“Obat Covifor atau remdesivir termasuk obat Emergency Use Authorization untuk pasien Covid-19. Sebelumnya, obat ini dipakai untuk pasien Ebola, namun di Amerika telah diuji klinis untuk pasien Covid-19. Obat ini bukan obat yang dijual bebas, hanya boleh digunakan di rumah sakit dengan pengawasan dokter,” kata keterangan tertulis dari pihak Corporate Media Relations mengatasnamakan Vidjongtius, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk.
5 Fakta Covifor untuk Terapi COVID-19 yang Akan Masuk Indonesia

Dalam waktu dekat, Covifor (remdesivir) untuk pasien COVID-19 akan segera masuk dan didistribusikan di Indonesia. Diproduksi oleh Hetero, perusahaan farmasi generik di India, nantinya obat tersebut akan didistribusikan oleh PT Kalbe Farma Tbk.
Lantas, obat seperti apakah Covifor ini? Bagaimana cara kerja dan tingkat keberhasilannya untuk pasien dengan COVID-19? Berikut ini informasinya.
1. Covifor merupakan repurposed drug yang sebenarnya digunakan untuk menangani virus Ebola

Bagi yang belum tahu, Covifor adalah remdesivir versi generik dari perusahaan Gilead Sciences Inc. asal Amerika Serikat (AS).
Menurut sebuah penelitian berjudul "The journey of remdesivir: from Ebola to COVID-19" dalam jurnal Drugs in Context tahun 2020, pada awalnya obat ini digunakan untuk menangani wabah Ebola. Hanya saja, dalam uji kelayakannya, remdesivir tidak mampu memenuhi uji coba acak titik kemanjuran pada penyakit mematikan tersebut dan hasilnya dikatakan mengecewakan, sehingga remdesivir jarang digunakan untuk pengobatan Ebola.
Namun, ketika diuji terhadap COVID-19, remdesivir menunjukkan hasil yang disebut-sebut cukup menjanjikan.
Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa remdesivir telah diujicobakan secara in vitro (uji coba terhadap sel di luar tubuh atau sering disebut eksperimen test tube) dan pernah diberikan kepada pasien penderita COVID-19 di AS. Setelah diberikan, pasien laki-laki berusia 35 tahun tersebut menunjukkan perbaikan.
2. Covifor bukan obat khusus untuk COVID-19

Banyak yang menyambut baik distribusi obat ini karena dianggap sebagai obat yang bisa menyembuhkan COVID-19. Faktanya, beberapa penelitian menyebut bahwa keamanan obat ini belum teruji secara klinis dan perlu uji coba lebih lanjut.
Melansir The Observer, Covifor bukan bekerja sebagai vaksin untuk mencegah infeksi SARS-CoV-2, virus corona strain baru penyebab COVID-19, melainkan obat untuk mengatasi gejala berat yang dialami oleh pasien COVID-19. Hal ini pun telah dikonfirmasi oleh pihak PT Kalbe Farma Tbk.
3. Obat ini hanya digunakan untuk keadaan darurat

Perlu diketahui, Covifor tidak akan dijual bebas, hanya bisa diperoleh di rumah sakit dan diberikan kepada pasien COVID-19 dalam situasi darurat. Adapun cara kerjanya adalah dengan menekan replikasi SARS-CoV-2 di dalam tubuh.
Lewat keterangan dalam rilis pers dari Hetero, penggunaan Covifor sangat terbatas dan cuma bisa diberikan lewat pengawasan praktisi medis yang terdaftar.
4. Harga per unitnya diperkirakan mencapai Rp3 juta dan baru tersedia tahun 2021

Menurut informasi, harga Covifor per unitnya dibandrol sekitar Rp3 juta. Untuk satu unitnya sendiri memiliki kapasitas 100 mg.
Sebagai bagian dari terapi COVID-19, Covifor bisa diberikan hingga lima kali injeksi dalam sehari. Belum lagi perawatan Covifor ini bisa dilakukan selama 5-10 hari. Jika ditotal secara kasar, setidaknya pasien harus merogoh kocek Rp150 juta hanya untuk terapi dengan obat tersebut.
Kabarnya, obat ini akan masuk dan didistribusikan pada pertengahan 2021 mendatang.
5. Covifor masih diujicobakan

Dari Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta Timur, Dr. dr. Erlina Burhan, Msc, Sp.P(K) mengatakan bahwa penggunaan Covifor sedang dalam tahap pengujian.
Obat tersebut sedang diujicobakan terhadap 25 pasien yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut.
“Sudah dapat izin dari BPOM (untuk diujicobakan). Jadi untuk digunakan ke pasien COVID-19 sudah tidak ada masalah dengan persyaratan hanya digunakan untuk kasus darurat,” terang Dr. Erlina kepada IDN Times.
Layaknya obat yang lain, tentu saja ada kekhawatiran timbulnya efek samping dari penggunaan obat tersebut. Ini belum diketahui mengingat proses uji coba masih dilakukan. Hanya saja, memang sudah ada perkiraan efek samping yang bisa muncul.
“Menilik kasus di negara lain, dugaan efek samping dari remdesivir ini akan berimbas ke lever dan ginjal. Oleh karena itu, kami benar-benar memperhatikan riwayat kesehatan pasien yang punya sejarah gagal ginjal dan lainnya agar tidak mendapat obat ini,” kata Dr. Erlina.

Sekali lagi perlu diingat bahwa Covifor atau remdesivir bukanlah obat yang dapat menyembuhkan COVID-19. Hingga hari ini, belum ada vaksin atau obat khusus untuk COVID-19.
Akan tetapi, obat ini sudah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) untuk pengobatan pasien rawat inap dengan gejala COVID-19 yang parah.
Cara terbaik untuk melindungi diri COVID-19 masih dengan fokus pada pencegahan.
Pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19, menggelar kampanye 3M: Gunakan Masker, Menghindari Kerumunan atau jaga jarak fisik, dan rajin Mencuci tangan dengan air sabun yang mengalir. Jika protokol kesehatan ini dilakukan dengan disiplin, diharapkan dapat memutus mata rantai penularan virus. Menjalankan gaya hidup 3M, akan melindungi diri sendiri dan orang di sekitar kita. Ikuti informasi penting dan terkini soal COVID-19 di situs covid19.go.id dan IDN Times.








![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Member CORTIS Ini? Buktikan Kamu COER](https://image.idntimes.com/post/20251123/upload_27d11e2f751d08633257c940ffd5cde2_6133c36a-0f18-4ef1-8810-c3e0342263d6.jpeg)


![[QUIZ] Kebiasaan Texting Kamu Bisa Ungkap Attachment Style Kamu](https://image.idntimes.com/post/20250801/9461_b739df77-90a7-494e-997b-f749e5195a30.jpg)
![[QUIZ] Dari Subgenre Horor Favoritmu, Kami Bisa Ungkap Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20251106/freepik-1186_13e80742-9618-4bd3-a5bd-eaefea417bef.jpg)
![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Member EXO?](https://image.idntimes.com/post/20260205/exo_7438b4ac-131b-4cdb-a9b4-10c846a77239.jpg)




