ilustrasi uang (unsplash.com.Mufid Majnun)
Untuk mengetahui apakah suatu pangan termasuk barang inferior, para ekonom menggunakan elastisitas pendapatan permintaan (income elasticity of demand/YED). Indikator ini mengukur seberapa besar perubahan jumlah barang yang diminta ketika pendapatan konsumen berubah. Rumus sederhananya adalah:
YED = % perubahan jumlah yang diminta ÷ % perubahan pendapatan
Menurut USDA Economic Research Service, nilai YED negatif menunjukkan bahwa barang tersebut masuk ke dalam kategori barang inferior. Sebaliknya, nilai positif menunjukkan bahwa barang adalah normal goods. USDA juga mencatat bahwa elastisitas pendapatan negatif cukup umum ditemukan pada pangan pokok di negara berkembang karena ketika pendapatan meningkat, konsumen dapat mengganti pangan pokok tradisional seperti beras, singkong, jagung, gandum, atau kentang dengan pangan bernilai lebih tinggi, seperti daging, buah, dan makanan olahan
Sebagai contoh, jika nilai YED = -0,2, maka ketika pendapatan naik sebesar 10 persen, jumlah barang yang diminta turun sebesar 2 persen. Semakin besar nilai negatifnya, semakin sensitif permintaan barang tersebut terhadap perubahan pendapatan. Prinsip dasarnya adalah semakin tinggi pendapatan, semakin besar kecenderungan konsumen untuk mengurangi konsumsi barang tersebut dan beralih ke alternatif lain.
Kategorisasi nilai YED dan karakteristik barang
Nilai YED | Kategori | Interpretasi |
YED < 0 | Barang inferior (inferior goods) | Pendapatan naik maka permintaan turun |
YED = 0 | Netral terhadap pendapatan | Perubahan pendapatan tidak mengubah permintaan |
0 < YED < 1 | Barang normal (normal goods) | Pendapatan naik maka permintaan naik lebih lambat |
YED > 1 | Barang superior (mewah) | Pendapatan naik maka permintaan naik lebih cepat |
Kategori nilai YED mengacu pada USDA Economic Research ServiceNamun, perlu diperhatikan bahwa tidak ada satu angka YED yang berlaku untuk semua barang inferior. Syarat utamanya adalah nilainya berada di bawah nol (YED < 0). Jadi, nilai -0,1, -0,5, maupun -1,5 sama-sama menunjukkan karakteristik barang inferior (inferior good), tetapi kekuatan respons permintaannya berbeda.
Klasifikasi tersebut memperlihatkan mengapa istilah inferior tidak boleh disamakan dengan murah atau berkualitas rendah. Sebuah pangan dapat memiliki kualitas yang baik, tetapi tetap tergolong inferior jika konsumsinya secara empiris menurun ketika pendapatan meningkat. Sebaliknya, pangan lokal yang semakin banyak dikonsumsi ketika pendapatan masyarakat meningkat justru tergolong barang normal.