Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi herbisida (pixabay.com/Dx21)
ilustrasi herbisida (pixabay.com/Dx21)

Intinya sih...

  • Glifosat merupakan herbisida yang umum digunakan dalam produksi tanaman global.

  • Manusia bisa terpapar glifosat lewat berbagai cara, termasuk makanan dan lingkungan sekitar.

  • Risiko kesehatan akibat paparan glifosat masih menjadi perdebatan, tetapi anak-anak dianggap lebih rentan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Glifosat (glyphosate) merupakan herbisida spektrum luas (pembunuh gulma) yang paling umum digunakan. Herbisida berbahan dasar glifosat diproduksi oleh banyak perusahaan di banyak negara. Penggunaannya krusial dalam produksi tanaman global karena efektivitasnya dan biayanya yang rendah.

Glifosat dapat membunuh gulma dan rumput tertentu, yang bekerja dengan cara menghambat enzim yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Produk ini terutama digunakan di bidang pertanian, tetapi juga di bidang kehutanan, perawatan kebun, dan halaman.

Seiring waktu, makin banyak orang bertanya-tanya apakah bahan kimia ini benar-benar aman. Kekhawatiran tentang dampaknya terhadap kesehatan manusia, terutama kemungkinan hubungannya dengan kanker, meningkat.

Mari ketahui apa itu glifosat bagaimana para ilmuwan menilai risiko glifosat terhadap kesehatan lewat ulasan di bawah ini.

Cara kerja glifosat

Glifosat bekerja dengan menghentikan proses pembentukan protein tertentu yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh. Herbisida ini menghambat jalur enzim yang disebut jalur asam sikimat, yang berfungsi menghasilkan asam amino penting bagi pertumbuhan tanaman, serta beberapa makhluk hidup kecil lainnya seperti alga, jamur, dan bakteri.

Glifosat biasanya disemprotkan ke daun tanaman. Setelah diserap, zat ini cepat memengaruhi jalur tersebut. Glifosat adalah jenis herbisida sistemik, artinya ia menyebar ke seluruh bagian tanaman lewat sistem pengangkutan internal tanaman (disebut floem), yang membawa air, mineral, dan nutrisi dari daun ke bagian bawah tanaman, termasuk akar. Karena itulah, glifosat bisa membunuh tanaman sampai ke akarnya.

Glifosat digunakan untuk membasmi gulma di banyak jenis tanaman, termasuk sekitar 80 persen tanaman hasil rekayasa genetik. Benih tanaman tersebut sudah dimodifikasi agar tahan terhadap glifosat. Jadi, saat herbisida ini disemprotkan, yang mati hanya gulma, tanaman utamanya tetap aman.

Glifosat juga disemprotkan pada tanaman seperti gandum dan oat sebelum panen agar tanamannya cepat kering dan bisa dipanen lebih awal.

Selain di pertanian, glifosat juga dipakai oleh pemilik lahan seperti pemerintah daerah untuk mengendalikan gulma di taman kota, area bermain, sekolah, trotoar, dan pinggir jalan. Glifosat juga dijual bebas di banyak supermarket dan toko tanaman, dan sering digunakan oleh penghobi berkebun di rumah atau di kebun komunitas.

Bagaimana manusia bisa terpapar glifosat?

Manusia bisa terpapar glifosat lewat berbagai cara, terutama dari lingkungan sekitar dan kontak langsung. Glifosat bisa ditemukan di udara, air, dan tanah, terutama di daerah pertanian atau permukiman yang sering menggunakannya.

Menghirup glifosat bisa terjadi saat penyemprotan, terutama bagi petani, tukang kebun, atau orang yang tinggal dekat lahan pertanian.

Kontak kulit juga bisa terjadi jika menyentuh tanah, air, atau tanaman yang sudah disemprot glifosat, karena zat ini bisa bertahan cukup lama di lingkungan.

Cara paparan lainnya adalah lewat makanan, meskipun hanya dalam jumlah sangat kecil. Residu glifosat bisa ditemukan pada buah, sayur, gandum, atau makanan olahan. Ini terjadi karena:

  • Glifosat diserap sebagian oleh tanaman.

  • Sebagian lagi menempel di tanah dan bisa terbawa ke air tanah atau permukaan.

  • Sisanya bisa menyebar lewat udara, air, atau bahkan hewan seperti lebah.

Proses dari penyemprotan, panen, hingga pengolahan makanan bisa menjadi jalur masuk glifosat ke rantai makanan.

Penggunaan glifosat paling tinggi ditemukan di wilayah penghasil jagung, kedelai, dan gandum seperti Amerika Serikat (AS) bagian tengah, Brasil, Argentina, Eropa, Timur Tengah, dan Asia.

Glifosat paling sering digunakan di ladang jagung, disusul oleh ladang gandum. Jumlah penggunaannya bervariasi, tergantung jenis tanaman—dari 0,24 kg per hektar (pada pohon zaitun) hingga 4 kg per hektar (pada pohon jeruk). Ini menunjukkan betapa luas dan dalamnya peran glifosat dalam sistem pertanian modern dan rantai makanan manusia.

Karena penggunaannya yang sangat luas, masih ada kekhawatiran soal dampaknya terhadap kesehatan, terutama bagi mereka yang paling berisiko seperti para pekerja pertanian dan keluarganya. Jadi, penting untuk terus memantau dan mengatur penggunaan glifosat dengan bijak.

Paparan glifosat pada makanan

ilustrasi oatmeal dan madu (unsplash.com/Food Photographer | Jennifer Pallian)

Banyak petani menggunakan produk glifosat di ladang dan kebun buah mereka. Mereka menyemprotkannya pada tanaman seperti jagung dan kedelai yang direkayasa secara genetik agar tahan terhadap glifosat, yang juga dikenal sebagai organisme hasil rekayasa genetik (GMO). Mereka juga menyemprotkannya pada tanaman non-GMO seperti gandum, jelai, oat, dan kacang-kacangan, untuk mengeringkan tanaman sehingga mereka dapat memanennya lebih cepat. Artinya, glifosat bisa masuk ke dalam makanan sebelum bahan mentah dipanen atau diproses.

Berbagai penelitian menemukan residu glifosat (kebanyakan masih dalam batas aman) pada beragam jenis makanan, seperti:

  • Madu.

  • Buah dan kacang-kacangan (misalnya jus buah, pir, blackberry, jeruk nipis, kismis, dan kenari).

  • Serealia (sereal sarapan, camilan berbahan gandum, roti, biji gandum, rye, oat, jelai, dan biji rami).

  • Sayuran, seperti ubi, kentang, kacang polong, dan lentil kering.

  • Daging dan ikan.

Karena jelai adalah bahan utama dalam pembuatan bir, dan residu glifosat telah ditemukan dalam jelai, tidak heran jika glifosat juga ditemukan dalam bir. Satu studi yang meneliti 100 sampel bir menemukan bahwa 92 di antaranya mengandung glifosat, meski kadarnya rendah.

Glifosat juga ditemukan dalam oat. Dalam sebuah studi dari National Institute of Standards and Technology, seluruh 13 sampel makanan berbahan dasar oat yang diuji mengandung glifosat. Namun, semua kadar yang ditemukan masih jauh di bawah batas aman yang ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA).

Studi ini mengungkap kadar glifosat terendah dalam sampel sereal sarapan oat organik dan sampel tepung oat organik, sementara kadar tertinggi ditemukan dalam sampel oatmeal instan tradisional.

Apakah makanan organik bebas glifosat?

Glifosat dilarang digunakan dalam pertanian organik, jadi makan makanan organik bisa mengurangi paparan glifosat secara signifikan.

Satu studi menunjukkan bahwa orang dewasa dan anak-anak yang mulai mengonsumsi makanan organik mengalami penurunan kadar glifosat hingga 70 persen hanya dalam 6 hari. Meski begitu, jejak glifosat kadang masih bisa ditemukan pada makanan organik, tetapi dalam jumlah yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan makanan dari pertanian konvensional.

Toksisitas glifosat

Toksisitas akut adalah bahaya yang muncul akibat paparan sekali waktu terhadap bahan kimia, misalnya lewat kulit atau tertelan saat proses penyemprotan herbisida. Sementara itu, toksisitas kronis adalah bahaya yang muncul akibat paparan jangka panjang, seperti mengonsumsi sedikit demi sedikit residu glifosat dari makanan setiap hari.

Glifosat diketahui memiliki toksisitas akut yang lebih rendah pada manusia dibandingkan 94 persen jenis herbisida lainnya. Bahkan, glifosat kurang beracun dibanding cuka atau garam dapur bila dilihat dari paparan tunggal.

Dari sisi paparan jangka panjang, toksisitas kronis glifosat juga lebih rendah dibandingkan 90 persen herbisida lainnya.

Risiko paparan glifosat dari makanan

Berbagai penelitian di seluruh dunia telah dilakukan untuk mengetahui seberapa besar manusia terpapar glifosat lewat makanan, dan apa saja risiko kesehatannya.
Antara tahun 2018 hingga 2024, ada 12 studi yang meneliti paparan glifosat dari makanan dan air. Topik yang diteliti meliputi:

  • Air minum (5 studi)

  • Beragam jenis makanan (3 studi)

  • Roti dan tepung

  • Kacang-kacangan dan jamur

  • Produk dari lebah seperti lilin dan madu

  • Jagung dan kedelai

Studi ini dilakukan di berbagai negara, termasuk AS, Kanada, negara-negara Uni Eropa, Brasil, Lebanon, China, dan Iran. Mereka melihat pola konsumsi makanan masyarakat, kadar glifosat dalam urine, dan membandingkannya dengan batas aman harian yang telah ditetapkan (disebut Acceptable Daily Intake atau ADI).

Sebagian besar studi menunjukkan bahwa paparan glifosat dari makanan masih berada di bawah batas aman, bahkan dalam skenario terburuk. Hazard Quotient (HQ)(ukuran untuk menilai risiko kesehatan) juga menunjukkan bahwa risiko kesehatannya sangat rendah.

Namun, satu studi di Brasil (oleh Panis et al.) menemukan adanya korelasi kuat antara kadar glifosat dan angka kasus kanker, terutama kanker payudara. Akan tetapi, temuan studi tersebut dibantah oleh studi lain, yang menyatakan bahwa data tersebut tidak cukup kuat untuk menarik kesimpulan langsung.

Anak-anak lebih rentan

Anak-anak memiliki tubuh yang masih berkembang, sehingga mereka:

  • Punya organ detoksifikasi (seperti hati dan ginjal) yang belum bekerja optimal.

  • Makan lebih banyak per kilogram berat badan dibanding orang dewasa.

  • Sedang mengalami pertumbuhan cepat, sehingga sel dan jaringan mereka lebih mudah rusak jika terpapar zat berbahaya.

Itu sebabnya, paparan glifosat dari makanan seperti sereal, gandum, jagung, atau kedelai (yang sering dikonsumsi anak-anak) menjadi perhatian khusus. Bahkan, ASI atau susu formula pun bisa menjadi jalur paparan tak langsung, tergantung dari pola makan ibu atau bahan baku susu.

Karena itu, badan pengawas makanan seperti EFSA (Uni Eropa) sudah membuat pedoman khusus untuk bayi di bawah usia 16 minggu, dengan batas residu pestisida yang lebih ketat dan panduan kesehatan yang disesuaikan.

Bagaimana dengan diet Mediterania?

Meskipun sayuran dalam diet Mediterania kadang mengandung glifosat, tetapi konsumsi keseluruhan dari pola makan ini tetap dianggap memiliki risiko sangat rendah terhadap kesehatan.

Uni Eropa bahkan membuat simulasi terburuk, di mana semua makanan (termasuk ikan, daging, dan produk susu) dianggap mengandung glifosat mendekati batas maksimum. Hasilnya, konsumsi glifosat masih hanya 17 persen dari batas aman harian.

Apakah glifosat bisa menyebabkan kanker?

ilustrasi menyemprot pestisida di sawah (pexels.com/Balazs Simon)

Topik mengenai apakah zat ini bisa menyebabkan kanker pada manusia masih menjadi perdebatan terbuka.

Pada tahun 1985, EPA sempat mengklasifikasikan glifosat sebagai "Kategori C", yaitu kemungkinan karsinogen (zat pemicu kanker) bagi manusia. Hal ini memicu minat besar dari para peneliti, terutama yang bekerja di bidang pertanian, untuk mencari tahu lebih lanjut.

Namun, setelah itu, selama hampir 30 tahun (1985–2015), berbagai studi, baik pada hewan maupun manusia, menunjukkan bahwa kanker jarang terjadi akibat paparan glifosat, sehingga glifosat tidak lagi dianggap sebagai zat yang memicu kanker.

Lalu, pada tahun 2015, International Agency for Research on Cancer (IARC) yang berada di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali memicu perdebatan. Mereka mengklasifikasikan glifosat sebagai "kemungkinan karsinogen bagi manusia" (probable human carcinogen) kategori 2A, setelah melihat bukti kuat dari studi pada hewan yang menunjukkan efek karsinogenik (pemicu kanker) dan genotoksik (merusak DNA).

Kategori 2A ini juga meliputi: akrilamida, patogen seperti malaria, daging merah, dan minuman yang sangat panas pada suhu di atas 65 derajat Celcius.

Sampai sekarang, belum ada kesimpulan final dari dunia medis dan ilmiah tentang apakah glifosat benar-benar menyebabkan kanker pada manusia melalui konsumsi makanan.

Namun, sebuah studi pada tahun 2017 menemukan bahwa konsumsi makanan yang mengandung glifosat dalam jangka panjang, bahkan dalam dosis kecil, bisa merusak hati. Kerusakan ini bisa berkembang menjadi penyakit hati berlemak nonalkoholik (NAFLD) dan nekrosis hati (kematian jaringan hati).

Residu glifosat memang ditemukan secara luas pada berbagai produk, seperti susu, daging, sereal, sayuran, dan madu. Meski begitu, sebagian besar kadar glifosat masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan. Namun, beberapa studi menyoroti kekhawatiran terhadap keberadaan glifosat dalam bahan pokok seperti gandum, tepung, dan oat, yang bisa berdampak pada paparan jangka panjang dari makanan sehari-hari.

Secara umum, tidak ditemukan adanya pelampauan batas aman harian secara signifikan. Risiko terhadap kesehatan manusia, termasuk anak-anak, dinilai sangat rendah. Walaupun begitu, hasil studi yang bervariasi, terutama soal potensi kanker, menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak.

Diperlukan pula peningkatan dalam pengawasan, pembaruan standar keamanan, dan kajian lebih dalam terkait paparan gabungan dari berbagai jalur (makanan, air, udara) sepanjang hidup, serta dampak perubahan iklim dan praktik pertanian terhadap penggunaan glifosat, keamanan pangan, dan kesehatan masyarakat.

Referensi

"Questions and Answers on Glyphosate." U.S. Food and Drug Administration. Diakses Juli 2025.

Christelle Bou-Mitri et al., “Glyphosate in Food: A Narrative Review,” Journal of Agriculture and Food Research, January 1, 2025, 101643, https://doi.org/10.1016/j.jafr.2025.101643.

"Glyphosate in Food: How Dangerous is it?" News Medical Life Sciences. Diakses Juli 2025.

"Diet Is a Factor in Contact with Glyphosate." Centers for Disease Control and Prevention. Diakses Juli 2025.

"Glyphosate Contamination in Food Goes Far Beyond Oat Products." Environmental Working Group. Diakses Juli 2025.

"Glyphosate (Roundup): Understanding Risks to Human Health." PennState Extension. Diakses Juli 2025.

"Glyphosate: Health Concerns and Safer Alternatives." Drugwatch.com. Diakses Juli 2025.

"Glyphosate." Pesticide Action Network UK. Diakses Juli 2025.

"Glyphosate Herbicides and Your Health." WebMD. Diakses Juli 2025.

Andrew R. Kniss, “Long-term Trends in the Intensity and Relative Toxicity of Herbicide Use,” Nature Communications 8, no. 1 (April 10, 2017), https://doi.org/10.1038/ncomms14865.

Carolina Panis et al., “Widespread Pesticide Contamination of Drinking Water and Impact on Cancer Risk in Brazil,” Environment International 165 (June 3, 2022): 107321, https://doi.org/10.1016/j.envint.2022.107321.

Peter Rembischevski and Francisco J.R. Paumgartten, “On The Excess of Cancer Cases Attributable to Drinking Water Contamination by Pesticides in Brazil (Comment on Panis Et Al. 2022. Widespread Pesticide Contamination of Drinking Water and Impact on Cancer Risk in Brazil. Environ. Int. 165: 107321),” Environment International 169 (September 22, 2022): 107539, https://doi.org/10.1016/j.envint.2022.107539.

Vincenzo Torretta et al., “Critical Review of the Effects of Glyphosate Exposure to the Environment and Humans Through the Food Supply Chain,” Sustainability 10, no. 4 (March 24, 2018): 950, https://doi.org/10.3390/su10040950.

Robin Mesnage et al., “Multiomics Reveal Non-alcoholic Fatty Liver Disease in Rats Following Chronic Exposure to an Ultra-low Dose of Roundup Herbicide,” Scientific Reports 7, no. 1 (January 9, 2017), https://doi.org/10.1038/srep39328.

Editorial Team