Gunung Anak Krakatau yang mengalami erupsi sejak Jumat malam (5/9) mengeluarkan abu vulkanik yang terbawa angin dan menyebar ke beberapa wilayah. BMKG menyebut abu sampai ke wilayah Lampung hingga sebagian Jakarta.
Sebaran abu dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga masyarakat di wilayah terdampak perlu mengikuti informasi resmi serta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika udara tampak berdebu.
Abu yang telah jatuh juga dapat kembali beterbangan saat angin bertiup, kendaraan melintas, atau permukaan dibersihkan. Abu yang semula tampak diam pun dapat masuk bersama setiap tarikan napas.
Abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran tidak lebih dari dua milimeter. Jadi, material ini berbeda dari abu lembut yang tersisa setelah kayu atau kertas terbakar.
Bahaya bagi pernapasan terutama berasal dari bagian abu yang cukup kecil untuk tetap melayang dan terhirup.
