Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Betis Dijuluki 'Jantung Kedua'? Ini Faktanya

Kenapa Betis Dijuluki 'Jantung Kedua'? Ini Faktanya
ilustrasi otot betis (pexels.com/Maksim Goncharenok)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Otot betis berperan sebagai jantung kedua dengan memompa darah dari kaki ke jantung melalui kontraksi ritmis yang membantu aliran balik vena melawan gravitasi.

  • Kurangnya aktivitas fisik membuat fungsi pompa otot betis menurun, menyebabkan risiko pembengkakan, varises, hingga trombosis vena dalam meningkat.

  • Aktivitas sederhana seperti berjalan rutin menjaga efektivitas pompa betis, mendukung sirkulasi darah lancar, serta meningkatkan performa dan kesehatan kardiovaskular.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Di balik langkah sehari-hari, ada sepasang otot yang bekerja tanpa banyak sorotan, yaitu otot betis. Setiap kali kamu berdiri, berjalan, atau sekadar menyeimbangkan tubuh, bagian ini memompa darah seperti mesin kecil yang tak pernah benar-benar istirahat. Banyak ahli menyebut betis sebagai “jantung kedua”.

Dalam tubuh manusia, sistem peredaran darah tidak hanya bergantung pada satu organ. Ada kerja sama antara jantung, pembuluh darah, dan otot rangka. Di antara semuanya, otot betis memiliki peran unik yang membuatnya layak disebut sebagai jantung kedua, terutama dalam membantu darah melawan gravitasi.

Table of Content

1. Peran pompa otot betis dalam sirkulasi darah

1. Peran pompa otot betis dalam sirkulasi darah

Setiap kali berjalan atau berlari, otot betis—terutama gastrocnemius dan soleus—berkontraksi dan relaksasi secara ritmis. Gerakan ini menekan pembuluh vena di sekitarnya, mendorong darah kembali ke arah jantung.

Mekanisme ini dikenal sebagai calf muscle pump (pompa otot betis/pompa betis). Sistem ini sangat penting untuk membantu aliran balik vena (venous return), terutama dari ekstremitas bawah. Tanpa bantuan ini, darah akan cenderung “menggenang” di kaki akibat pengaruh gravitasi.

Katup dalam vena bekerja bersama otot betis untuk memastikan darah mengalir satu arah. Saat otot berkontraksi, darah terdorong ke atas; saat relaksasi, katup mencegah aliran balik. Kombinasi ini membuat betis berfungsi layaknya pompa tambahan dalam sistem peredaran darah.

2. Melawan gravitasi: tantangan sirkulasi di tubuh bagian bawah

Seorang pelari mengenakan celana ketat hitam dan sepatu olahraga berlari di jalur tanah dengan otot betis yang tampak menonjol.
ilustrasi otot betis (pixabay.com/distelAPPArath)

Salah satu tantangan terbesar dalam sirkulasi adalah mengalirkan darah dari kaki kembali ke jantung, terutama saat berdiri atau duduk dalam waktu lama. Jantung tidak cukup kuat untuk mengatasi hambatan ini sendirian.

Tekanan hidrostatik di pembuluh darah kaki dapat meningkat signifikan saat tubuh dalam posisi tegak. Tanpa bantuan mekanisme tambahan, kondisi ini bisa menyebabkan stagnasi aliran darah.

Di sinilah peran betis menjadi krusial. Aktivitas sederhana seperti berjalan membantu mengaktifkan pompa otot betis, menjaga aliran darah tetap lancar. Itulah alasan mengapa kurang bergerak dapat meningkatkan risiko pembengkakan kaki hingga gangguan vena.

3. Dampak jika betis tidak aktif

Ketika otot betis jarang digunakan, misalnya karena gaya hidup sedentari, fungsi pompa otot betis menjadi kurang optimal. Akibatnya, aliran balik vena terganggu.

Penelitian menunjukkan bahwa gangguan pada pompa otot betis berkaitan dengan kondisi seperti chronic venous insufficiency (CVI) atau insufisiensi vena kronis. Ini dapat menyebabkan pembengkakan, rasa berat di kaki, hingga varises.

Selain itu, kurangnya aktivitas juga meningkatkan risiko pembentukan bekuan darah (deep vein thrombosis atau trombosis vena dalam). Dalam konteks ini, betis yang aktif bukan hanya soal performa fisik, tetapi juga faktor penting dalam kesehatan vaskular.

4. Hubungan dengan aktivitas fisik dan performa

Seorang pria berolahraga menaiki tangga dengan otot betis yang terlihat menonjol, mengenakan sepatu lari berwarna abu-abu dan hitam.
ilustrasi otot betis (freepik.com/wirestock)

Dalam olahraga, terutama lari, fungsi betis sebagai jantung kedua menjadi makin penting. Makin aktif otot bekerja, makin efektif pula sirkulasi darah.

Menurut studi, peningkatan aliran balik vena membantu meningkatkan jumlah darah yang dipompa jantung per menit (curah jantung) dan efisiensi distribusi oksigen ke otot. Ini berdampak langsung pada performa dan daya tahan.

Sebaliknya, betis yang lemah atau cepat lelah dapat mengurangi efisiensi sistem ini. Itulah sebabnya latihan penguatan betis sering direkomendasikan. Tidak hanya untuk performa, tetapi juga untuk mendukung fungsi sirkulasi.

5. Gaya hidup minim gerak menurunkan efektivitas pompa otot betis

Betis yang mendapat julukan jantung kedua bukan cuma relevan untuk atlet, tetapi juga untuk siapa pun yang menjalani aktivitas harian. Duduk terlalu lama, kurang bergerak, atau jarang berjalan dapat menurunkan efektivitas pompa otot betis.

Para ahli terus-menerus mengingatkan akan pentingnya aktivitas fisik ringan untuk menjaga sirkulasi, termasuk berjalan secara rutin. Aktivitas sederhana ini sudah cukup untuk menghidupkan kembali fungsi betis sebagai pompa.

Dengan kata lain, menjaga kesehatan betis berarti ikut menjaga kesehatan jantung dan sistem peredaran darah secara keseluruhan.

Otot betis punya peran penting dalam sistem sirkulasi. Tanpa bantuan mekanisme ini, tubuh akan kesulitan menjaga aliran darah tetap efisien, terutama dari bagian bawah.

Menjaga betis tetap aktif melalui aktivitas fisik sederhana adalah investasi kecil dengan dampak besar. Dalam tubuh yang terus bergerak, setiap langkah bukan hanya membawa kita maju, tetapi juga membantu darah kembali ke pusat kehidupan, yaitu jantung.

Referensi

M. H. Laughlin, “Skeletal Muscle Blood Flow Capacity: Role of Muscle Pump in Exercise Hyperemia,” American Journal of Physiology-Heart and Circulatory Physiology 253, no. 5 (November 1, 1987): H993–1004, https://doi.org/10.1152/ajpheart.1987.253.5.h993.

Steven S. Segal, “Regulation of Blood Flow in the Microcirculation,” Microcirculation 12, no. 1 (January 2, 2005): 33–45, https://doi.org/10.1080/10739680590895028.

Cestmir Recek, “Calf Pump Activity Influencing Venous Hemodynamics in the Lower Extremity,” International Journal of Angiology 22, no. 01 (February 6, 2013): 023–030, https://doi.org/10.1055/s-0033-1334092.

Michael J. Joyner and Daniel J. Green, “Exercise Protects the Cardiovascular System: Effects Beyond Traditional Risk Factors,” The Journal of Physiology 587, no. 23 (September 8, 2009): 5551–58, https://doi.org/10.1113/jphysiol.2009.179432.

American Heart Association. “Physical Activity and Circulation.” Diakses Mei 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More