Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
HDL Tinggi Selalu Bagus? Ini Faktanya
ilustrasi kadar HDL dan LDL dalam tubuh (vecteezy.com/Narupon Promvichai)
  • HDL dikenal sebagai “kolesterol baik” karena membantu membawa kolesterol dari pembuluh darah kembali ke hati.

  • Namun, HDL yang sangat tinggi tidak selalu berarti risiko jantung lebih rendah, terutama bila LDL, trigliserida, tekanan darah, atau gula darah tetap bermasalah.

  • Fokus utama pencegahan penyakit jantung tetap menurunkan LDL dan menilai risiko kardiovaskular secara menyeluruh, bukan sekadar menaikkan HDL.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat membaca hasil tes kolesterol, biasanya orang fokusnya mencari angka high-density lipoprotein (HDL) dan low-density lipoprotein (LDL). HDL dikenal sebagai kolesterol baik, sedangkan LDL adalah kolesterol jahat. Dari situ, banyak orang menyimpulkan bahwa kalau HDL tinggi, berarti jantung lebih aman.

HDL memang punya reputasi baik karena membantu mengangkut kolesterol dari pembuluh darah kembali ke hati untuk diproses. Namun, kadar HDL yang tinggi tidak otomatis menghapus risiko dari LDL tinggi, trigliserida tinggi, hipertensi, diabetes, merokok, atau riwayat keluarga penyakit jantung.

Jadi, HDL tinggi bisa menjadi kabar baik, tetapi bukan surat bebas risiko.

1. Kenapa HDL disebut kolesterol baik?

Tugas HDL sering digambarkan seperti petugas angkut yang membantu membawa kelebihan kolesterol dari darah dan dinding pembuluh darah kembali ke hati. Itulah alasan HDL disebut kolesterol baik.

Pada banyak studi observasional, orang dengan HDL rendah cenderung memiliki risiko penyakit jantung lebih tinggi. HDL rendah juga sering muncul bersama faktor risiko lain, seperti obesitas, diabetes tipe 2, merokok, trigliserida tinggi, dan kurang aktivitas fisik.

Namun, HDL tidak menghilangkan semua LDL dari tubuh. Jika LDL tetap tinggi dan terus menumpuk di dinding pembuluh darah, risiko aterosklerosis tetap ada.

2. HDL sangat tinggi tidak selalu lebih baik

Dulu, anggapan umumnya adalah HDL makin tinggi makin bagus. Sekarang, pandangannya lebih hati-hati. Beberapa penelitian besar menemukan hubungan berbentuk U, artinya risiko meningkat pada HDL yang terlalu rendah, tetapi bisa meningkat lagi pada HDL yang sangat tinggi.

Pada studi tertentu, kadar HDL yang sangat tinggi dikaitkan dengan risiko kematian lebih tinggi, terutama pada kelompok tertentu seperti orang dengan penyakit arteri koroner. Ini tidak berarti HDL tinggi pasti berbahaya. Namun, ini menunjukkan bahwa angka HDL tidak selalu mencerminkan kualitas atau fungsi HDL.

Ada kemungkinan sebagian HDL yang sangat tinggi tidak bekerja optimal. Ada juga kemungkinan HDL tinggi dipengaruhi faktor lain, seperti genetik, konsumsi alkohol berlebihan, gangguan tiroid, penyakit hati tertentu, atau obat-obatan.

Jadi, jika HDL sangat tinggi, terutama di atas kisaran yang biasa, jangan langsung menganggapnya sebagai “perlindungan ekstra”. Lebih baik lihat gambaran lengkapnya.

3. Jangan menaikkan HDL dengan cara yang salah

ilustrasi cek kolesterol (magnific.com/rawpixel.com)

Karena HDL dijuluki kolesterol baik, sebagian orang berpikir bahwa targetnya adalah menaikkan HDL setinggi mungkin. Ini bisa menyesatkan.

Beberapa obat yang dapat menaikkan HDL tidak selalu terbukti menurunkan kejadian serangan jantung atau stroke. Artinya, menaikkan angka HDL saja tidak otomatis membuat pembuluh darah lebih sehat.

Hal yang juga perlu diluruskan: jangan mulai minum alkohol demi menaikkan HDL. Alkohol memang dapat berkaitan dengan HDL lebih tinggi, tetapi risikonya bisa jauh lebih besar, termasuk peningkatan tekanan darah, trigliserida, berat badan, penyakit hati, gangguan tidur, dan beberapa jenis kanker.

Cara yang lebih aman untuk mendukung HDL dan kesehatan jantung adalah berhenti merokok, rutin bergerak, menjaga berat badan sehat, tidur cukup, mengonsumsi makanan tinggi serat, memilih lemak tak jenuh, dan mengurangi lemak trans serta lemak jenuh berlebih.

4. Angka yang lebih penting untuk dilihat bersama HDL

Saat membaca hasil kolesterol, jangan hanya fokus pada HDL. Lihat juga:

  • LDL: makin tinggi, makin besar risiko penumpukan plak di pembuluh darah.

  • Trigliserida: tinggi dapat menambah risiko, terutama bila bersama LDL tinggi atau HDL rendah.

  • Kolesterol non-HDL: menggambarkan seluruh kolesterol yang berpotensi aterogenik.

  • ApoB: jika tersedia, dapat memberi gambaran jumlah partikel pembawa kolesterol yang berisiko.

  • Tekanan darah, gula darah, riwayat merokok, usia, dan riwayat keluarga: semua ini memengaruhi risiko jantung.

Ini penting karena seseorang bisa punya HDL tinggi, tetapi LDL juga tinggi. Dalam situasi seperti itu, HDL tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan LDL.

Apa yang sebaiknya dilakukan jika HDL tinggi?

Kalau HDL sedikit tinggi dan angka lain baik, biasanya tidak perlu panik. Namun, bila HDL sangat tinggi, misalnya jauh di atas 80–100 mg/dL, sebaiknya diskusikan dengan dokter, terutama jika ada riwayat penyakit jantung, keluarga dengan serangan jantung dini, konsumsi alkohol tinggi, gangguan tiroid, penyakit hati, atau sedang memakai obat tertentu.

Tanyakan juga kepada dokter tentang berapa risiko jantung saya secara keseluruhan, bukan cuma angka HDL.

Kesimpulannya, HDL memang baik, tetapi bukan satu-satunya penentu kesehatan jantung. Untuk melindungi pembuluh darah, strategi utamanya bukan mengejar HDL setinggi mungkin, melainkan menurunkan LDL bila tinggi, menjaga tekanan darah dan gula darah, bergerak rutin, berhenti merokok, dan membangun pola hidup yang bisa dipertahankan.

Referensi

American Heart Association. “HDL (Good), LDL (Bad) Cholesterol and Triglycerides.” Diakses Juni 2026.

American Heart Association. “What Your Cholesterol Levels Mean.” Diakses Juni 2026.

Mayo Clinic. “HDL Cholesterol: How to Boost Your ‘Good’ Cholesterol.” Diakses Juni 2026.

Liu, Chang, et al. “Association Between High-Density Lipoprotein Cholesterol Levels and Adverse Cardiovascular Outcomes in High-risk Populations.” JAMA Cardiology 7, no. 7 (2022): 672–680.

Madsen, Christian M., Anette Varbo, and Børge G. Nordestgaard. “Extreme High High-Density Lipoprotein Cholesterol Is Paradoxically Associated with High Mortality in Men and Women: Two Prospective Cohort Studies.” European Heart Journal 38, no. 32 (2017): 2478–2486.

European Society of Cardiology. “High-Density Lipoprotein Cholesterol and Risk of Cardiovascular Disease.” E-Journal of Cardiology Practice 19 (2021).

Merck Manual Consumer Version. “Elevated HDL Cholesterol.” Diakses Juni 2026.

Keene, Daniel, Charles Price, Michael J. Shun-Shin, and Darrel P. Francis. “Effect on Cardiovascular Risk of High Density Lipoprotein Targeted Drug Treatments Niacin, Fibrates, and CETP Inhibitors: Meta-analysis of Randomised Controlled Trials Including 117,411 Patients.” BMJ 349 (2014): g4379.

Voight, Benjamin F., Gina M. Peloso, Marju Orho-Melander, et al. “Plasma HDL Cholesterol and Risk of Myocardial Infarction: A Mendelian Randomisation Study.” The Lancet 380, no. 9841 (2012): 572–580.

AIM-HIGH Investigators. “Niacin in Patients with Low HDL Cholesterol Levels Receiving Intensive Statin Therapy.” New England Journal of Medicine 365 (2011): 2255–2267.

Editorial Team

Related Article