Comscore Tracker

Studi: Keseringan Begadang Dongkrak Risiko Diabetes Tipe 2

Yuk, tidur lebih awal demi kesehatan!

Seumur hidup, tak mungkin kita lepas dari begadang. Entah karena menonton pertandingan atau lembur kerja, begadang jadi pilihan satu-satunya. Tentu saja, begadang bisa berisiko membuat bangun terlambat dan mood jadi buruk (terutama bila tak cukup tidur).

Tak sedikit studi yang mencatat dampak buruk begadang, terlebih yang sering dilakukan. Menurut studi terbaru, kronotipe atau siklus sirkadian (kapan kita tidur dan bangun) berkaitan dengan metabolisme tubuh. Akan tetapi, mereka yang sering begadang atau tidur larut malam lebih berisiko mengalami diabetes tipe 2.

1. Menguji puluhan partisipan sedenter

Studi: Keseringan Begadang Dongkrak Risiko Diabetes Tipe 2ilustrasi begadang dan menonton (unsplash.com/Alin Surdu)

Dimuat dalam jurnal Experimental Physiology pada 19 September 2022, para peneliti Amerika Serikat (AS) dari Rutgers University dan University of Virginia mencoba mencari tahu apakah ritme sirkadian bisa memengaruhi sensitivitas insulin.

Untuk itu, para peneliti merekrut 51 partisipan berusia 50 tahun ke atas. Meski sehat, para partisipan memiliki gaya hidup sedenter (berolahraga kurang dari 60 menit per minggu). Selain itu, mereka juga memiliki sindrom metabolik ringan, seperti hipertensi, glukosa puasa tinggi, atau lingkar pinggang yang besar.

Berdasarkan jawaban kuesioner, para peneliti membagi para partisipan ke dalam dua kelompok, yaitu:

  • 24 partisipan tidur lebih awal (kronotipe awal).
  • 27 partisipan tidur larut malam (kronotipe larut).

Para peneliti lalu menakar massa dan komposisi tubuh para partisipan, serta sensitivitas insulin. Partisipan mengenakan akselerometer di pinggang selama 7 hari untuk mengukur waktu saat aktivitas sedang padat. Data ini lalu dibandingkan dengan kronotipe untuk menentukan kronotipe mana yang memengaruhi aktivitas sehari-hari partisipan.

2. Hasil: Tidur larut malam meningkatkan risiko diabetes

Setelah partisipan berpuasa selama 12 jam, para peneliti menguji partisipan saat beristirahat dan saat berolahraga untuk menilai metabolisme energi. Lalu, para peneliti juga mengambil sampel napas untuk menghitung metabolisme lemak dan karbohidrat tersebut.

"Mengukur metabolisme saat istirahat dan olahraga membantu kami melihat perubahan gerakan sehari-hari bisa berdampak terhadap kesehatan," ujar pemimpin penelitian dari Rutgers University, Dr. Steven K. Malin, dilansir Medical News Today.

Tak ada perbedaan signifikan dari segi usia, massa tubuh, atau sindrom metabolisme antara kedua kelompok. Namun, para peneliti melihat adanya perbedaan penggunaan sumber energi di kedua kelompok kronotipe, di mana kronotipe awal membakar lemak dan lebih memproses glukosa lebih efektif dibanding kronotipe larut.

Kabar buruknya, partisipan dalam kelompok kronotipe larut memiliki resistansi insulin yang cukup besar, salah satu faktor risiko besar terhadap diabetes tipe 2. Dengan kata lain, mereka butuh lebih banyak insulin untuk menurunkan kadar gula dalam darah, dan cenderung menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi.

Baca Juga: 5 Hal yang Terjadi pada Tubuh kalau Begadang Berhari-hari

3. Kualitas otot rangka yang berbeda

Studi: Keseringan Begadang Dongkrak Risiko Diabetes Tipe 2ilustrasi menonton TV dan gaya hidup sedenter atau tidak sehat (unsplash.com/JESHOOTS.COM)

Selain itu, para peneliti tidak menemukan perbedaan massa otot signifikan antara dua kelompok kronotipe, selain kronotipe larut memiliki massa otot yang sedikit lebih besar. Para peneliti menduga bahwa oksidasi lemak yang lebih besar di kronotipe awal disebabkan oleh perbedaan kualitas otot rangka.

Menurut Dr. Steven, selain sedenter, kelompok kronotipe larut memiliki tingkat kebugaran lebih rendah dari pengukuran VO2max (jumlah oksigen yang digunkaan saat aktivitas berintensitas tinggi). Metabolisme lemak rendah terhubung dengan kemampuan insulin memproses glukosa menjadi glikogen.

"Ini amat penting karena glukosa yang tersimpan atau glikogen membantu memperkuat otot untuk aktivitas fisik," tambah Dr. Steven.

4. Bisakah kronotipe diubah?

Selain ada pengaruh gen dan turunan, Dr. Steven mengatakan bahwa kronotipe berubah mengikuti usia. Sebagai contoh, remaja umumnya tidur lebih larut (kronotipe larut) dibanding kelompok usia paruh baya. Jika memang kronotipe awal lebih sehat, bisakah kronotipe diubah?

Sayangnya, Dr. Steven mengatakan bahwa hal ini sulit untuk dicari tahu karena banyaknya faktor dalam kehidupan sehari-hari yang memengaruhi rutinitas kita. Meski begitu, ia mengatakan bahwa kita bisa mulai menerapkan jam tidur lebih awal dan bangun lebih pagi.

"Gunakan jeda waktu 15 menit untuk menyesuaikan diri. Jadi, tidur 15 menit lebih awal dan bangun 15 menit lebih pagi," ujar Dr. Steven.

5. Pengaruh diet dan kronotipe?

Studi: Keseringan Begadang Dongkrak Risiko Diabetes Tipe 2ilustrasi olahraga malam hari (pixabay.com/geralt)

Terkesan sulit mengubah kronotipe? Bagaimana dengan mengubah pola makan kita? Umumnya, kronotipe larut memiliki kebiasaan makan tak sehat (rendah sayur dan buah, lebih tinggi alkohol, serta asupan kalori lebih tinggi).

"Pola makan ini tidak sehat dan bisa berkontribusi terhadap risiko obesitas dan komplikasinya, seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular," ucap Dr. Steven.

Berbagai riset mencatat bahwa makan pada pagi hari bermanfaat untuk gula darah. Hal ini diduga karena variasi siklus sirkadian terhadap kadar insulin, yaitu sensitivitas insulin lebih tinggi pada pagi hingga sore dan menurun pada petang hingga malam hari.

Meski begitu, klaim tersebut perlu dicari tahu lebih lanjut lewat penelitian di masa depan. Apakah perbedaan metabolisme tersebut dikarenakan perbedaan di aktivitas fisik? Atau, apakah aktivitas fisik lebih berguna dilakukan pada pagi hari dibanding malam hari?

"Butuh riset lebih jauh untuk menentukan hubungan antara kronotipe, olahraga, dan adaptasi metabolisme untuk mengetahui apakah berolahraga pada pagi hari memiliki manfaat kesehatan lebih besar," tulis Dr. Steven.

Baca Juga: Kamu Sering Begadang? Ternyata Ada Efek Negatif Jangka Panjang

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya