Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Bahan Pangan Lokal Termasuk dalam Barang Inferior?
ilustrasi nasi tiwul (commons.wikimedia.org/Hariadhi)
  • Barang inferior dalam ekonomi bukan berarti berkualitas rendah, melainkan barang yang permintaannya turun saat pendapatan konsumen meningkat; indikatornya adalah elastisitas pendapatan permintaan bernilai negatif.
  • Pola konsumsi pangan lokal seperti jagung, singkong, ubi, dan sagu dapat menurun seiring pergeseran ke beras, mi, atau pangan lain, dipengaruhi pendapatan serta selera, harga, kemudahan, kebiasaan, dan promosi.
  • Tidak semua pangan lokal otomatis barang inferior; statusnya harus dibuktikan lewat data konsumsi dan pendapatan, serta dapat berbeda menurut komoditas, kelompok konsumen, wilayah, dan bentuk produk olahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mendengar istilah barang inferior, orang mungkin langsung menganggapnya sebagai barang berkualitas rendah. Padahal, dalam ekonomi, istilah tersebut tidak berkaitan dengan mutu suatu produk. Barang inferior merujuk pada barang yang permintaannya cenderung menurun ketika pendapatan konsumen meningkat karena konsumen beralih ke pilihan lain.

Konsep ini menarik jika dikaitkan dengan bahan pangan lokal di Indonesia. Singkong, ubi jalar, jagung, sagu, hingga berbagai pangan pokok daerah kerap menghadapi perubahan pola konsumsi ketika masyarakat mengalami peningkatan pendapatan. Lantas, apakah kondisi tersebut cukup untuk menyebut bahan pangan lokal termasuk dalam barang inferior? Berikut penjelasannya.

1. Memahami barang inferior dalam teori ekonomi mikro

pergeseran (shift) kurva permintaan vs pergerakan (move) kurva permintaan maupun penawaran (commons.wikimedia.org/OpenStax College)

Dalam teori ekonomi, hubungan antara pendapatan dan jumlah barang yang dikonsumsi dapat dilihat melalui elastisitas pendapatan permintaan. Jika pendapatan meningkat lalu permintaan suatu barang ikut meningkat, barang tersebut termasuk barang normal. Sebaliknya, jika pendapatan meningkat tetapi permintaannya justru menurun, barang tersebut dapat dikategorikan sebagai barang inferior.

Artinya, predikat inferior tidak menunjukkan bahwa suatu produk memiliki kualitas buruk. Sebuah barang dapat saja berkualitas baik, tetapi tetap termasuk barang inferior jika konsumsinya menurun ketika pendapatan konsumen meningkat. Kondisi tersebut biasanya terjadi karena konsumen memiliki pilihan substitusi yang lebih mahal atau dianggap lebih menarik ketika daya belinya meningkat.

Dalam konteks pangan, pola tersebut cukup masuk akal. Rumah tangga berpendapatan lebih rendah mungkin lebih banyak mengandalkan sumber karbohidrat yang murah dan mudah diperoleh. Ketika pendapatan meningkat, sebagian pengeluaran dapat bergeser ke daging, buah, makanan olahan, restoran, atau produk pangan lain yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. USDA Economic Research Service mencatat bahwa elastisitas pendapatan negatif cukup umum ditemukan pada pangan pokok di negara berkembang.

2. Nilai elastisitas yang menentukan barang inferior

ilustrasi uang (unsplash.com.Mufid Majnun)

Untuk mengetahui apakah suatu pangan termasuk barang inferior, para ekonom menggunakan elastisitas pendapatan permintaan (income elasticity of demand/YED). Indikator ini mengukur seberapa besar perubahan jumlah barang yang diminta ketika pendapatan konsumen berubah. Rumus sederhananya adalah:

YED = % perubahan jumlah yang diminta ÷ % perubahan pendapatan

Menurut USDA Economic Research Service, nilai YED negatif menunjukkan bahwa barang tersebut masuk ke dalam kategori barang inferior. Sebaliknya, nilai positif menunjukkan bahwa barang adalah normal goods. USDA juga mencatat bahwa elastisitas pendapatan negatif cukup umum ditemukan pada pangan pokok di negara berkembang karena ketika pendapatan meningkat, konsumen dapat mengganti pangan pokok tradisional seperti beras, singkong, jagung, gandum, atau kentang dengan pangan bernilai lebih tinggi, seperti daging, buah, dan makanan olahan

Sebagai contoh, jika nilai YED = -0,2, maka ketika pendapatan naik sebesar 10 persen, jumlah barang yang diminta turun sebesar 2 persen. Semakin besar nilai negatifnya, semakin sensitif permintaan barang tersebut terhadap perubahan pendapatan. Prinsip dasarnya adalah semakin tinggi pendapatan, semakin besar kecenderungan konsumen untuk mengurangi konsumsi barang tersebut dan beralih ke alternatif lain.

Kategorisasi nilai YED dan karakteristik barang

Nilai YED

Kategori

Interpretasi

YED < 0

Barang inferior (inferior goods)

Pendapatan naik maka permintaan turun

YED = 0

Netral terhadap pendapatan

Perubahan pendapatan tidak mengubah permintaan

0 < YED < 1

Barang normal (normal goods)

Pendapatan naik maka permintaan naik lebih lambat

YED > 1

Barang superior (mewah)

Pendapatan naik maka permintaan naik lebih cepat

Kategori nilai YED mengacu pada USDA Economic Research Service

Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak ada satu angka YED yang berlaku untuk semua barang inferior. Syarat utamanya adalah nilainya berada di bawah nol (YED < 0). Jadi, nilai -0,1, -0,5, maupun -1,5 sama-sama menunjukkan karakteristik barang inferior (inferior good), tetapi kekuatan respons permintaannya berbeda.

Klasifikasi tersebut memperlihatkan mengapa istilah inferior tidak boleh disamakan dengan murah atau berkualitas rendah. Sebuah pangan dapat memiliki kualitas yang baik, tetapi tetap tergolong inferior jika konsumsinya secara empiris menurun ketika pendapatan meningkat. Sebaliknya, pangan lokal yang semakin banyak dikonsumsi ketika pendapatan masyarakat meningkat justru tergolong barang normal.

3. Pangan lokal memang mengalami perubahan pola konsumsi

singkong (unsplash.com/Daniel Dan)

Indonesia sebenarnya memiliki keragaman pangan lokal yang sangat besar. Jagung, ubi kayu, ubi jalar, sagu, dan berbagai sumber pangan lainnya telah menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat di sejumlah daerah. Namun, perkembangan pola konsumsi nasional menunjukkan bahwa keberadaan pangan lokal tidak selalu diikuti oleh peningkatan konsumsinya.

Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian menunjukkan bahwa pola pangan lokal cenderung ditinggalkan dan bergeser menuju pola konsumsi beras maupun mi. Bahkan, perubahan tersebut juga terjadi di sejumlah wilayah yang sebelumnya memiliki pola pangan pokok berbasis pangan lokal. Beras menjadi salah satu contoh penting dalam fenomena tersebut.

Beras memiliki posisi yang sangat kuat dalam pola makan masyarakat Indonesia, sementara jagung dan umbi-umbian cenderung semakin kurang diminati. Faktor yang memengaruhi kondisi tersebut bukan hanya pendapatan, tetapi juga selera, kemudahan pengolahan, harga, kebiasaan makan, teknologi pengolahan, hingga promosi produk pangan.

4. Tidak semua pangan lokal bisa disebut barang inferior

ilustrasi keripik singkong (unsplash.com/Zulfahmi Al Ridhawi)

Pangan lokal bukan satu jenis barang homogen, sehingga tidak tepat jika seluruhnya diberi label inferior. Misalnya, konsumsi singkong sebagai pangan pokok mungkin menunjukkan hubungan negatif terhadap pendapatan pada kelompok masyarakat tertentu. Namun, produk olahan singkong seperti keripik premium, tepung mocaf, atau makanan berbasis singkong yang dipasarkan sebagai produk bernilai tambah bisa memiliki perilaku permintaan yang berbeda.

Hal serupa berlaku pada sagu. Di daerah tertentu, sagu merupakan pangan pokok yang telah dikonsumsi secara turun-temurun. Namun, ketika dikembangkan menjadi produk olahan, dikemas secara modern, atau diposisikan sebagai pangan khas dan bernilai budaya, konsumsinya tidak otomatis akan turun ketika pendapatan meningkat. Karena itu, status inferior atau normal melekat pada perilaku permintaannya, bukan pada label “pangan lokal” itu sendiri. Bahkan barang yang sama dapat memiliki status berbeda bagi kelompok konsumen atau kondisi pasar yang berbeda.

5. Benarkah pangan lokal adalah barang inferior?

ilustrasi suasana di pasar jajanan pagi (pexels.com/Daniel Lee)

Jawabannya tidak bisa digeneralisasi. Beberapa pangan lokal atau pangan pokok tradisional memang berpotensi menunjukkan karakteristik inferior good jika peningkatan pendapatan konsumen menyebabkan permintaannya menurun. Namun, penetapan status tersebut harus dibuktikan melalui data mengenai hubungan pendapatan dan konsumsi, bukan hanya karena suatu pangan dianggap murah atau dikonsumsi oleh masyarakat berpendapatan rendah.

Justru, fenomena ini membuka pertanyaan yang lebih menarik soal apakah peningkatan pendapatan masyarakat Indonesia akan semakin menjauhkan konsumen dari pangan lokal, atau justru menciptakan pasar baru bagi pangan lokal yang bernilai tambah? Jika yang terjadi adalah yang kedua, maka tantangannya bukan sekadar mempertahankan pangan lokal sebagai makanan tradisional, tetapi mengubahnya menjadi produk yang tetap relevan ketika selera dan daya beli konsumen berubah.

Menyebut bahan pangan lokal termasuk dalam barang inferior juga perlu dilakukan secara hati-hati. Istilah “Inferior” dalam ekonomi bukan berarti rendah kualitas, melainkan menggambarkan respons permintaan terhadap perubahan pendapatan. Dalam konteks pangan lokal Indonesia, respons tersebut masih sangat bergantung pada komoditas, konsumen, wilayah, dan bagaimana produk tersebut dikembangkan dan dipasarkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article