jaringan tubuh secara optimal. Sementara itu, kaldu jamur dapat membantu meningkatkan nafsu makan melalui aroma gurihnya yang gak terlalu menyengat bagi pencernaan yang sensitif.
Jangan lupa untuk selalu membaca label kemasan sebelum membeli, karena setiap merek mungkin memiliki tambahan kandungan garam atau gula yang berbeda-beda, ya. Pastikan produk yang kamu pilih tidak mengandung pengawet berlebihan agar manfaat nutrisinya tetap terjaga dengan baik. Dengan memahami perbedaan kaldu jamur vs kaldu ayam, kini kamu bisa lebih bijak dalam berkreasi di dapur untuk menyajikan hidangan yang tidak hanya lezat, tapi juga menyehatkan bagi seluruh keluarga.


















