Comscore Tracker

Empati Berlebih Sebabkan Gangguan Kecemasan? Ini Penjelasannya

Pentingnya manajemen emosi dengan tepat

Ketika mendengar kata "empati" apa yang pertama kali terlintas dalam pikiranmu? Sebuah kemampuan untuk merasakan masalah orang lain dan mencoba membantu menyelesaikannya dengan menempatkan perspektif orang tersebut?

Secara sederhana, empati dapat diartikan sebagai pemahaman akan perasaan orang lain dan melihat masalah dari sudut pandang orang tersebut. Hal ini sebenarnya penting untuk dikembangkan dan dipupuk sejak dini agar dapat mendorong rasa welas asih sebagai makhluk sosial.

Seseorang yang memiliki empati tinggi kemungkinan besar lebih mudah menyerap emosi orang-orang di sekitarnya. Ketika orang di sekitar merasakan kebahagiaan, orang dengan empati tinggi juga akan merasa bahagia, begitu pun sebaliknya.

Akan tetapi, empati yang berlebihan tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan efek yang kurang baik bagi kesehatan mental, yakni gangguan kecemasan.

Penasaran bagaimana hal ini bisa saling berkaitan? Simak ulasannya berikut ini.

1. Jenis empati yang sering dikaitkan dengan gangguan kecemasan

Empati Berlebih Sebabkan Gangguan Kecemasan? Ini Penjelasannyapexels.com/Sơn Bờm

Penting untuk mengetahui terlebih dahulu jenis empati yang erat kaitannya dengan gangguan kecemasan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dan memahami hubungan antara empati dan gangguan kecemasan.

Melansir Healthline, terdapat dua jenis empati yang memiliki korelasi dengan gangguan kecemasan:

  • Empati kognitif: digambarkan sebagai kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain. Contoh empati kognitif diwujudkan dengan emosi yang direpresentasikan melalui nada suara atau bahasa tubuh.
  • Empati afektif: empati jenis ini umumnya terjadi secara otomatis, dapat menumbuhkan rasa welas asih, dan memotivasi diri sendiri untuk memberikan dukungan kepada orang lain secara emosional. Empati afektif sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan berbagi apa yang dirasakan orang lain.

2. Empati dan gangguan kecemasan umum

Empati Berlebih Sebabkan Gangguan Kecemasan? Ini Penjelasannyapexels.com/Ekrulila

Individu dengan gangguan kecemasan umum cenderung terjebak dalam pemikiran negatif seperti khawatir berlebih akan masa depan, takut pilihannya mempengaruhi orang lain, dan bahkan merasakan ketakutan lain yang lebih kompleks.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Anxiety, Stress, & Coping An International Journal tahun 2018 mencoba mengeksplorasi hubungan antara kecemasan dan empati pada remaja yang dirawat di rumah sakit jiwa selama 6 tahun.

Dalam proses penelitian tersebut, para partisipan menyelesaikan tiga penilaian laporan diri mengenai empati, kecemasan, dan depresi. Hasilnya menunjukkan korelasi positif antara empati afektif dan kecemasan (ketika satu aspek meningkat, aspek lainnya juga mengalami peningkatan).

Hal tersebut mungkin terjadi karena emosi sering kali dapat memicu terjadinya stres. Sederhananya, ketika individu merasa tidak mampu membantu orang lain apalagi orang tersebut sangat dicintainya, individu yang bersangkutan dapat merasa sangat bersalah.

Rasa bersalah dapat memicu kekhawatiran khususnya perihal kekecewaan atau penolakan. Persepsi tersebut kemudian dapat membebani hubungan secara sosial sehingga berakibat pada penarikan diri atau isolasi.

Baca Juga: 7 Makanan yang Meredakan Gangguan Kecemasan, Dapat Membuatmu Rileks

3. Empati dan gangguan kecemasan sosial

Empati Berlebih Sebabkan Gangguan Kecemasan? Ini Penjelasannyafreepik.com/pressfoto

Penelitian yang sama di tahun 2018 dalam Anxiety, Stress, & Coping An International Journal menemukan dukungan terkait korelasi negatif antara kecemasan sosial dan empati kognitif.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa partisipan dengan empati kognitif rendah cenderung memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi. Sementara, partisipan dengan empati afektif tinggi dan empati kognitif rendah tampaknya mengalami kecemasan sosial yang lebih parah.

Empati kognitif yang lebih rendah dapat membuat individu kesulitan menentukan arah dan kedudukan dalam situasi sosial serta kesulitan bergaul dengan orang lain. Hal ini sering kali diawali dengan perasaan gugup ketika harus memulai interaksi sosial sehingga memperburuk tingkat kecemasan.

4. Penelitian yang berfokus pada pandangan lain

Empati Berlebih Sebabkan Gangguan Kecemasan? Ini Penjelasannyapexels.com/Juan Pablo Serrano Arenas

Sebuah studi yang dimuat dalam Israel Journal of Psychiatry and Related Sciences tahun 2011 menemukan pandangan berbeda mengenai hubungan antara kecemasan sosial dan empati.

Para peneliti menemukan fakta bahwa partisipan dengan kecemasan sosial yang lebih tinggi juga menunjukkan empati yang lebih besar. Namun, setelah menyesuaikan hasil perhitungan kecemasan umum, partisipan dengan kecemasan sosial yang lebih tinggi menunjukkan empati kognitif yang lebih besar (bukan empati afektif), hal ini bertentangan dengan hasil penelitian lainnya.

Temuan yang berbeda ini dapat terjadi karena kemungkinan penyebabnya adalah muara pengambilan perspektif dan komponen kunci dari empati kognitif.

Meskipun demikian, terdapat fakta menarik lain dalam studi tersebut, di mana peneliti menemukan bahwa individu dengan kecemasan sosial tinggi memiliki empati afektif yang lebih akurat dan empati kognitif yang kurang akurat.

Sementara itu, ahli lain juga menemukan hubungan potensial terkait empati dan depresi. 

Apabila kualitas empati lebih rendah, maka dapat menyebabkan depresi. Hal ini dapat dicontohkan ketika individu mengalami kesulitan berempati dengan orang lain dan merasa menjadi mengacau dalam interaksi sosial, maka memutuskan melakukan penghindaran terhadap orang lain akan lebih sering dilakukan. Imbasnya adalah individu tersebut dapat merasa kesepian atau frustrasi. Dua hal tersebut merupakan faktor risiko penyebab terjadinya depresi.

5. Cara meminimalkan empati berlebihan yang dapat berdampak pada gangguan kecemasan

Empati Berlebih Sebabkan Gangguan Kecemasan? Ini PenjelasannyaPexels.com/Elly Fairytale

Ketika empati berlebihan dirasa justru menimbulkan gangguan kecemasan, beberapa tips sederhana berikut dapat dipraktikkan untuk meminimalkannya:

  • Mempraktikkan penerimaan dengan penuh perhatian: terjebak dalam kesusahan akibat empati berlebihan dapat memengaruhi kemampuan untuk menawarkan dukungan. Oleh karena itu, penting melepaskan emosi secara sadar dengan menunjukkan belas kasih secara positif seperti menawarkan bantuan atau pengalihan perhatian.
  • Menetapkan batasan dan menghormatinya: menetapkan batasan di sekitar situasi yang membebani secara emosional dapat menurunkan risiko mencapai titik puncak masalah.
  • Perawatan diri juga harus dilakukan dengan seimbang: memastikan kualitas tidur atau istirahat yang cukup, memenuhi asupan nutrisi, dan jika diperlukan bisa menerapkan meditasi.
  • Jangan berlarut-larut terjebak dalam pikiran distorsi: merenungkan pengalaman dan emosi negatif mungkin dianggap sebagai solusi, namun sebenarnya justru dapat mempersulit diri untuk menemukan solusi.

Terkadang individu dapat meredakan beban emosi yang sering kali menyertai empati diri sendiri. Namun, ketika hal tersebut dirasa mulai menimbulkan gangguan kecemasan atau perasaan tertekan, jangan ragu berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental seperti psikolog, psikiater, atau terapis.

Ahli kesehatan jiwa dapat membantu mengidentifikasi hubungan antara empati dan gangguan kecemasan yang dirasakan klien. Kemudian, melalui intervensi seperti terapi, klien akan diajarkan untuk menetapkan batasan yang sehat, menawarkan dukungan dengan teknik mendengarkan secara aktif, perhatian penuh, pendekatan bermanfaat, serta mengajarkan keterampilan mengatasi masalah.

Baca Juga: Kenali 8 Gejala Fisik Gangguan Kecemasan atau Anxiety

Indriyani Photo Verified Writer Indriyani

Riset, data, dan kepenulisan ilmiah adalah hal yang menyenangkan untuk ditelisik. Kecintaan terhadap dunia kepenulisan ditorehkannya melalui bait-bait alinea. Business inquiries: indriyaniann124@gmail.com

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya