Comscore Tracker

Baby Blues, Kondisi Pascapersalinan yang Tak Boleh Diremehkan

Bila dibiarkan, lama-lama bisa menjadi depresi post partum

Pada kelahiran anak pertama, 80 persen ibu yang baru melahirkan mengalami sindrom baby blues. Soso (24) adalah salah satunya. Ia dilanda perasaan bahwa dirinya belum siap menjadi seorang ibu dan ini berlangsung selama 3 bulan pertama pascapersalinan.

"I didn't love my child that much. Aku merasa anakku mengambil kemerdekaanku sebagai individual. It was hard day back then," ucapnya.

Alumni Universitas Airlangga ini melahirkan anak laki-laki pada 2 Mei lalu. Perasaannya kala itu campur aduk. Ia merasa bahwa semua orang hanya memperhatikan bayinya, sedangkan ia merasa bahwa ibu yang baru melahirkan juga perlu diperhatikan.

Baby blues juga membuatnya mual, bahkan sampai muntah, ketika ia sedang menyusui atau mendengarkan anaknya menangis.

Soso adalah satu dari sekian banyak perempuan yang mengalami baby blues syndrome. Riza Wahyuni, S.Psi, MSi, psikolog klinis dan forensik yang bertugas di Layanan Psikologi Geofira dan SATGAS PPA Jatim akan menjelaskan lebih gamblang seputar sindrom ini.

1. Baby blues adalah perasaan lelah, sedih, dan khawatir yang dialami perempuan setelah melahirkan

Baby Blues, Kondisi Pascapersalinan yang Tak Boleh Diremehkanscientificamerican.com

Menurut Riza, baby blues adalah sekumpulan perasaan lelah, sedih, dan khawatir bercampur jadi satu pada perempuan setelah melahirkan. Salah satu penyebabnya adalah hormon progesteron yang menurun. Baby blues terjadi selama 2 minggu pasca persalinan.

"Penyebab lain adalah penyesuaian terhadap kehadiran bayi. Dulu, sebelum ada bayi, tidurnya selalu nyenyak. Sekarang, ibu harus bangun tengah malam karena anak menangis minta susu atau ngompol. Ini membuat ibu baru mengalami kebingungan," tutur Riza.

Baby blues akan semakin parah apabila ibu melakukan perawatan bayi seorang diri tanpa bantuan orang lain. Ini akan membuat tenaga dan mentalnya terkuras habis. Selain itu, sang ibu juga dihantui oleh ketakutan, apakah ia bisa merawat bayinya dengan baik atau tidak.

2. Apabila tidak diatasi dengan baik, baby blues akan berubah menjadi depresi post partum

Baby Blues, Kondisi Pascapersalinan yang Tak Boleh Diremehkanhealth.harvard.edu

Baby blues umumnya memiliki gejala yang ringan dengan masa penyesuaian sekitar 2 minggu. Kondisi ini akan lebih mudah dilalui jika ibu bercerita ke pasangan atau keluarga terdekat tentang apa yang ia rasakan. Jika tidak diatasi dengan baik, baby blues bisa berkembang menjadi post partum depression atau depresi pasca bersalin.

"Post partum depression lebih berat daripada baby blues. Ibu merasakan tekanan yang cukup berat dan membuatnya mudah putus asa, sedih, menangis tanpa sebab, merasa tidak berharga, atau bahkan dia tidak merasakan ikatan dengan bayinya," ungkap Riza.

Kalau sudah seperti ini, ia harus segera memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater. Jika tidak, ia berisiko tinggi terkena depresi berat. Depresi pascapersalinan bisa berlangsung cukup lama, bahkan hingga 3 tahun.

Depresi post partum bisa berkembang menjadi psikosis postpartum. Ini adalah kondisi ibu mengalami halusinasi dan delusi yang bisa membahayakan bayi atau dirinya sendiri. Meski fatal, kondisi ini sangat jarang terjadi.

3. Peran pasangan sangat penting untuk melewati fase baby blues

Baby Blues, Kondisi Pascapersalinan yang Tak Boleh Diremehkanbump2babyreality.co.uk

Bisa dibilang, Soso beruntung. Sebab, ia memiliki suami yang sangat membantu. Bentuk dukungan sang suami adalah dengan mencuci baju, membersihkan kamar, dan menggendong anaknya. Diakui pula oleh Riza bahwa kehadiran pasangan sangat penting bagi proses pemulihan istrinya.

"Ibu bisa bercerita tentang keadaannya pada pasangan atau meminta tolong pasangan untuk mengganti popok si Kecil ketika bangun tengah malam. Jika pasangan tidak peduli dengan apa yang terjadi pada istrinya, maka kondisinya akan memburuk dan menyebabkan ibu jadi depresi," tutur Riza.

Ibu juga tidak boleh segan meminta tolong pada orang terdekat untuk melakukan pekerjaan jika ia tidak sanggup. Selain itu, ibu juga perlu waktu untuk melakukan "me-time". Kondisi mood akan stabil dengan berolahraga ringan pasca melahirkan atau melakukan hobi.

Baca Juga: Penyebab Psikologis Kenapa Selebritas Terjerat Kasus Narkoba

4. Jika kondisi memburuk, jangan ragu untuk datang ke psikolog atau psikiater

Baby Blues, Kondisi Pascapersalinan yang Tak Boleh Diremehkanmedium.com/@priya.thevar

Sebagian orang merasa malu datang ke psikolog atau psikiater karena takut dianggap mengalami gangguan jiwa. Padahal, penting untuk datang ke ahlinya jika mengalami gejala tertentu. Seperti kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, perasaan tidak berharga, sulit tidur, atau situasi apa pun yang tidak menyenangkan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

"Kita sebagai manusia pasti punya masalah, belum tentu bisa menyelesaikan sendiri. Kadang, kita hanya ingin didengar oleh orang lain tanpa dihakimi. Lebih baik datang ke ahlinya, daripada bercerita ke orang lain dan ceritanya bisa (menyebar) sampai ke mana-mana," Riza menganjurkan.

Untuk ibu yang mengalami baby blues, sesi konseling dilakukan untuk mendengar cerita, bertanya, dan memperdalam apa yang disampaikan. Psikolog akan menjelaskan bagaimana cara untuk bonding dengan bayi dan melakukan stabilisasi emosi.

5. Dalam beberapa kasus yang berat, intervensi obat-obatan dibutuhkan

Baby Blues, Kondisi Pascapersalinan yang Tak Boleh Diremehkanbehavioralhealthflorida.com

Ada beberapa kasus ketika konseling saja tidak cukup dan membutuhkan intervensi obat-obatan oleh psikiater. Terlebih, jika seseorang sudah menyakiti diri sendiri (self-harm), depresi berat, dan kondisi mental mengganggu kehidupan sehari-hari.

"Misalnya, ibu mulai memukul bayinya, maka sudah harus diberi pendekatan psikiatri dan ditunjang dengan obat-obatan. Untuk kondisi kesehatan mental ringan dan sedang bisa diatasi psikolog, sementara yang berat adalah ranah psikiater," terang Riza.

Walau dunia masih dilanda pandemi, jangan ragu untuk datang ke ahlinya saat kondisi kesehatan mental memburuk. Psikolog masih membuka layanan konseling online dan konseling dilakukan dengan video call, tidak perlu tatap muka. Yang jelas, tetap prioritaskan kesehatan mentalmu. Karena kondisi kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan jasmani.

Memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) yang diperingati setiap tanggal 10 Oktober, mari lebih memberi perhatian lebih pada kondisi mental kita. Kesehatan mental sama pentingnya dengan fisik dan punya hubungan erat antara satu sama lain.

Baca Juga: Psikolog: Pelaku Inses Punya Agresivitas Tinggi dan Kontrol Diri Lemah

Topic:

  • Nurulia R F

Berita Terkini Lainnya