Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Daging Menjadi Alot setelah Dimasak Terlalu Lama?
ilustrasi memasak daging (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Serat protein mengencang akibat panas dan memeras keluar cairan alami daging.

  • Kandungan air di dalam daging menguap secara berlebihan sehingga teksturnya menjadi kering.

  • Potongan daging yang rendah kolagen, seperti has dalam, akan menjadi keras jika dimasak terlalu lama.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang memasak daging dalam waktu cukup lama dengan harapan daging jadi matang sempurna dan lebih empuk. Sayangnya, tak jarang yang terjadi justru sebaliknya. Daging malah terasa keras, alot, dan butuh tenaga ekstra untuk mengunyahnya. Hal seperti ini cukup sering dialami, terutama oleh orang yang baru belajar memasak.

Banyak orang mengira semakin lama daging dimasak, teksturnya pasti semakin lembut. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu benar. Jenis daging, bagian tubuh hewan yang digunakan, hingga cara memasak sangat menentukan hasil akhir. Kalau tekniknya salah, daging justru bisa kehilangan kelembapan dan berubah menjadi keras. Lantas, sebenarnya kenapa daging bisa menjadi alot setelah dimasak terlalu lama?

1. Protein pada daging mengencang saat terkena panas

ilustrasi memasak steik (pixabay.com/lilo401)

Daging tersusun atas protein, terutama aktin dan miosin, yang membentuk serat otot. Saat terkena panas, protein-protein ini mulai berubah struktur atau mengalami denaturasi. Awalnya, proses ini membuat daging matang dan aman dikonsumsi.

Namun, jika pemanasan terus berlangsung, serat-serat protein akan semakin mengencang. Semakin rapat serat tersebut, semakin banyak cairan alami di dalam daging yang terdorong keluar. Akibatnya, daging menjadi lebih kering dan teksturnya terasa alot ketika digigit. Inilah alasan steik yang dimasak terlalu matang sering terasa lebih keras dibandingkan steik dengan tingkat kematangan medium atau medium rare.

2. Cairan alami daging ikut menguap

ilustrasi daging sapi (pixabay.com/Goumbik)

Selain protein yang mengencang, memasak terlalu lama juga membuat kandungan air di dalam daging terus berkurang. Padahal, air berperan besar dalam menjaga tekstur daging tetap juicy dan lembut. Saat air menguap secara berlebihan, serat otot kehilangan kelembapannya. Daging akhirnya menjadi lebih padat dan sulit dikunyah. Kendati masih memiliki rasa yang enak, sensasi saat memakannya tidak lagi senikmat daging yang dimasak dengan waktu yang tepat. Karena itulah, koki profesional sering memperhatikan suhu dan waktu memasak dengan sangat teliti, bukan hanya sekadar memastikan daging matang.

3. Tidak semua bagian daging cocok dimasak lama

ilustrasi daging sapi bagian rib eye (pixabay.com/Reinhard Thrainer)

Menariknya, memasak lama tidak selalu menjadi kesalahan. Ada beberapa bagian daging yang justru menjadi sangat empuk jika dimasak dalam waktu lama menggunakan api kecil. Bagian seperti sengkel, sandung lamur, atau buntut memiliki banyak jaringan ikat berupa kolagen. Saat dimasak perlahan selama beberapa jam, kolagen akan berubah menjadi gelatin yang membuat tekstur daging terasa lembut dan kaya rasa.

Sebaliknya, bagian yang memang sudah empuk, seperti has dalam atau tenderloin, tidak memiliki banyak kolagen. Jika dimasak terlalu lama, cairannya akan habis sebelum sempat mendapatkan manfaat dari proses tersebut. Hasil akhirnya justru keras dan kering. Jadi, durasi memasak sebaiknya disesuaikan dengan jenis potongan daging yang digunakan.

4. Suhu memasak juga berpengaruh

ilustrasi memasak daging (unsplash.com/Bernard Tuck)

Selain durasi memasak, suhu juga memainkan peran penting. Memasak dengan api yang terlalu besar membuat bagian luar daging cepat kehilangan air, sementara bagian dalam belum tentu matang secara merata. Sebaliknya, untuk potongan daging yang kaya kolagen, memasak menggunakan suhu rendah dalam waktu lama jauh lebih efektif. Teknik seperti slow cooking atau braising memungkinkan kolagen perlahan berubah menjadi gelatin tanpa membuat serat daging kehilangan terlalu banyak kelembapan. Artinya, kombinasi suhu dan waktu jauh lebih penting dibandingkan hanya memperpanjang durasi memasak.

5. Gunakan teknik memasak yang sesuai

ilustrasi sup daging sapi (unsplash.com/Vy Huynh)

Kalau ingin mendapatkan daging yang empuk, jangan hanya mengandalkan waktu memasak. Pilih teknik yang sesuai dengan jenis potongannya. Untuk potongan yang sudah empuk, seperti sirloin atau tenderloin, gunakan metode cepat seperti dipanggang, ditumis, atau dibakar dengan waktu singkat. Sebaliknya, untuk bagian yang banyak mengandung jaringan ikat, gunakan teknik merebus perlahan, semur, atau slow cooking agar kolagen sempat berubah menjadi gelatin. Selain itu, membiarkan daging beristirahat beberapa menit setelah dimasak juga membantu cairan di dalamnya menyebar kembali. Cara sederhana ini membuat daging terasa lebih juicy saat dipotong.

Pada akhirnya, daging menjadi alot setelah dimasak terlalu lama karena serat proteinnya terus mengencang dan kehilangan banyak cairan alami. Meski demikian, aturan ini tidak berlaku untuk semua jenis potongan. Beberapa bagian justru membutuhkan waktu memasak yang panjang agar kolagennya berubah menjadi gelatin dan menghasilkan tekstur yang lembut. Jadi, rahasia daging empuk bukan sekadar memasaknya lebih lama, melainkan memilih teknik, suhu, dan durasi yang paling sesuai dengan jenis daging yang digunakan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article