Comscore Tracker

Enkopresis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penanganan

Penyebab anak sering buang air besar di celana

Enkopresis (encopresis) adalah kondisi medis yang menyebabkan anak buang air besar (BAB) yang berulang di celananya. Bukan karena sengaja, tetapi ini terjadi karena kebocoran tinja yang tak tertahan.

Kondisi yang juga dikenal sebagai inkontinensia tinja ini disebut sebagai kondisi medis jika terjadi pada anak di atas usia 4 tahun, ketika mereka sudah belajar menggunakan toilet (toilet training). Profesional kesehatan tidak menganggap kondisi ini sebagai kondisi medis ketika terjadi pada anak di bawah usia tersebut.

Apa yang menyebabkan enkopresis? Apakah ini bisa dicegah? Yuk, simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

1. Penyebab

Enkopresis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penangananilustrasi potty training atau toilet training pada anak (parents.actionforchildren.org.uk)

Dilansir Medical News Today, enkopresis bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala dari sembelit atau konstipasi kronis (jangka panjang) dan stres emosional yang dialami anak.

Sembelit merupakan kondisi jarang BAB yang menyebabkan tinja menjadi keras, kering, dan menumpuk di usus besar. Anak-anak yang mengalami sembelit mungkin juga mengalami kesulitan atau rasa sakit saat mengeluarkan tinja, sehingga membuat mereka menghindari pergi ke toilet atau memiliki kebiasaan menahan BAB.

Sementara tinja yang tidak dikeluarkan, dapat menyebabkan impaksi tinja atau penumpukan tinja, yang pada akhirnya memicu peregangan usus besar. Peregangan ini menyebabkan anak kehilangan kontrol alami untuk BAB. Akibatnya, tinja lunak atau cair dapat bocor di sekitar tinja yang tertahan dan menyebabkan enkopresis.

Pada awalnya, tinja yang keluar akibat enkopresis mungkin hanya sejumlah kecil yang menghasilkan garis-garis kotoran di celana dalam anak. Namun, seiring waktu, ini dapat membuat anak tidak bisa menahan fesesnya dan mengeluarkan banyak feses yang bocor.

Anak-anak sering kali tidak menyadari melakukan hal ini (mengeluarkan tinja di  celana dalamnya). Dilansir WebMD, sebagian besar anak dengan enkopresis mengatakan mereka tidak memiliki keinginan untuk BAB sebelum mengotori pakaian dalam mereka.

Tak hanya itu, enkopresis juga bisa terjadi akibat masalah psikososial, yaitu perubahan dalam kehidupan anak baik bersifat psikologis maupun sosial yang berdampak cukup signifikan. Ini mungkin terkait:

  • Perubahan aktivitas anak, misalnya mulai masuk sekolah.
  • Perubahan pola makan.
  • Pelatihan toilet yang prematur, sulit atau penuh konflik.
  • Konflik keluarga, seperti perceraian orang tua atau kelahiran saudara kandung.
  • Beberapa hal lain yang bisa memicu stres anak juga dapat memicu enkopresis.

2. Tanda dan gejala

Enkopresis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penangananilustrasi anak rewel (pexels.com/Lucas Pezeta)

Kebocoran tinja pada pakaian dalam anak adalah tanda umum enkopresis. Sekitar 80 persen anak dengan enkopresis dilaporkan mengalami sembelit atau BAB yang menyakitkan di masa lalu, sehingga ini mungkin juga menimbulkan beberapa gejala lain, termasuk:

  • Sembelit dengan tinja yang kering, keras, atau bahkan sangat besar sesekali.
  • Tinja yang encer dan berair menyerupai diare.
  • Menghindari BAB.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Sakit perut.
  • Episode mengotori biasanya terjadi pada siang hari, saat anak terjaga dan aktif. Kotoran pada malam hari jarang terjadi.
  • Infeksi saluran kemih berulang.

Anak dengan enkopresis mungkin juga mengalami berbagai emosi, seperti malu, marah, frustrasi, atau bersalah karena diejek teman atau dihukum oleh orang dewasa. Ini dapat membuat mereka mengembangkan perilaku yang tertutup seputar masalah tersebut, rasa tertekan, ataupun harga diri yang rendah.

Baca Juga: Insecure: Jenis, Penyebab, Faktor Risiko, dan Penanganan

3. Siapa yang berisiko mengalami gangguan ini? 

Enkopresis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penangananilustrasi anak dengan stres emosional (pexels.com/Katya Wolf)

Enkopresis biasanya terjadi pada anak di bawah usia 10 tahun, di mana anak laki-laki diketahui lebih sering mengembangkannya daripada anak perempuan. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko mengalami enkopresis di antaranya:

  • Penggunaan obat-obatan yang menyebabkan sembelit.
  • Pola makan yang rendah serat dan cairan yang dapat memicu sembelit.
  • Anak yang tidak aktif dalam aktivitas fisik.
  • Kebiasaan menahan BAB.
  • Mengalami gangguan perkembangan saraf, seperti gangguan spektrum autisme atau gangguan pemusatan perhatian (ADHD).
  • Gangguan kecemasan atau depresi.

4. Diagnosis

Enkopresis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penangananilustrasi pemeriksaan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Untuk menegakkan diagnosis enkopresis, dokter mungkin akan melakukan beberapa pemeriksaan, termasuk:

  • Pemeriksaan riwayat kesehatan anak, kebiasaan makan, ataupun riwayat pelatihan toilet (toilet training).
  • Pemeriksaan fisik untuk mengetahui kondisi kesehatan anak secara umum dan status usus besar, rektum, dan anus. Pemeriksaan dilakukan dengan memasukkan jari ke dalam rektum untuk meraba feses dan memastikan lubang anus dan rektum berukuran normal. Pemeriksaan ini juga bertujuan untuk memeriksa otot-otot anus dalam kekuatan normal.
  • Rontgen perut biasanya direkomendasikan untuk memastikan adanya tinja yang menumpuk dalam perut dan mengetahui seberapa banyak penumpukan tinja.
  • Barium enema, yaitu pemeriksaan radiologi untuk mengetahui kelainan pada usus besar.
  • Manometri anorektal untuk mengetahui bagaimana anak menggunakan otot perut, panggul, dan anus saat BAB. Anak yang mengalami konstipasi kronis dan/atau enkopresis tidak menggunakan otot mereka secara terkoordinasi selama BAB.
  • Evaluasi psikologis anak, yang mana ini digunakan untuk mengevaluasi masalah emosional atau psikologis yang mungkin dialami anak.

5. Penanganan

Enkopresis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penangananilustrasi anak makan buah (pexels.com/Jill Wellington)

Penanganan enkopresis biasanya berfokus pada pembersihan tinja yang tertahan dan mendorong pergerakan usus yang sehat. Perawatan psikoterapi terkadang juga diperlukan jika enkopresis terkait dengan masalah emosional.

Proses pembersihan usus biasanya meliputi:

  • Penggunaan obat pencahar yang kuat untuk meningkatkan jumlah air dalam usus bagian bawah dan mendorong BAB. Misalnya magnesium sitrat, miralat.
  • Supositoria rektal, yaitu tablet kapsul yang dimasukkan ke dalam rektum untuk merangsang rektum berkontraksi dan mengeluarkan tinja.
  • Enema, yaitu dengan menyuntikkan cairan ke dalam rektum untuk melunakkan tinja dan memberi dorongan untuk BAB.

Sementara untuk mendorong usus yang sehat, penting untuk memastikan anak BAB secara teratur. Dokter mungkin menyarankan beberapa hal berikut:

  • Perubahan pola makan yang mengandung lebih banyak serat dan minum cairan yang cukup.
  • Pemberian obat pencahar setiap hari dengan rekomendasi dokter.
  • Melatih anak untuk pergi ke toilet sesegera mungkin ketika muncul keinginan untuk BAB.
  • Percobaan singkat berhenti minum susu sapi atau memeriksa intoleransi susu sapi jika diindikasikan. Pada beberapa kasus, susu sapi dapat menyebabkan sembelit yang memicu enkopresis.

Sebagian besar kasus enkopresis memiliki prospek masa depan yang baik, meskipun ada beberapa yang mengembangkan sembelit kronis hingga dewasa. Mencegah sembelit adalah cara terbaik untuk menghindari enkopresis. Jika anak mengalami kondisi ini, sebaiknya beri dukungan positif dan tidak mempermalukan ataupun menyalahkan anak.

Baca Juga: Barotrauma: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Penanganan

Dwi wahyu intani Photo Verified Writer Dwi wahyu intani

@intanio99

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R F

Berita Terkini Lainnya