Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Asam Lambung Naik Saat Puasa? Ini Penyebab dan Tips Mengatasinya
gambar orang yang menderita refluks asam (freepik.com/diana.grytsku)
  • Puasa Ramadan membawa banyak manfaat kesehatan, tapi sebagian orang mengalami kenaikan asam lambung yang menimbulkan gejala seperti nyeri dada, mual, dan sensasi terbakar di kerongkongan.
  • Kondisi ini terjadi karena perut kosong tetap memproduksi asam tanpa penetral alami dari makanan, ditambah kebiasaan makan berlebihan atau langsung berbaring setelah makan.
  • Untuk mencegahnya, disarankan minum air cukup, hindari gorengan dan porsi besar saat berbuka, kunyah perlahan, serta beri jeda sebelum tidur agar pencernaan bekerja optimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah wajib yang dilakukan oleh umat Islam. Selama menjalankan ibadah puasa, muslim dilarang makan dan minum hingga waktu Magrib tiba. Puasa Ramadan bahkan sangat baik dan memiliki sejumlah manfaat kesehatan bagi tubuh. Dilansir Cleveland Clinic Abu Dhabi, mulai dari membantu membakar lemak tubuh dan menurunkan berat badan, mengeluarkan racun, hingga menghancurkan kolesterol jahat atau LDL dari tubuh. 

Namun pada praktiknya, gak sedikit orang yang mengalami sejumlah masalah kesehatan. Salah satu yang paling sering adalah, naiknya asam lambung yang menyebabkan sejumlah gejala. Biasanya asam lambung naik sesaat setelah berbuka puasa, atau justru setelah makan sahur. Kenapa bisa begitu? Ternyata ini penyebabnya!

1. Asam lambung terjadi ketika cairan asam naik ke kerongkongan

ilustrasi kondisi lambung penderita GERD dan refluks asam (freepik.com/brgfx)

Refluks asam atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan penyakit asam lambung, merupakan kondisi ketika cairan asam yang seharusnya berada di lambung, naik ke kerongkongan dan tenggorokan. Dilansir WebMD, naiknya asam lambung ini disebabkan oleh cincin otot yang dikenal dengan nama lower esophageal sphincter (LES). Bisa dibilang, lower esophageal sphincter ini merupakan pintu masuk menuju perut. Normalnya, bagian ini akan membuka ketika makanan masuk dan tertutup secara otomatis ketika makanan sudah lewat.

Sayangnya, pola makan dan hidup yang berantakan, membuat lower esophageal sphincter melemah. Akibatnya, lower esophageal sphincter jadi terlalu sering terbuka, memudahkan asam lambung untuk naik dari perut ke kerongkongan dan menyebabkan sejumlah gejala. Gejala asam lambung naik sendiri sangat beragam seperti sensasi terbakar di dada atau kerongkongan, kembung, mual, bau mulut, nyeri dada, bahkan menyebabkan muntah darah.

2. Bagaimana asam lambung bisa naik saat puasa?

gambar piring kosong (unsplash.com/Thought Catalog)

Saat kita berpuasa, perut kita kosong selama belasan jam. Kabar buruknya perut kosong gak lantas membuat lambung berhenti bekerja. Dilansir Tampa Bay Reflux Institute, selama perut kita kosong, lambung tetap memproduksi zat asam. Dalam kondisi normal, zat asam ini digunakan untuk memecah makanan agar bisa dicerna dan diserap oleh usus.

Di sisi lain, keberadaan makanan juga membantu menetralkan cairan asam yang ada di lambung. Namun ketika kita puasa, perut kosong membuat asam lambung gak bisa dinetralkan. Ditambah fungsi lower esophageal sphincter yang melemah, membuat asam lambung dapat naik ke kerongkongan dengan mudah. Selain perut yang kosong, naiknya asam lambung saat puasa juga bisa dipicu beberapa faktor. Misalnya konsumsi makanan pedas, makan berlebihan, hingga berbaring hanya beberapa menit setelah makan.

3. Tips mengatasi asam lambung yang naik saat puasa

gambar seorang perempuan sedang makan (unsplash.com/Louis Hansel)

Asam lambung naik setelah berbuka puasa memang terasa menyiksa. Namun kondisi ini bukannya gak bisa diatasi. Dilansir Cleveland Clinic Abu Dhabi, ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi risiko asam lambung naik dan masalah pencernaan lainnya, yaitu:

  • Minum air putih dalam jumlah yang disarankan. Minumlah air setidaknya 2-3 liter per hari. Namun alih-alih sekaligus banyak, ada baiknya kalau kita minum sedikit demi sedikit dalam waktu lama. Konsumsi air putih cukup bukan hanya membuat tubuh tetap terhidrasi, tetapi juga membantu melancarkan pencernaan selama puasa. 

  • Saat berbuka puasa, aneka gorengan memang terlihat menggoda. Namun makanan tinggi lemak seperti gorengan justru bisa memicu sejumlah masalah pencernaan. Ini karena makanan tinggi lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, hingga menyebabkan mual dan sakit perut. Jadi buat kamu yang terbiasa berbuka dengan gorengan, coba deh ubah kebiasaan itu dan ganti dengan takjil yang lebih sehat.

  • Banyak orang kerap kali merasa ngantuk, dan akhirnya tidur setelah makan besar. Padahal setelah makan, terutama makan besar, sistem pencernaan kita membutuhkan waktu untuk bisa mencerna makanan. Ketika tidur, sistem pencernaan gak bisa bekerja dengan baik. Hal ini pada akhirnya memicu asam lambung naik bersamaan dengan makanan yang kamu konsumsi. Jadi meski ngantuk, usahakan untuk tidak tidur setidaknya 2-3 jam setelah makan.

  • Setelah seharian berpuasa, makanan apa pun pasti akan terlihat menggiurkan. Alhasil ketika waktu berbuka tiba, gak sedikit orang yang kalap. Semua dimakan dengan cepat. Padahal mengunyah makanan secara terburu-buru justru bisa memicu naiknya asam lambung. Alih-alih mengunyah semuanya dengan cepat, mengunyah makanan perlahan justru lebih disarankan. Selain gak bikin lambung kaget, mengunyah makanan perlahan juga membuat enzim pencernaan bisa memproses dan mencerna makanan dengan lebih efisien. 

  • Hindari makan dalam porsi yang besar. Untuk mencegah asam lambung, sebaiknya konsumsi makanan dengan porsi yang lebih kecil dan makan sedikit demi sedikit. Cara ini bikin perut terisi dengan perlahan dan membuat sistem pencernaan bisa bekerja dengan lebih baik.

Naiknya asam lambung bisa jadi sangat menyiksa selama bulan Ramadan. Bayangin, baru makan satu-dua suap aja udah bikin perut sakit dan gak nyaman. Namun penyakit ini sebetulnya bisa dihindari dengan perubahan pola makan sederhana. Terakhir, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter dan mendapatkan pengobatan jika kondisimu dirasa sudah cukup mengganggu.

Referensi

“4 Ways Fasting Can Improve Your Health.” Cleveland Clinic Abu Dhabi Health Byte. Diakses Februari 2026.

“What Is Acid Reflux Disease?” WebMD. Diakses Februari 2026.

“Dealing with Acid Reflux While Fasting.” Tampa Reflux. Diakses Februari 2026.

“Primary Function of Gastric Acid and Digestion.” PubMed / NIH. Diakses Februari 2026.

“Coping with Heartburn and Acid Reflux While Fasting — Ramadan Edition.” SSMC Health Blog. Diakses Februari 2026.

“Ramadan — How to Avoid Digestive Issues.” ExPhar. Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team