Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kalau Kolesterol Sudah Turun, Bolehkah Stop Obat?

Kalau Kolesterol Sudah Turun, Bolehkah Stop Obat?
ilustrasi minum obat dengan segelas air (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
  • Obat kolesterol, terutama statin, sering digunakan jangka panjang karena tujuannya bukan hanya menurunkan angka LDL, tetapi menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.

  • Tidak semua orang otomatis harus minum obat kolesterol seumur hidup; keputusan bergantung pada risiko penyakit jantung, kadar LDL, riwayat penyakit, genetik, usia, efek samping, dan respons terhadap perubahan gaya hidup.

  • Jangan menghentikan obat sendiri saat kolesterol sudah turun, karena kadar LDL bisa naik lagi dan risiko kardiovaskular tetap perlu dikendalikan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Setelah minum obat dan kolesterol turun, banyak orang merasa lega. Namun, kelegaan itu membuat beberapa orang bertanya-tanya, apakah obatnya boleh dihentikan?

Pertanyaan tersebut wajar, karena tidak semua orang nyaman membayangkan minum obat setiap hari dalam jangka panjang. Ada yang takut ketergantungan, takut efek samping, atau merasa sudah sembuh.

Namun, obat kolesterol tidak bekerja seperti obat nyeri yang diminum saat sakit lalu dihentikan ketika rasa sakit hilang. Kolesterol tinggi sering tidak terasa, tetapi dampaknya berlangsung pelan di pembuluh darah. Karena itu, pada banyak orang, obat kolesterol digunakan untuk menjaga risiko tetap rendah dalam jangka panjang.

1. Tujuannya bukan cuma menurunkan kadar kolesterol

Obat kolesterol yang paling sering diresepkan adalah statin. Obat ini bekerja dengan mengurangi produksi kolesterol di hati, sehingga kadar LDL (kolesterol jahat) turun.

Ada juga obat lain seperti ezetimibe, PCSK9 inhibitor, bempedoic acid, atau obat untuk trigliserida, tergantung kebutuhan pasien.

Namun, inti pengobatan bukan cuma memperbaiki hasil laboratorium. LDL yang tinggi berperan dalam pembentukan plak di pembuluh darah. Plak ini dapat menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke.

Jadi, ketika dokter menyarankan obat kolesterol, yang sedang dihitung bukan hanya angka LDL hari ini, tetapi risiko beberapa tahun ke depan: apakah kamu pernah serangan jantung, punya diabetes, hipertensi, merokok, riwayat stroke, penyakit ginjal, atau riwayat keluarga penyakit jantung dini.

2. Siapa yang biasanya perlu minum obat jangka panjang?

Seseorang memegang segelas air di satu tangan dan tablet obat di tangan lainnya, bersiap untuk meminum obat kolesterol.
ilustrasi minum obat kolesterol (pexels.com/Ron Lach)

Pada orang yang sudah pernah mengalami serangan jantung, stroke akibat sumbatan, pemasangan ring jantung, atau punya penyakit pembuluh darah, obat kolesterol biasanya menjadi bagian dari perlindungan jangka panjang. Ini disebut pencegahan sekunder, karena tujuannya mencegah kejadian berulang.

Obat juga sering diperlukan jangka panjang pada orang dengan LDL sangat tinggi, terutama jika dicurigai hiperkolesterolemia familial atau kolesterol tinggi karena genetik. Dalam kondisi ini, tubuh kesulitan membersihkan LDL dari darah, sehingga perubahan pola makan saja sering tidak cukup.

Pada orang dengan diabetes, hipertensi, kebiasaan merokok, usia lebih tua, atau kombinasi beberapa faktor risiko, dokter akan menilai apakah manfaat obat lebih besar daripada risikonya. Karena risiko kardiovaskular biasanya meningkat seiring usia, sebagian orang tetap perlu obat meskipun merasa sehat.

3. Apakah ada kondisi ketika obat bisa dikurangi atau dihentikan?

Ada, tetapi harus lewat evaluasi dokter.

Misalnya, seseorang dengan risiko rendah yang kolesterolnya membaik setelah perubahan gaya hidup besar, penurunan berat badan, perbaikan pola makan, dan aktivitas fisik rutin mungkin dapat dievaluasi ulang. Namun, ini bukan keputusan yang aman jika dilakukan sendiri.

Obat juga bisa disesuaikan jika muncul efek samping yang mengganggu. Keluhan seperti nyeri otot, lemas, atau kram perlu dibicarakan, bukan langsung menghentikan obat. Dokter bisa mengecek penyebab lain, menurunkan dosis, mengganti jenis statin, mengatur jadwal minum, atau menambahkan obat non statin bila perlu.

Pada kehamilan atau rencana hamil, obat kolesterol juga perlu dibahas khusus dengan dokter. Sebagian besar pasien dapat menghentikan statin sementara selama hamil dan menyusui, tetapi orang dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi perlu rencana yang lebih individual.

4. Kenapa tidak boleh stop sendiri saat kolesterol sudah turun?

Seorang pria lanjut usia mengenakan sweter cokelat sedang menyiapkan obat kolesterol di meja bundar dengan wadah pil harian.
ilustrasi minum obat kolesterol (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Kolesterol turun karena obat bekerja. Jika obat dihentikan, kadar LDL bisa naik lagi, terutama jika penyebab dasarnya adalah genetik, diabetes, hipotiroidisme, menopause, penyakit ginjal, atau pola hidup yang belum berubah.

Perlu diingat bahwa kadar LDL tinggi tidak menimbulkan gejala langsung. Seseorang bisa merasa baik-baik saja, padahal risiko pembuluh darah perlahan meningkat lagi.

Beberapa studi observasional juga menemukan bahwa menghentikan statin pada kelompok tertentu berkaitan dengan peningkatan kejadian kardiovaskular. Pada pasien yang pernah mengalami serangan jantung, penghentian statin dikaitkan dengan risiko kematian lebih tinggi. Pada orang usia 75 tahun yang menggunakan statin untuk pencegahan primer, penghentian statin juga dikaitkan dengan peningkatan risiko rawat inap karena kejadian kardiovaskular.

Apa yang sebaiknya dilakukan pasien?

Kalau kamu sedang minum obat kolesterol, itu adalah bagian dari rencana perlindungan pembuluh darah.

  • Tanyakan ke dokter apakah obat kolesterol yang kamu konsumsi untuk pencegahan primer atau sekunder?
  • Minta penjelasan target LDL atau target penurunan LDL sesuai risikomu.
  • Catat efek samping dan waktu munculnya, lalu diskusikan saat kontrol.
  • Jangan menghentikan obat sendiri, terutama jika pernah mengalami serangan jantung, stroke, atau pemasangan ring.
  • Tetap perbaiki pola makan, aktivitas fisik, tidur, berat badan, tekanan darah, gula darah, dan berhenti merokok.
  • Lakukan pemeriksaan ulang sesuai jadwal dokter untuk melihat respons obat.

Obat kolesterol memang sering diminum jangka panjang, bahkan bisa seumur hidup pada orang dengan risiko tinggi. Namun, bukan berarti aturannya sama pada semua orang. Yang paling aman adalah mengevaluasi risiko secara berkala dengan dokter, lalu menyesuaikan terapi berdasarkan kondisi tubuh.

Referensi

American Heart Association. “Cholesterol-Lowering Medications.” Diakses Juni 2026.

British Heart Foundation. “Statins: Your Questions Answered.” Diakses Juni 2026.

Blumenthal, Roger S., et al. “2026 ACC/AHA/AACVPR/ABC/ACPM/ADA/AGS/APhA/ASPC/NLA/PCNA Guideline for the Management of Patients With Dyslipidemia.” Journal of the American College of Cardiology (2026).

Wiggins, Barbara S., et al. “2026 Dyslipidemia Guideline-at-a-Glance.” Journal of the American College of Cardiology (2026).

Cholesterol Treatment Trialists’ Collaboration. “The Effects of Lowering LDL Cholesterol with Statin Therapy in People at Low Risk of Vascular Disease: Meta-analysis of Individual Data from 27 Randomised Trials.” The Lancet 380, no. 9841 (2012): 581–590.

Giral, Philippe, Joël Coste, Julie Weill, et al. “Cardiovascular Effect of Discontinuing Statins for Primary Prevention at the Age of 75 Years: A Nationwide Population-Based Cohort Study in France.” European Heart Journal 40, no. 43 (2019): 3516–3525.

Daskalopoulou, Stella S., Joseph A. Delaney, Kristian B. Filion, et al. “Discontinuation of Statin Therapy Following an Acute Myocardial Infarction: A Population-Based Study.” European Heart Journal 29, no. 17 (2008): 2083–2091.

Newman, Connie B., David Preiss, Jennifer A. Tobert, et al. “Statin Safety and Associated Adverse Events: A Scientific Statement from the American Heart Association.” Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology 39, no. 2 (2019): e38–e81.

Cheeley, Megan K., Terry A. Jacobson, Christie M. Maki, et al. “NLA Scientific Statement on Statin Intolerance: A New Definition and Key Considerations for ASCVD Risk Reduction in the Statin Intolerant Patient.” Journal of Clinical Lipidology 16, no. 4 (2022): 361–375.

U.S. Food and Drug Administration. “Statins: Drug Safety Communication—FDA Requests Removal of Strongest Warning Against Using Cholesterol-Lowering Statins During Pregnancy.” Diakses Juni 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More