Comscore Tracker

Kopi Hitam Lebih Sehat, Tak Perlu Diberi Pemanis Tambahan

Apa saja manfaat kopi hitam bagi kesehatan?

Indonesia adalah salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Statista Research Department, Indonesia memproduksi sekitar 753,9 ribu metrik ton kopi tahun 2020.

Tingginya produksi kopi berbanding lurus dengan banyaknya pencinta kopi di tanah air. Kedai kopi mudah dijumpai di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Minum kopi pun menjadi lifestyle yang tak terpisahkan di kalangan anak muda, orang dewasa, paruh baya, bahkan lansia.

Mari kupas-tuntas mitos dan fakta seputar kopi bersama dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK, dokter spesialis gizi klinik dari RS Pondok Indah pada Kamis (19/8/2021). Ia memaparkan dengan detail di program Health Talk berjudul "Kopi: Menguak Mitos dan Efek Kesehatannya" yang disiarkan secara live di Instagram @idntimes. Let's go!

1. Dua kandungan utama kopi adalah kafein dan asam klorogenat

Kopi Hitam Lebih Sehat, Tak Perlu Diberi Pemanis Tambahanilustrasi kopi (pexels.com/Kevin Malik)

Kandungan utama kopi adalah kafein dan asam klorogenat (chlorogenic acid). Menurut dr. Juwalita, asam klorogenat mengandung antioksidan yang bisa menurunkan risiko penyakit Alzheimer dan punya khasiat antikanker.

Selain itu, terdapat zat yang bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam darah namun bisa hilang dalam proses pengolahan.

"Zat yang bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam darah ini terdapat dalam kopi yang tidak difilter atau unfiltered coffee. Misalnya, kopi tubruk atau kopi yang dibuat dengan alat French press. Sebenarnya, French press bukan penyaringan, hanya ampasnya saja yang sedikit dikurangi," jelasnya.

2. Jika memiliki riwayat sakit lambung, pilih kopi arabika

Kopi Hitam Lebih Sehat, Tak Perlu Diberi Pemanis Tambahanilustrasi biji kopi (sybilagri.com)

Jenis kopi sangat beragam. Namun, yang paling banyak ditemukan di pasaran adalah arabica (Coffea arabica) dan robusta (Coffea canephora). Menurut dr. Juwalita, kandungan kafein di kopi Robusta lebih tinggi.

Untuk orang yang punya riwayat sakit lambung sebaiknya memilih kopi yang jenisnya arabica karena lebih aman, lebih gentle, dan efeknya tidak sekuat robusta. Opsi lainnya adalah decaffeinated coffee atau kopi decaf yang kafeinnya sudah dihilangkan hingga 97 persen dan tersisa antara 3-5 persen saja.

Sebagai tambahan, dr. Juwalita menjelaskan bahwa per 13 gram bubuk kopi, mengandung 47 mg kafein. Patokannya, 1 shot espresso terbuat dari 11-13 gram bubuk kopi.

3. Yang sebaiknya dikonsumsi adalah kopi hitam, tanpa tambahan pemanis

Kopi Hitam Lebih Sehat, Tak Perlu Diberi Pemanis Tambahanilustrasi kopi hitam (pexels.com/cottonbro)

Yang dimaksud dengan kopi hitam adalah kopi murni dengan zat-zat yang terkandung di dalamnya, tanpa tambahan lain seperti gula. Jika diberi tambahan (seperti gula aren, sirup, atau creamer), kalorinya akan naik, kadar gula darah meningkat, dan bisa menyebabkan kegemukan.

"Pada dasarnya kalau yang kita konsumsi adalah kopi murni tanpa campuran apa pun, biasanya aman untuk orang-orang dengan penyakit jantung atau tekanan darah tinggi. Jadi boleh dikonsumsi," tutur dr. Juwalita.

Ia mengutip salah satu penelitian di Amerika Serikat yang membuktikan bahwa konsumsi kopi bisa menurunkan risiko gagal jantung. Justru yang menyebabkan kopi menjadi berbahaya adalah tambahannya, seperti minum kopi sambil merokok, makan gorengan, atau donat.

Kalau pun ingin minum kopi dengan makanan pendamping, coba konsumsi pisang rebus, singkong kukus, dan ubi panggang. Rasanya manis dan mengenyangkan, tetapi aman karena berasal dari gula alami.

Lebih lanjut, jika cara pengolahannya benar, maka kopi hitam bisa memberikan rasa dan aroma yang bermacam-macam. Ada yang flavor-nya seperti kacang (nutty), cokelat, berries, dan sebagainya.

Baca Juga: Ketahui Dampak Buruk Sering Konsumsi Makanan Terlalu Asam

4. Efek kafein akan muncul 15-30 menit setelah minum kopi

Kopi Hitam Lebih Sehat, Tak Perlu Diberi Pemanis Tambahanilustrasi minum kopi (theraflu.com)

Kapan waktu yang tepat untuk minum kopi? Menurut dr. Juwalita, pagi hari adalah waktu yang terbaik, terutama pada jam 9-10 pagi ketika kadar kortisol sudah menurun. Ia tidak menganjurkan minum kopi bersamaan dengan waktu sarapan.

Kafein pada kopi memiliki efek stimulan untuk otak, susunan saraf pusat, dan kerja jantung. Sehingga, setelahnya kita akan menjadi lebih alert atau waspada dan pikiran menjadi lebih tajam. Efeknya tidak langsung muncul, melainkan dalam 15-30 menit dan akan mencapai puncaknya kira-kira 1 jam setelah minum kopi.

"Efek kopi akan hilang dari tubuh sekitar 6-8 jam setelah diminum. Jadi, jika ingin istirahat dengan tenang di malam hari, sebaiknya atur jam minum kopi supaya tidak mengganggu waktu tidur kita. Misalnya, ingin tidur jam 11 malam, maka jam terakhir minum kopi adalah pukul 5 sore," sarannya.

5. Cepat atau lambatnya efek kopi hilang dari tubuh bergantung pada metabolisme tiap individu

Kopi Hitam Lebih Sehat, Tak Perlu Diberi Pemanis Tambahanilustrasi tidak bisa tidur (thesleepdoctor.com)

Ada orang yang sulit tidur di malam hari setelah minum kopi di pagi hari, tetapi ada pula yang tidak. Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Menurut dr. Juwalita, ini akibat metabolisme tiap individu yang berbeda-beda. Ada yang cepat (fast metabolizer) dan lambat (slow metabolizer).

Kelompok pertama adalah orang yang bisa memetabolisme kafein dengan cepat, sehingga kafein tidak tinggal terlalu lama di tubuh. Sementara itu, kelompok kedua adalah kebalikannya, di mana kafein akan tinggal lebih lama di dalam tubuh.

Untuk mengetahui kita termasuk golongan yang mana, bisa dengan pemeriksaan genetik. Melansir Coffee and Health, enzim yang bertanggung jawab untuk metabolisme kafein dikodekan oleh gen CYP1A2.

Berapa batas maksimal kopi yang bisa dikonsumsi dalam sehari? Menurut dr. Juwalita, orang yang termasuk dalam golongan fast metabolizer bisa mengonsumsi kafein hingga 400 mg per hari, sedangkan yang slow metabolizer hanya 150 mg saja.

Baca Juga: 7 Makanan dengan Indeks Glikemik Rendah, Cocok untuk Pasien Diabetes

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya