Comscore Tracker

Studi: Digunakan untuk COVID-19, Ivermectin Bisa Berbahaya

Lantas, apa kabar uji klinis ivermectin di Indonesia?

Beberapa obat digunakan untuk pengobatan COVID-19, salah satunya adalah ivermectin. Meskipun dikatakan ampuh lewat studi in vitro, tetapi ivermectin yang merupakan obat parasit tidak terbukti benar-benar konsisten untuk mencegah maupun mengobati COVID-19 akibat virus corona SARS-CoV-2.

Meski begitu, ivermectin tetap diuji secara klinis untuk dicari tahu khasiatnya terhadap COVID-19. Akan tetapi, makin banyak penelitian yang membantah penggunaan ivermectin sebagai antivirus melawan COVID-19. Salah satunya adalah penelitian terbaru dari Amerika Serikat (AS) berikut ini. Jangan terkecoh, mari simak selengkapnya!

1. Meneliti bahaya ivermectin via panggilan suara

Studi: Digunakan untuk COVID-19, Ivermectin Bisa Berbahayailustrasi menelepon (pexels.com/Kaboompics.com)

Dimuat dalam New England Journal of Medicine (NEJM) pada 20 Oktober 2021 lalu, para peneliti AS meneliti dampak penggunaan ivermectin sebagai langkah pencegahan dan pengobatan COVID-19.

Bekerja sama dengan Oregon Poison Center, para peneliti AS mencatat bahwa frekuensi telepon keluhan pajanan ivermectin terkait COVID-19 terus meningkat. Tercatat pada tahun 2020, penggilan telepon terkait ivermectin hanya 0,25 kali per bulan. Pada Januari-Juli 2021, angka tersebut naik ke 0,86.

Per Agustus 2021, lembaga tersebut menerima 21 panggilan mengenai ivermectin. Mayoritas pelapor berusia di atas 60 tahun. Sebanyak 11 orang melaporkan konsumsi ivermectin untuk mencegah COVID-19, dan sisanya menggunakan obat tersebut untuk merawat gejala COVID-19.

2. Gejala efek samping ivermectin yang muncul bertahap

Studi: Digunakan untuk COVID-19, Ivermectin Bisa Berbahayailustrasi ivermectin (Dok. Indofarma)

Para peneliti mencatat bahwa gejala efek samping ivermectin terlihat 2 jam setelah dosis tunggal pertama. Pada enam orang, gejala tersebut berkembang secara bertahap dalam beberapa hari hingga minggu setelah mengonsumsi ivermectin setiap hari atau dua kali seminggu.

Satu orang mengaku mengonsumsi vitamin D untuk mencegah dan mengobati COVID-19. Dosis ivermectin khusus hewan yang ikut dikonsumsi berkisar antara 6,8-125 miligram (mg) dalam bentuk pasta dan 20-50 mg dalam bentuk larut. Sebagai pencegahan COVID-19, ivermectin dikonsumsi dua kali seminggu dengan kisaran 21 mg per dosis.

Baca Juga: Ivermectin Viral Jadi Obat COVID-19, Obat Apa sih Itu?

3. Hasil: konsumsi ivermectin bersifat toksik dan tidak direkomendasikan sebagai terapi COVID-19

Studi: Digunakan untuk COVID-19, Ivermectin Bisa BerbahayaIvermectin, Obat Terapi Pasien COVID-19. (Dok. Kementerian BUMN)

Para peneliti menemukan bahwa sebanyak 6 dari 21 orang yang dirawat karena efek racun dari ivermectin menggunakan obat tersebut sebagai langkah pencegahan. Dari angka tersebut, tiga orang mendapatkan ivermectin dari resep dokter.

Empat orang menerima perawatan di unit perawatan intensif (ICU) dan tidak ada yang meninggal dunia. Dari konsumsi ivermectin, para peneliti menemukan gejala-gejala seperti:

  • Gangguan gastrointestinal (4 orang)
  • Kelinglungan (3 orang)
  • Ataksia dan kelemahan (2 orang)
  • Hipotensi (2 orang)
  • Kejang-kejang (1 orang)

Selain itu, orang yang tidak dirawat di rumah sakit pasca konsumsi ivermectin sebagian besar juga mengeluhkan gangguan gastrointestinal, pusing, kelinglungan, gangguan penglihatan, dan ruam.

"Tidak cukup bukti yang mendukung penggunaan ivermectin sebagai pengobatan atau pencegahan COVID-19. Penggunaan yang tidak tepat dan risiko interaksi obat dapat mengakibatkan efek samping serius hingga memerlukan rawat inap," tulis para peneliti dalam kesimpulan.

4. Apa kabar uji klinis ivermectin di Indonesia?

Studi: Digunakan untuk COVID-19, Ivermectin Bisa Berbahayailustrasi obat ivermectin (news-medical.net)

Dihubungi oleh IDN Times pada Jumat (22/10/2021), dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi (paru) di RSUP Persahabatan, Dr. dr. Erlina Burhan, MSc, SpP(K), mengatakan bahwa saat ini, Indonesia juga masih menunggu hasil uji klinis ivermectin.

Ia mengakui bahwa sudah banyak literatur dan bukti bahwa ivermectin tidak ampuh mencegah apalagi mengobati COVID-19. Akan tetapi, karena banyak testimoni dan disinformasi yang memengaruhi banyak orang, maka butuh bukti yang lebih kuat untuk menekankan bahaya dari pemakaian ivermectin yang salah.

"Jadi, butuh penelitian sendiri agar semakin menguatkan bukti kalau ivermectin tidak bermanfaat untuk COVID-19 dan malah lebih banyak efek sampingnya," pungkas Dr. Erlina.

5. Uji klinis ivermectin di Indonesia masih berjalan

Studi: Digunakan untuk COVID-19, Ivermectin Bisa Berbahayailustrasi obat ivermectin (indiatoday.in)

Berdasarkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 28 Juni 2021 lalu, ivermectin diizinkan di Indonesia hanya untuk skenario uji klinis. Uji klinis tersebut diadakan di delapan rumah sakit, yaitu:

  • RSUP Persahabatan (Jakarta)
  • RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso (Jakarta)
  • RSPAD Gatot Soebroto (Jakarta)
  • RSAU Esnawan Antariksa (Jakarta)
  • RS Dr. Suyoto (Jakarta)
  • RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet (Jakarta)
  • RSUD Dr. Soedarso (Pontianak)
  • RSUP H. Adam Malik (Medan)

Lantas, sudah sejauh apa uji klinis ivermectin di Indonesia? Dengan banyaknya laporan tentang efek samping dari konsumsinya, apakah uji klinis akan terus dilanjutkan?

Kepala Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan RI, Pretty Multihartina, Ph.D, menekankan bahwa hingga saat ini, uji klinis ivermectin masih tetap dilanjutkan.

“Kita semua sepakat bahwa secara ilmiah, ivermectin harus dibuktikan melalui uji klinis agar bisa lebih meyakinkan,” ujar Pretty.

Studi: Digunakan untuk COVID-19, Ivermectin Bisa Berbahayailustrasi ivermectin (news.ohsu.edu)

Pretty mengatakan bahwa masih banyak orang—terutama pasien COVID-19 gejala ringan hingga sedang—yang mengklaim ivermectin bisa menyembuhkan atau mengurangi gejala COVID-19. Di sisi lain, berbagai riset di dunia juga tidak ada yang sepenuhnya melarang pemakaian ivermectin selain melalui uji klinis.

"Jadi, ada baiknya diselesaikan. Effort-nya sudah lumayan. Kalau berhenti, nanti malah tak ada pembuktian dan mengawang lagi. Daripada seperti itu, lebih baik uji klinisnya diselesaikan," tambah Pretty.

Pretty mengatakan bahwa uji klinis ini bertujuan untuk meredam anggapan bahwa jika ivermectin tidak berguna untuk COVID-19, maka tidak akan dipakai lagi. Karena masih ada manfaatnya dan tidak membahayakan, maka manfaatnya pun akan terus digali.

Baca Juga: BPOM Tekankan Ivermectin Belum Dapat Izin untuk Obat COVID-19

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya