Centers for Disease Control and Prevention, “Preparing for a Volcanic Eruption,” diakses September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Before, During, and After an Emergency,” diakses September 2026.
Nastiti Kaswandani, “Lindungi Anak dari Abu Vulkanik,” Ikatan Dokter Anak Indonesia, diakses September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Wildfire Smoke and Children,” diakses September 2026.
L. Forbes, D. Jarvis, J. Potts, dan P. J. Baxter, “Volcanic Ash and Respiratory Symptoms in Children on the Island of Montserrat, British West Indies,” Occupational and Environmental Medicine 60, no. 3 (2003): 207–11, https://doi.org/10.1136/oem.60.3.207.
Ikatan Dokter Anak Indonesia, “Menyusui dalam Keadaan Bencana,” diakses September 2026.
World Health Organization, “Humanitarian Emergencies,” diakses September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Helping Children Cope with a Disaster,” diakses September 2026.
Panduan bagi Orang Tua untuk Lindungi Anak saat Gunung Meletus

Orang tua perlu mengikuti arahan otoritas, segera evakuasi bila diperintahkan, menetapkan pendamping dan titik temu keluarga, serta memastikan kontak darurat anak selalu diperbarui.
Tas siaga anak perlu memuat makanan, air, pakaian, popok, obat rutin, dan benda penenang; informasikan penyakit, alergi, atau kebutuhan khusus kepada petugas pengungsian.
Batasi paparan abu, jaga ASI, makanan, dan kebersihan, dampingi emosi anak, serta segera cari bantuan medis saat muncul gangguan napas berat atau kondisi kesehatan memburuk.
Saat ada kabar gunung meletus, orang tua perlu memikirkan banyak hal sekaligus. Di antaranya membawa anak ke tempat aman, menyiapkan kebutuhannya, dan menjelaskan mengapa keluarga harus meninggalkan rumah.
Bellum lagi di tengah persiapan yang serba cepat, kebutuhan setiap anak bisa berbeda, terutama bayi dan anak yang membutuhkan pengobatan rutin.
Sesampainya di tempat aman, anak masih butuh makanan sesuai usia, lingkungan yang bersih, serta orang dewasa yang mendampinginya. Karena itu, persiapan keluarga perlu mencakup keselamatan, kesehatan fisik, dan kenyamanan emosional anak.
Berikut panduan bagi orang tua untuk melindungi anak saat kondisi gunung meletus.
Table of Content
1. Siapkan evakuasi dan jangan sampai anak terpisah dari keluarga
Ikuti informasi otoritas resmi setempat. Jika diminta mengungsi, segera ikuti jalur yang ditentukan. Berlindung di rumah untuk menghindari abu hanya dilakukan ketika petugas menyatakan langkah itu sesuai; jangan bertahan jika ada perintah evakuasi.
Tentukan siapa yang mendampingi setiap anak dan tempat keluarga bertemu jika terpisah. Ajarkan nomor telepon orang tua kepada anak yang sudah mampu mengingatnya.
Jika anak sedang di sekolah atau tempat penitipan, ikuti prosedur penjemputan darurat dan pastikan kontak orang tua sudah diperbarui.
2. Bawa kebutuhan anak, termasuk obat dan benda kesayangannya

ilustrasi seorang ibu packing kebutuhan anak untuk evakuasi (pexels.com/sarah-chai) Siapkan tas berisi makanan sesuai usia, air minum, pakaian, popok jika diperlukan, dan obat rutin. Masukkan pula mainan kecil atau benda kesayangan yang dapat membantu menenangkan anak.
Untuk anak dengan asma, siapkan obat yang biasa digunakan. Beri tahu petugas pengungsian mengenai penyakit, alergi obat, atau kebutuhan bantuan khusus anak, lalu cari tahu lokasi pos kesehatan.
3. Lindungi anak dari abu dan area yang berbahaya
Batasi kegiatan di luar ketika abu beterbangan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan perlindungan mata, pakaian tertutup, dan masker berukuran anak yang terpasang dengan baik.
Anak usia di bawah 2 tahun tidak boleh dipakaikan masker; utamakan membawanya ke tempat yang udaranya lebih bersih. Jangan mengandalkan masker dewasa yang longgar pada wajah anak.
Langkah ini didukung oleh penelitian di Montserrat: pada anak usia 12 tahun ke bawah, riwayat paparan abu sedang atau tinggi berkaitan dengan lebih banyak keluhan mengi dibandingkan paparan rendah. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya pembatasan paparan.
Jauhkan anak dari lokasi pembersihan dan puing-puing. Anak tidak perlu ikut membersihkan sisa bencana. Di tempat berlindung, kurangi masuknya abu dan hindari asap rokok maupun asap dapur.
4. Jaga asupan bayi dan kebersihan di pengungsian
IDAI menekankan pemberian ASI tetap diteruskan selama bencana. Sediakan kesempatan dan tempat yang nyaman untuk menyusui. Bayi usia 6 bulan ke atas tetap memerlukan makanan pendamping ASI.
Bayi yang menggunakan susu formula juga harus tetap mendapat asupan. Minta bantuan petugas kesehatan untuk memastikan pasokan, air yang aman, serta kebersihan peralatan. Keterbatasan sanitasi bisa membuat penyiapannya lebih sulit, sehingga bantuan susu perlu disertai pendampingan.
Gunakan air minum yang dinyatakan aman. Cuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak, serta setelah menggunakan toilet atau membersihkan kotoran bayi. Ini penting ini untuk mengurangi risiko penularan penyakit.
5. Bantu anak memahami situasi dan merasa didampingi

ilustrasi orang tua sedang berbicara kepada anak (pexels.com/Monstera Production) Anak mungkin menjadi lebih rewel, sulit tidur, atau takut berpisah setelah bencana. Jelaskan situasi dengan jujur menggunakan bahasa sesuai usia. Dengarkan pertanyaannya dan beri ruang untuk menceritakan kekhawatirannya.
Sebisa mungkin pertahankan kebiasaan makan, tidur, dan bermain. Batasi tontonan berulang tentang letusan atau korban bencana yang dapat membuat anak kembali tertekan.
Jika rasa takut atau perubahan perilaku memburuk, mengganggu keseharian, atau menetap selama 2–4 minggu, konsultasikan dengan dokter atau psikolog.
6. Jangan menunda pertolongan saat anak sakit
Segera cari bantuan medis jika anak kesulitan bernapas berat, sangat mengantuk hingga sulit dibangunkan, atau tidak mau makan dan minum.
Keluhan lain yang muncul atau memburuk juga perlu dilaporkan ke petugas kesehatan. Jangan menunggu sampai keluarga kembali ke rumah untuk melanjutkan pengobatan anak.
Referensi






![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok Menekuni Yoga atau Pilates? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)













