Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Obat Kolesterol Bisa Bikin Gemuk?

3 min read
Apakah Obat Kolesterol Bisa Bikin Gemuk?
ilustrasi obat-obatan penurun kolesterol (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Metaanalisis 2026 pada 123.940 peserta tidak menemukan kenaikan berat badan bermakna sebagai efek statin, meski perubahan berat badan tetap dapat terjadi karena faktor lain.

  • Analisis 2015 mencatat pengguna statin rata-rata 0,24 kilogram lebih berat setelah 4,2 tahun; bukti keseluruhan menunjukkan selisih ini kecil.

  • Obat kolesterol mencakup berbagai jenis selain statin. Jika berat badan berubah, catat waktunya dan konsultasikan ke dokter tanpa mengurangi dosis atau menghentikan obat sendiri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Berat badan yang berubah setelah seseorang mulai minum obat kolesterol bisa membuatnya bertanya-tanya apakah obat itu penyebabnya. Kekhawatiran ini wajar, terutama karena perubahan berat badan sering dikaitkan dengan berbagai efek samping obat.

Benarkah obat kolesterol dapat membuat seseorang menjadi gemuk? Atau justru ada faktor lain yang lebih berperan?

Sebelum menyalahkan obat sebagai penyebab kenaikan berat badan, penting untuk memahami bagaimana obat kolesterol bekerja di dalam tubuh.

  1. 1. Kenaikan berat badan yang bermakna belum terbukti sebagai efek statin

    Metaanalisis dalam jurnal The Lancet pada 2026 menggabungkan data uji klinis acak tersamar ganda. Sebanyak 123.940 peserta dalam 19 uji klinis menerima statin atau plasebo, dengan masa pemantauan median 4,5 tahun. Dari 66 efek yang dicantumkan pada informasi produk statin, tidak ditemukan kelebihan laporan kenaikan berat badan yang bermakna pada kelompok pengguna statin.

    Bukan berarti perubahan berat badan mustahil terjadi pada pengguna statin. Namun, jika berat bertambah setelah obat digunakan, urutan waktunya saja belum cukup untuk memastikan bahwa obatlah penyebabnya.

  2. 2. Penelitian pernah menemukan selisih rata-rata yang kecil

    Analisis uji klinis lain, yang diterbitkan pada 2015 dan mencakup 129.170 peserta, membandingkan perubahan berat badan pada pengguna statin dan kelompok pembanding. Setelah rata-rata pemantauan 4,2 tahun, berat peserta yang mendapat statin tercatat sekitar 0,24 kilogram lebih tinggi.

    Angka itu adalah selisih rata-rata antarkelompok. Jika dipadukan dengan metaanalisis terbaru, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa kenaikan rata-rata yang pernah terukur tergolong kecil, sementara kenaikan berat badan bermakna sebagai efek samping belum terbukti.

  3. 3. Obat kolesterol bukan cuma statin

    Ilustrasi pil dan tablet obat oral dalam berbagai bentuk sebagai gambaran penggunaan obat yang diminum melalui mulut.
    ilustrasi obat oral pil, tablet, kapsul (IDN Times/NRF)

    Obat kolesterol juga mencakup ezetimibe, penghambat PCSK9, fibrat, dan obat lain. Obat-obat ini bekerja dengan cara berbeda, sehingga temuan tentang statin tidak otomatis berlaku untuk semuanya.

    Jenis obat yang digunakan dapat diperiksa pada kemasan atau ditanyakan kepada dokter maupun apoteker.

  4. 4. Jangan menghentikan obat tanpa berkonsultasi

    Jika berat badan berubah setelah mulai minum obat, catat kapan perubahan itu terjadi dan sampaikan kepada dokter yang meresepkan.

    Dokter dapat menilai kemungkinan penyebab lain, meninjau obat yang digunakan, serta menentukan apakah perlu pemeriksaan atau penyesuaian obat.

    Jangan mengurangi dosis atau berhenti minum obat kolesterol sendiri. Laporan semua efek yang dirasakan dan berkonsultasi dengan dokter yang merawat sebelum menghentikan pengobatan.

    Referensi

    American Heart Association, “Cholesterol-Lowering Medications,” diakses Oktober 2026.

    Cholesterol Treatment Trialists’ (CTT) Collaboration, “Assessment of Adverse Effects Attributed to Statin Therapy in Product Labels: A Meta-Analysis of Double-Blind Randomised Controlled Trials,” The Lancet 407, no. 10529 (2026): 689–703, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(25)01578-8.

    University of Oxford, “Statins Do Not Cause the Majority of Side Effects Listed in Package Leaflets,” diakses Oktober 2026.

    Daniel I. Swerdlow et al., “HMG-Coenzyme A Reductase Inhibition, Type 2 Diabetes, and Bodyweight: Evidence from Genetic Analysis and Randomised Trials,” The Lancet 385, no. 9965 (2015): 351–61, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(14)61183-1.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More