6 Makanan Hangat Khas Jepang yang Dinikmati saat Musim Dingin

Seperti halnya negara empat musim yang lain, musim dingin (winter) di Jepang sangat menusuk tulang. Musim dingin di Jepang umumnya berlangsung dari bulan Desember hingga Februari, dengan suhu rata-rata 10-12 derajat Celsius di siang hari, lalu turun menjadi 2-5 derajat Celsius di malam dan pagi hari.
Untuk menghangatkan badan, ada beberapa makanan yang biasanya dikonsumsi oleh penduduk asli Jepang. Ada yang bisa menebak, kira-kira apa saja? Berikut ini makanan hangat khas Jepang yang biasa dinikmati saat musim dingin.
1. Shabu-shabu

Mengutip Japan Centre, shabu-shabu adalah hotpot berisi air mendidih atau kaldu sup dashi. Kemudian, ditambahkan sayuran, biasanya kubis, wortel, atau jamur, dan irisan daging sapi.
Perbedaan shabu-shabu dan sukiyaki terletak pada ketebalan dagingnya. Ketebalan daging shabu-shabu hanya 1 milimeter (mm), sedangkan sukiyaki lebih tebal, yaitu antara 1,5 hingga 3 mm.
Selain itu, daging shabu-shabu tidak direbus lama, melainkan hanya dicelupkan sebentar di kuah yang mendidih, kemudian langsung dimakan.
2. Sukiyaki

Dilansir Japan Web Magazine, sukiyaki adalah hidangan yang sudah ada sejak era Meiji (1868-1912). Simpelnya, ini adalah irisan daging, protein, seperti tahu, dan sayuran yang direbus dalam kuah sukiyaki, terbuat dari kecap asin, gula merah, mirin, dan sake.
Apa bedanya dengan shabu-shabu? Daging sukiyaki direbus lebih lama, lalu diambil dan dicelupkan ke dalam telur mentah sebelum dimakan. Rasa asin, manis, dan creamy berpadu menjadi satu.
3. Nabe

Lagi-lagi makanan berkuah. Hampir mirip dengan shabu-shabu dan sukiyaki, bedanya nabe menggunakan seafood, seperti udang, kerang, scallop, hingga ikan salmon, cod, turbot, dan sea bream.
Selain itu, nabe tidak dimasak di panci, melainkan di wadah tembikar. Dilansir Live Japan, ada beberapa jenis nabe, yaitu tori nabe (menggunakan kaldu ayam yang gurih), kani nabe (menggunakan kepiting), serta chanko nabe (kaya protein dan biasanya disantap oleh pegulat sumo).
4. Yudofu

Selanjutnya adalah yudofu, tahu sutra yang direbus perlahan dalam kuah kombu atau rumput laut. Setelah matang, tahu dimakan dengan irisan daun bawang, kecap asin, dan wasabi yang diparut.
Yudofu berasal dari Kyoto yang biasanya dinikmati oleh para biksu Buddha sebagai bagian dari diet vegetarian (shojin ryori). Agar semakin lezat, gunakan tahu paling segar dan berkualitas tinggi.
5. Oden

Oden di Jepang tidak sama dengan odeng di Korea. Disajikan di donabe (pot tanah liat), di dalamnya terdapat fish cake, tahu goreng, telur rebus, konyaku, kombu, dan daikon (lobak putih) yang direbus dalam dashi (kaldu) berbahan dasar kecap asin.
Selain menjadi hidangan khas musim dingin, oden biasanya disantap oleh pegawai kantoran Jepang di malam hari sepulang bekerja, ditemani dengan sake, minuman beralkohol dari fermentasi beras.
6. Yaki imo

Yang terakhir adalah yaki imo atau ubi jalar panggang. Rasanya manis, creamy, dan mengenyangkan. Kenikmatannya semakin bertambah jika dimakan dalam keadaan panas.
Di mana kita bisa mendapatkannya? Biasanya, yaki imo dijual di depan toko kelontong atau di food truck yang mengelilingi kota. Harganya sekitar 400 yen (Rp45 ribu) untuk ukuran sedang dan 500 yen (Rp56 ribu) untuk ukuran besar.
Beberapa makanan hangat khas Jepang di atas biasanya dikonsumsi saat musim dingin. Menurutmu, mana yang paling menggiurkan?