Comscore Tracker

Renggut Nyawa Raditya Oloan, Ini 7 Fakta Penting seputar Badai Sitokin

Merupakan salah satu komplikasi yang berpotensi fatal

Pada Kamis (6/5), suami dari aktris Joanna Alexandra, Raditya Oloan (36), meninggal dunia setelah dirawat intensif di ruang ICU. Sempat mengumumkan dirinya sembuh dari COVID-19, kondisinya kembali drop.

Selain ada komorbid asma dan gangguan ginjal, Raditya diketahui meninggal dunia menderita hiperinflamasi akibat badai sitokin atau cytokine storm. Badai sitokin memang diketahui menjadi salah satu penyebab utama dari angka kematian pasien COVID-19.

Apa itu badai sitokin? Apa bahayanya bagi pasien atau penyintas COVID-19? Fakta penting seputar kondisi ini perlu kamu ketahui.

1. Apa itu sitokin? Apa fungsinya bagi tubuh?

Renggut Nyawa Raditya Oloan, Ini 7 Fakta Penting seputar Badai Sitokinmodel 3D sitokin (wikimedia.org)

Sebelum mengetahui badai sitokin, mari kita kenali sitokin terlebih dahulu. Sitokin adalah senyawa glikoprotein kecil yang diproduksi sel tubuh. Sitokin meningkatkan berbagai fungsi tubuh, seperti proses pembiakan dan diferensiasi sel, aktivitas kelenjar autokrin, parakrin, dan endokrin, serta mengatur respons imun dan inflamasi.

Melansir News Medical, jenis-jenis sitokin yang paling umum adalah:

  • Interferon (IFN): terbagi menjadi tipe I (IFN-a and IFN-b) dan tipe 2 (IFN-g). Fungsi dari IFN adalah:
    • Mengatur sistem kekebalan bawaan terhadap virus dan senyawa patogen lainnya
    • Efek anti-proliferatif terhadap virus dan patogen lainnya

  • Interleukin: paling terkenal adalah IL-1. Fungsi dari interleukin adalah:
    • Mengatur diferensiasi dan aktivasi sel imun
    • Dapat memiliki efek pro- atau anti-inflamasi

  • Kemokin: famili terbesar dalam grup sitokin yang terkenal dengan CXC, CC, C, dan CX3C. Fungsi dari kemokin adalah:
    • Menarik sel atau organisme (chemoattractant)
    • Mengontrol pergerakan sel imun
    • Berkontribusi pada embriogenesis, perkembangan sistem kekebalan bawaan dan adaptif, serta metastasis kanker

  • Faktor Stimulasi Koloni (CSF): terbagi menjadi Granulosit CSF (G-CSF), Makrofag CSF (M-CSF), Granulosit-makrofag CSF (GM-CSF). CSF bertugas untuk memicu respons inflamasi pada tubuh

  • Faktor Nekrosis Tumor (TNF): terkenal dengan TNF-a, TNF adalah dalang di balik terjadinya badai sitokin. Produksi TNF berlebihan dapat menyebabkan inflamasi kronis dan penyakit autoimun

Intinya, sitokin adalah "pembawa pesan" ("κύτος" atau kytos yang berarti sel dan "κίνησις" atau kinesis yang berarti bergerak) antara sel imun. Bekerja sama dengan sel darah putih atau limfosit, sitokin akan bergerak menuju jaringan yang terinfeksi untuk membasmi virus dan senyawa patogen.

2. Apa itu badai sitokin? Apa gejalanya?

Renggut Nyawa Raditya Oloan, Ini 7 Fakta Penting seputar Badai Sitokinilustrasi badai sitokin (europepmc.org)

Umumnya, badai sitokin adalah kondisi respons imun yang berlebihan, sehingga menimbulkan inflamasi dan komplikasi serius. Dalam keadaan normal, sitokin membantu tubuh mengatasi infeksi virus dan patogen. Namun, jika level sitokin tidak terkendali, maka inflamasi dalam tubuh tak terkendali.

Masalahnya, terkadang tubuh memproduksi terlalu banyak sitokin yang menyebabkan inflamasi, dan tidak cukup sitokin untuk menguranginya. Hal tersebut membuat sitokin inflamasi berada di luar kendali. Disebut juga sindrom pelepasan sitokin atau cytokines release syndrome (CTS), badai sitokin ditandai dengan kadar sitokin berlebihan dalam darah.

Renggut Nyawa Raditya Oloan, Ini 7 Fakta Penting seputar Badai SitokinIndikasi badai sitokin, seorang pasien COVID-19 dirawat di ICU. (npr.org)

Badai sitokin menyebabkan inflamasi atau peradangan luar biasa pada tubuh. Biasanya, kondisi ini ditandai dengan lima gejala utama yaitu kulit berubah kemerahan (rubor), pembengkakan (tumor), panas demam (calor), nyeri (dolor), dan menurunnya fungsi tubuh (functio laesa).

Melansir Verywell Health, beberapa gejala utama dari badai sitokin adalah:

  • Demam dan panas dingin
  • Letih dan lesu
  • Pembengkakan
  • Mual dan muntah
  • Nyeri otot dan persendian
  • Sakit kepala
  • Ruam
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Napas cepat
  • Kejang
  • Tremor
  • Kesulitan mengendalikan gerakan tubuh
  • Linglung dan halusinasi

Selain itu, tekanan darah yang sangat rendah (hipotensi) dan peningkatan pembekuan darah atau trombosis juga dianggap sebagai gejala badai sitokin parah. Hal ini menyebabkan jantung tak bisa memompa secara optimal. Akibatnya, badai sitokin merusak organ tubuh lain, hingga menyebabkan gagal organ dan kematian.

Baca Juga: Gejala Parkinson pada Pasien COVID-19? Ini Temuannya

3. Penyebab umum badai sitokin

Renggut Nyawa Raditya Oloan, Ini 7 Fakta Penting seputar Badai Sitokinvirus Influenza A (wikimedia.org)

Hingga saat ini, ilmuwan masih mencari tahu penyebab pasti dari badai sitokin yang kompleks. Beberapa penyebab yang saat ini yang diketahui meliputi faktor genetik, infeksi dan, autoimun.

Pertama, individu dengan sindrom genetik tertentu lebih rentan mengalami badai sitokin. Salah satunya adalah riwayat keturunan hemofagositik limfohistiositosis (HLH) yang menyerang sel imun tertentu. Oleh karena itu, individu dengan HLH biasa cenderung mengalami badai sitokin sebagai respons infeksi.

Kedua, jenis infeksi virus, bakteri, atau patogen tertentu dapat memicu badai sitokin. Salah satu yang paling umum adalah infeksi virus influenza A Inilah salah satu faktor yang menyebabkan angka kematian pada pandemi influenza 1918 meningkat pesat. Selain influenza, virus Epstein-Barr dan cytomegalovirus juga dapat menyebabkan badai sitokin.

Renggut Nyawa Raditya Oloan, Ini 7 Fakta Penting seputar Badai Sitokinilustrasi autoimun (everydayhealth.com)

Selain itu, individu dengan gangguan autoimun tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami badai sitokin. Beberapa kasus badai sitokin ditemukan pada penyakit Still, juvenile idiopathic arthritis (JIA) sistemik, dan lupus.

Pada pasien autoimun, badai sitokin disebut dengan "sindrom aktivasi makrofag" atau macrophage activation syndrome. Keadaan ini dapat terjadi saat autoimun kambuh atau saat terjangkit infeksi lain.

Kemudian, badai sitokin juga dapat terjadi sebagai efek samping terapi medis. Salah satunya adalah terapi chimeric antigen receptor-T (CAR-T) untuk leukemia. Bukan hanya terapi medis, badai sitokin juga terjadi akibat situasi medis, seperti transplantasi organ, kanker, hingga gangguan sistem kekebalan seperti AIDS dan sepsis.

4. COVID-19 dan badai sitokin

Renggut Nyawa Raditya Oloan, Ini 7 Fakta Penting seputar Badai SitokinCOVID-19 dan badai sitokin (scitechdaily.com)

Pada pasien COVID-19, peningkatan produksi sitokin inflamasi (IFN-g, IL-1B, IL-6 dan IL-2, dan kemokin) umum terlihat. Oleh karena itu, badai sitokin adalah salah satu komplikasi mematikan yang dapat berujung pada kematian.

Saat strain virus corona baru (SARS-CoV-2) menginvasi paru-paru, kondisi ini memicu respons imun dan menarik sel imun ke wilayah tersebut untuk menyerang virus, sehingga menyebabkan inflamasi lokal. Akan tetapi, pada beberapa situasi, produksi sitokin berlebihan sehingga menyebabkan hiperinflamasi yang berakibat fatal.

Beberapa ilmuwan mengamati bahwa pasien COVID-19 yang dirawat di ICU memiliki tingkat CXCL10, CCL 2, dan TNF-a yang lebih tinggi, dibandingkan dengan pasien COVID-19 yang mengalami gejala yang lebih ringan dan tidak membutuhkan masuk ke ICU.

Dilansir WebMD, produksi sitokin pada pasien COVID-19 diketahui meningkat 50 kali. Oleh karena itu, badai sitokin diketahui sebagai salah satu penyebab utama acute respiratory distress syndrome (ARDS) yang membuat para pasien COVID-19 membutuhkan ventilator.

5. ARDS, komplikasi serius akibat badai sitokin

Renggut Nyawa Raditya Oloan, Ini 7 Fakta Penting seputar Badai Sitokinilustrasi paru-paru (unsplash.com/averey)

Seperti diuraikan di News Medical, ARDS adalah salah satu komplikasi yang menyebabkan kematian tinggi pada pasien COVID-19, diperkirakan hingga 40 persen. Ditandai dengan hipoksemia, ARDS disebabkan oleh kerusakan pada paru-paru yang diakibatkan oleh inflamasi pada membran alveolus kapiler.

ARDS menyebabkan cairan pada pembuluh darah paru-paru bocor. Paru-paru yang penuh dengan cairan tidak dapat memompa oksigen secara optimal, sehingga aliran darah dan tubuh kekurangan oksigen. Akibatnya, ARDS dapat menyebabkan hipoksia dan gagalnya fungsi organ vital seperti jantung dan otak, sehingga menyebabkan kematian.

Bukan hanya COVID-19, ARDS juga terdeteksi pada penyakit SARS, MERS, pneumonia, sepsis, dan pankreatitis. Selain itu, ARDS juga dapat terjadi akibat transfusi darah.

Baca Juga: Cek Fakta: COVID-19 adalah Bakteri yang Terpapar Radiasi 5G?

6. Diagnosis badai sitokin

Renggut Nyawa Raditya Oloan, Ini 7 Fakta Penting seputar Badai Sitokinilustrasi tes darah (freepik.com/freepik)

Diagnosis badai sitokin juga harus melibatkan kondisi medis penyerta. Jadi, selain sitokin, pemeriksaan meliputi genetik, autoimun, dan penyakit menular yang diderita. Selanjutnya, akan dilakukan berbagai tes medis.

Selain itu, pasien akan diperiksa secara menyeluruh untuk memastikan indikator-indikator lain penyebab badai sitokin. Hal ini penting karena badai sitokin dapat memengaruhi begitu banyak sistem tubuh yang berbeda. Hipotensi ekstrem, demam, dan hipoksia tidak jarang dapat ditemukan.

Tes darah dasar dapat memberikan petunjuk mendalam mengenai kelainan pada pasien badai sitokin. Pasien badai sitokin kemungkinan besar menunjukkan kelainan seperti:

  • Penurunan jumlah sel imun
  • Peningkatan biomarker penyebab kerusakan ginjal atau hati
  • Peningkatan biomarker inflamasi seperti C-reactive protein (CRP)
  • Kelainan biomarker penyebab trombosis 
  • Peningkatan protein feritin, umum terlibat dalam respons infeksi tubuh

Tes radiologi juga dapat memberikan petunjuk mengenai badai sitokin. Misalnya, tes rontgen toraks dapat menunjukkan kerusakan paru-paru akibat komplikasi badai sitokin yang terkait dengan COVID-19.

7. Penanganan badai sitokin, umum dan pasien COVID-19

Renggut Nyawa Raditya Oloan, Ini 7 Fakta Penting seputar Badai Sitokinilustrasi obat-obatan (IDN Times/Mardya Shakti)

Penting untuk merawat badai sitokin sebelum terlambat. Jika pasien mengalami gejala badai sitokin parah, seperti kesulitan bernapas, perawatan intensif sangat dibutuhkan. Beberapa upaya yang bisa dilakukan meliputi:

  • Pemantauan tanda-tanda vital secara intensif
  • Dukungan ventilator
  • Pemberian cairan lewat infus
  • Pemantauan elektrolit
  • Hemodialisis

Dalam beberapa kasus, lebih mungkin untuk mengobati penyebab pasti badai sitokin. Contoh, jika badai sitokin disebabkan infeksi bakteri, maka antibiotik dapat membantu. Namun, dalam kebanyakan kasus, pendekatan lain terhadap badai sitokin diperlukan karena sistem imun terdiri dari bagian-bagian berbeda.

Pilihan terbaik kemungkinan besar tergantung pada penyebab spesifik badai sitokin. Selain itu, perawatan sedini mungkin dianggap amat penting untuk menanggulangi badai sitokin. Dengan tingkat keberhasilan variatif, dilansir Verywell Health, beberapa obat yang bisa diberikan untuk mengatasi badai sitokin antara lain:

  • Aspirin
  • Kortikosteroid untuk pasien badai sitokin dengan autoimun
  • Obat yang memengaruhi sistem imun, seperti siklosporin
  • Terapi biologis yang memblokir produksi sitokin tertentu
  • Pertukaran plasma (plasmapheresis)
  • Statin
Renggut Nyawa Raditya Oloan, Ini 7 Fakta Penting seputar Badai Sitokinilustrasi terapi plasma konvalesen (europeanbloodalliance.eu)

Berbagai penelitian masih dilakukan untuk benar-benar memahami COVID-19 dan berbagai komplikasi yang bisa ditimbulkannya, termasuk badai sitokin. 

Dilansir News Medical, terdapat periode kritis selama 5-7 hari antara waktu diagnosis COVID-19 dan sindrom disfungsi multiorgan (MODS). Sekitar 80 persen membaik, 18 persen mengalami pneumonia akut, dan 2 persen meninggal dunia.

Beberapa terapi antiinflamasi tengah dikaji untuk mengobati badai sitokin pada pasien COVID-19. Untuk mengurangi efek badai sitokin, beberapa peneliti merekomendasikan imunoterapi setelah diagnosis badai sitokin. Beberapa imunoterapi yang disarankan adalah:

  • Menyalurkan antibodi dari plasma konvalesen penyintas COVID-19
  • Penghambat IFN
  • Penghambat oxidized phospholipid (OxPL)
  • Antagonis sphingosine-1-phosphate receptors 1 (S1P1)

Akan tetapi, studi klinis masih dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan opsi imunoterapi terhadap badai sitokin pada pasien COVID-19. Jadi, konsultasikan dengan ahlinya sebelum mengambil opsi tersebut.

Itulah beberapa fakta mengenai badai sitokin, salah satu komplikasi berpotensi bahaya bagi pasien COVID-19. Penanganan dini secara cepat dan tepat bisa meningkatkan peluang untuk pasien pulih dan selamat.

Baca Juga: Penyakit Gusi Memperparah Gejala COVID-19? Ini Faktanya

Topic:

  • Alfonsus Adi Putra
  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya