Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
8 Kesalahan Form Lari di Treadmill dan Cara Memperbaikinya
ilustrasi lari di gym (magnific.com/freepik)
  • Banyak pelari melakukan kesalahan umum di treadmill seperti overstriding, terlalu sering berpegangan, atau menunduk ke layar, yang dapat mengubah biomekanik tubuh dan meningkatkan risiko cedera.

  • Kesalahan form seperti langkah terlalu panjang, postur condong, atau pace terlalu cepat membuat otot dan sendi bekerja tidak efisien serta memperbesar tekanan pada lutut dan punggung.

  • Perbaikan dilakukan dengan menyesuaikan langkah, menjaga postur tegak rileks, menaikkan kecepatan bertahap, menggunakan incline ringan, serta fokus pada ritme langkah agar lari lebih aman dan stabil.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menunjukkan sisi positif dari kesadaran teknik berlari di treadmill. Dengan memahami delapan kesalahan umum dan cara memperbaikinya, pelari dapat meningkatkan efisiensi gerak, mengurangi risiko cedera, serta membangun koneksi yang lebih baik dengan tubuh sendiri. Pendekatan ini menjadikan treadmill bukan sekadar alat latihan, tetapi sarana belajar biomekanik yang bermanfaat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lari di treadmill sering dianggap lebih mudah dibanding lari di jalanan. Permukaannya rata, cuaca bukan penghalang, dan kecepatannya tinggal diatur lewat tombol. Namun, karena itulah banyak orang tidak sadar teknik lari mereka berubah cukup drastis saat lari di atas belt yang bergerak.

Saat lari di treadmill, ada orang yang tanpa sadar melangkah terlalu panjang, condong ke depan, menatap layar terus-menerus, atau bahkan berlari sambil berpegangan pada handle. Sekilas terlihat sepele, tetapi pola gerakan kecil yang berulang ribuan kali dapat memengaruhi distribusi beban pada sendi dan otot.

Dalam jangka pendek, kesalahan form mungkin hanya terasa sebagai pegal biasa. Namun jika terus dilakukan, risikonya bisa berkembang menjadi nyeri lutut, shin splints, ketegangan pinggul, hingga nyeri punggung bawah.

Kabar baiknya, sebagian besar kesalahan form lari di treadmill bisa diperbaiki dengan beberapa penyesuaian.

Kalau kamu sering lari di treadmill, wajib baca ini, ya!

1. Langkah terlalu (overstriding)

Salah satu kesalahan paling umum di treadmill adalah overstriding, yaitu ketika kaki mendarat terlalu jauh di depan tubuh.

Banyak orang melakukannya tanpa sadar karena mencoba mengikuti kecepatan belt. Akibatnya, tumit menghantam permukaan lebih keras sementara lutut menerima beban pengereman lebih besar. Penelitian biomekanik menunjukkan overstriding dapat meningkatkan gaya benturan pada tungkai bawah dan berkaitan dengan risiko cedera lari.

Selain membuat lari terasa lebih berat, overstriding juga membuat tubuh kurang efisien. Energi lebih banyak terbuang untuk mengerem dibanding mendorong tubuh maju.

Cara memperbaikinya:

  • Pendekkan langkah sedikit.

  • Fokus mendarat di bawah pusat gravitasi tubuh, bukan jauh di depan.

  • Tingkatkan cadence secara bertahap.

  • Bayangkan kaki “berputar cepat” alih-alih melompat jauh.

2. Terlalu sering berpegangan pada handle

ilustrasi memegang handle saat lari di treadmill (pexels.com/Julia Larson)

Pegangan treadmill memang membantu keseimbangan, terutama bagi pemula. Masalah muncul jik kamu terus berlari sambil bertumpu pada handle.

Kebiasaan ini dapat mengubah postur alami tubuh dan mengurangi kerja otot inti serta kaki. Tubuh jadi cenderung membungkuk atau menggantung di depan. Menurut penelitian, berpegangan pada treadmill juga dapat mengubah pola biomekanik dan membuat estimasi intensitas latihan menjadi kurang akurat.

Dalam jangka panjang, tubuh tidak benar-benar belajar berlari dengan stabil secara mandiri.

Cara memperbaikinya:

  • Gunakan handle hanya saat naik, turun, atau mengatur kecepatan.

  • Turunkan pace jika merasa harus terus berpegangan.

  • Latih keseimbangan secara bertahap dengan tangan rileks di samping tubuh.

3. Menatap layar atau menunduk terlalu lama

Treadmill membuat banyak orang terpaku pada angka, seperti pace, kalori, jarak, atau detak jantung. Tanpa sadar, kepala terus menunduk selama berlari. Postur seperti ini dapat meningkatkan ketegangan pada leher, bahu, dan punggung atas. Selain itu, posisi kepala yang terlalu maju ikut memengaruhi alignment tubuh secara keseluruhan.

Tubuh manusia cenderung mengikuti arah pandangan. Ketika kepala turun, dada ikut mengempis dan pola napas menjadi kurang optimal.

Cara memperbaikinya:

  • Pandangan lurus ke depan.

  • Jaga dagu tetap netral.

  • Cek layar sesekali saja, bukan terus-menerus.

  • Bayangkan ada tali yang menarik kepala ke atas.

4. Pace terlalu cepat sejak awal

ilustrasi lari di treadmill di gym (pexels.com/William Choquette)

Banyak orang langsung memilih pace agresif di treadmill karena merasa dibantu mesin. Akibatnya, tubuh belum sempat beradaptasi tetapi kaki sudah dipaksa mengikuti belt yang bergerak cepat.

Ini sering membuat langkah jadi kaku, napas tidak terkontrol, dan form cepat berantakan. Ketika tubuh mulai kelelahan, risiko salah pijak atau kehilangan ritme meningkat.

Penelitian olahraga menunjukkan bahwa kelelahan berpengaruh besar terhadap perubahan biomekanik lari dan peningkatan risiko cedera.

Cara memperbaikinya:

  • Mulai dengan easy pace selama 5–10 menit.

  • Naikkan kecepatan secara bertahap.

  • Gunakan talk test: jika tidak bisa bicara singkat sama sekali, kemungkinan pace terlalu tinggi.

5. Tubuh terlalu condong ke depan atau belakang

Ada dua pola yang sering muncul saat lari di treadmill, yaitu terlalu membungkuk ke depan atau justru bersandar ke belakang karena takut terdorong belt. Keduanya sama-sama mengganggu distribusi beban tubuh.

Condong berlebihan ke depan meningkatkan tekanan pada pinggul dan punggung bawah, sedangkan posisi terlalu tegak kaku membuat langkah terasa menghentak.

Postur terbaik saat treadmill sebenarnya cukup sederhana—tubuh tegak rileks dengan sedikit lean alami dari pergelangan kaki, bukan dari pinggang.

Cara memperbaikinya:

  • Jaga bahu rileks.

  • Aktifkan core ringan.

  • Hindari membungkuk dari pinggang.

  • Rekam video singkat untuk melihat postur tubuh sendiri.

6. Langsung turun setelah sprint atau interval

ilustrasi lari di treadmill (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Setelah interval berat, sebagian orang langsung melompat ke sisi treadmill atau berhenti mendadak.

Padahal, perubahan mendadak dari intensitas tinggi ke diam total bisa membuat tubuh terasa pusing karena aliran darah belum menyesuaikan diri. Selain itu, risiko terpeleset juga meningkat.

Tubuh membutuhkan transisi bertahap agar detak jantung dan pernapasan turun lebih aman.

Cara memperbaikinya:

  • Turunkan pace perlahan.

  • Lakukan cooldown jalan kaki 3–5 menit.

  • Hindari melompat ke sisi treadmill saat belt masih cepat.

7. Tidak mengatur incline

Berlari di treadmill tanpa incline terasa berbeda dibanding lari di luar ruangan. Beberapa penelitian menunjukkan treadmill dapat mengurangi hambatan udara sehingga sensasi effort sedikit berubah.

Karena itu, banyak pelatih merekomendasikan incline ringan 1 persen untuk meniru kondisi outdoor secara lebih realistis. Selain membantu simulasi effort, incline ringan juga dapat membuat pola langkah lebih natural pada sebagian pelari.

Cara memperbaikinya:

  • Gunakan incline 1 persen untuk easy run atau steady run.

  • Hindari incline terlalu tinggi terus-menerus jika belum terbiasa.

  • Fokus menjaga form tetap stabil saat incline meningkat.

8. Mengabaikan cadence dan ritme langkah

ilustrasi menggunakan incline pada treadmill (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Sebagian orang berlari di treadmill dengan langkah “meloncat-loncat” atau ritme yang tidak konsisten.

Cadence yang terlalu rendah sering membuat waktu kontak kaki dengan permukaan lebih lama dan meningkatkan beban benturan. Sebaliknya, ritme langkah yang stabil membantu tubuh bergerak lebih efisien.

Banyak pelari rekreasional merasa lari lebih ringan ketika cadence sedikit meningkat tanpa harus mempercepat pace drastis.

Cara memperbaikinya:

  • Dengarkan ritme langkah kaki.

  • Gunakan musik dengan beat stabil bila membantu.

  • Fokus pada langkah ringan dan cepat, bukan menghentak.

Seperti halnya lari outdoor, tenik lari di treadmill juga harus diperhatikan. Kesalahan kecil seperti overstriding, berpegangan terus-menerus, atau pace terlalu agresif dapat mengubah biomekanik tubuh secara signifikan jika dilakukan berulang.

Memperbaiki form lari di treadmill berarti belajar membuat gerakan lebih rileks, efisien, dan stabil. Manfaatkan treadmill untuk melatih awareness terhadap tubuh sendiri. Makin baik kamu memahami pola gerak tubuhmu sendiri, makin kecil risiko cedera, dan makin nyaman lari kamu.

Referensi

Bryan C. Heiderscheit et al., “Effects of Step Rate Manipulation on Joint Mechanics During Running,” Medicine & Science in Sports & Exercise 43, no. 2 (June 25, 2010): 296–302, https://doi.org/10.1249/mss.0b013e3181ebedf4.

Andrew M. Jones and Jonathan H. Doust, “A 1% Treadmill Grade Most Accurately Reflects the Energetic Cost of Outdoor Running,” Journal of Sports Sciences 14, no. 4 (August 1, 1996): 321–27, https://doi.org/10.1080/02640419608727717.

Isabel S. Moore, “Is There an Economical Running Technique? A Review of Modifiable Biomechanical Factors Affecting Running Economy,” Sports Medicine 46, no. 6 (January 27, 2016): 793–807, https://doi.org/10.1007/s40279-016-0474-4.

American College of Sports Medicine. "ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription. 11th ed." Philadelphia: Wolters Kluwer, 2021.

Bas Van Hooren et al., “Is Motorized Treadmill Running Biomechanically Comparable to Overground Running? A Systematic Review and Meta-Analysis of Cross-Over Studies,” Sports Medicine 50, no. 4 (December 4, 2019): 785–813, https://doi.org/10.1007/s40279-019-01237-z.

Editorial Team