Virus influenza pada dasarnya terus berevolusi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Inilah alasan mengapa vaksin flu perlu diperbarui secara berkala. Pada tahun-tahun tertentu, virus mengalami mutasi lebih banyak dibanding tahun lainnya, dengan perubahan besar yang umumnya terjadi setiap empat hingga lima tahun.
Dalam konteks ini, lonjakan flu yang kemudian dijuluki super flu sebenarnya bukan fenomena baru, melainkan bagian dari siklus evolusi virus influenza. Subtipe flu yang dominan pada musim ini, yaitu influenza A/H3N2, telah beredar sejak 1968 dan tercatat telah mengalami lebih dari selusin perubahan genetik besar sejak saat itu.
Subclade K merupakan bagian dari virus H3N2 yang dikenal lebih mudah menular dan cenderung menyebabkan gejala lebih berat dibanding subtipe influenza lainnya. Varian ini memiliki sejumlah mutasi yang membuatnya lebih cepat menyebar di populasi yang belum memiliki kekebalan spesifik, sehingga dalam waktu singkat kasus flu melonjak tajam dan membebani fasilitas layanan kesehatan.
Dengan pola evolusi tersebut, para ahli menilai bahwa apa yang kini disebut sebagai super flu pada dasarnya adalah kemunculan varian baru yang berhasil menemukan celah dalam kekebalan populasi, sesuatu yang memang terjadi secara berkala.