Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kolesterol Tinggi di Usia Muda Makin Marak, Apa Penyebabnya?

Kolesterol Tinggi di Usia Muda Makin Marak, Apa Penyebabnya?
ilustrasi melakukan cek kolesterol (pexels.com/Artem Podrez)
Intinya Sih
  • Semakin banyak anak muda mengalami kolesterol tinggi tanpa gejala, sering baru diketahui lewat pemeriksaan kesehatan rutin atau saat muncul gangguan tubuh tertentu.
  • Gaya hidup praktis seperti konsumsi makanan berlemak, kurang olahraga, begadang, stres, dan kebiasaan merokok menjadi pemicu utama meningkatnya kadar kolesterol di usia muda.
  • Faktor genetik juga berperan penting; mengenali riwayat keluarga serta menjaga pola makan dan tidur teratur dapat membantu mencegah risiko kolesterol tinggi sejak dini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Masih berusia 20-an atau 30-an tahun, rutin beraktivitas, bahkan merasa sehat-sehat saja, tetapi hasil pemeriksaan kesehatan justru menunjukkan kadar kolesterol tinggi? Kondisi seperti ini ternyata bukan lagi hal yang langka, karena semakin banyak anak muda yang menghadapi masalah kolesterol tanpa menyadarinya. Yang membuatnya lebih mengejutkan, kolesterol tinggi sering berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas, sehingga banyak orang baru mengetahuinya setelah melakukan tes kesehatan atau ketika mulai muncul gangguan tertentu pada tubuh.

Gaya hidup yang serba praktis dan cepat sering kali membuat banyak anak muda tanpa sadar mengabaikan kebiasaan yang berpengaruh pada kesehatan tubuh. Mulai dari terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, jarang berolahraga, hingga kurang tidur karena padatnya aktivitas atau kebiasaan begadang, semuanya dapat berkontribusi terhadap meningkatnya kadar kolesterol dalam darah. Karena itu, penting untuk memahami berbagai faktor yang bisa memicu kolesterol tinggi sejak usia muda agar kamu dapat mengambil langkah pencegahan sedini mungkin melalui penjelasan lengkap dalam artikel berikut.

1. Terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh

ilustrasi makanan cepat saji
ilustrasi makanan cepat saji (magnific.com/freepik)

Di tengah kesibukan sehari-hari, makanan cepat saji sering kali menjadi pilihan utama karena praktis dan mudah ditemukan. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa hidangan seperti ayam goreng, burger, atau snack olahan pada umumnya memiliki kandungan lemak jenuh yang tinggi. Mengonsumsinya secara berlebihan dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat dalam darah.

Hal ini berpotensi meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang, bahkan pada usia yang masih tergolong muda. Situasi ini umumnya terjadi pada pekerja kantoran atau mahasiswa yang lebih sering membeli makanan cepat saji daripada memasaknya sendiri. Oleh karena itu, membatasi asupan makanan yang tinggi lemak jenuh dan mengonsumsi lebih banyak makanan bergizi seimbang dapat menjadi langkah praktis untuk menjaga kestabilan kadar kolesterol.

2. Kurangnya aktivitas fisik dalam rutinitas harian

ilustrasi tiduran sambil makan
ilustrasi tiduran sambil makan (freepik.com/DC Studio)

Banyak generasi muda menghabiskan waktu mereka dengan duduk di depan komputer, baik untuk urusan pekerjaan maupun belajar. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan tubuh membakar kalori lebih sedikit dan berdampak pada keseimbangan lemak dalam darah. Akibatnya, kadar kolesterol HDL atau kolesterol baik bisa turun sementara kolesterol jahat cenderung naik.

Kondisi ini biasanya tidak disadari karena tubuh masih merasa bugar tanpa adanya keluhan yang terlihat. Namun, kebiasaan duduk terlalu lama dalam waktu yang lama bisa meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Mengalokasikan waktu untuk berjalan, berolahraga ringan, atau bergerak aktif di sela-sela kegiatan bisa membantu memelihara kesehatan jantung dan sistem peredaran darah.

3. Pola makan tinggi gula dan makanan olahan

ilustrasi makan camilan manis
ilustrasi makan camilan manis (freepik.com/wayhomestudio)

Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa kolesterol hanya berkaitan dengan makanan berlemak. Namun, mengonsumsi minuman manis, kue, serta makanan olahan dalam jumlah yang berlebihan juga dapat memengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh. Asupan gula yang tinggi dapat meningkatkan trigliserida dan mengganggu metabolisme lemak.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan masalah kolesterol meski seseorang jarang mengonsumsi makanan berlemak. Misalnya, kebiasaan membeli kopi kekinian atau minuman manis setiap hari sering dianggap remeh, padahal bisa berpengaruh buruk pada kesehatan. Mengurangi asupan gula tambahan dan memilih makanan yang lebih alami dapat menjadi alternatif yang lebih baik bagi kesehatan tubuh.

4. Kurang tidur dan sering begadang

ilustrasi begadang
ilustrasi begadang (freepik.com/drobotdean)

Begadang hingga larut malam telah menjadi kebiasaan yang cukup umum, terutama di kalangan anak muda. Beberapa melakukannya karena pekerjaan, tugas kuliah, atau hanya sekedar menikmati hiburan sebelum tidur. Sayangnya, kurang tidur dapat memengaruhi berbagai proses tubuh, termasuk metabolisme lemak.

Ketika pola tidur terganggu secara terus-menerus, tubuh dapat mengalami perubahan yang berdampak pada keseimbangan kadar kolesterol. Kebiasaan ini tidak hanya membuat tubuh cepat lelah, tetapi juga dapat mendorong gaya hidup yang kurang sehat, seperti makan larut malam atau kurang bergerak di hari berikutnya. Memastikan waktu tidur yang cukup dan teratur merupakan langkah penting dalam mendukung kesehatan secara keseluruhan.

5. Faktor genetik yang sering tidak disadari

ilustrasi keluarga
ilustrasi keluarga (magnific.com/pressfoto)

Ada saatnya seseorang berusaha mengikuti gaya hidup yang sehat tetapi masih memiliki kolesterol tinggi. Kondisi tersebut bisa dipengaruhi oleh faktor keturunan yang membuat tubuh memproses kolesterol secara berbeda. Jika terdapat anggota keluarga dengan riwayat kolesterol tinggi atau penyakit jantung, kemungkinan risiko tersebut dapat meningkat pada generasi setelahnya.

Karena tidak menampakkan gejala yang jelas, banyak orang baru menyadari kondisi ini setelah melakukan pemeriksaan kesehatan. Ini mengakibatkan penanganan yang sering tertunda, karena merasa masih muda dan tidak mengalami keluhan apapun. Oleh karena itu, penting untuk mengenali riwayat kesehatan keluarga dan secara rutin memeriksa kadar kolesterol agar tidak terabaikan.

6. Kebiasaan merokok yang memengaruhi kesehatan pembuluh darah

ilustrasi rokok
ilustrasi rokok (pexels.com/Alexas Fotos)

Banyak remaja mulai merokok karena pengaruh teman, lingkungan sekitar, atau hanya sekadar mencoba. Meskipun sering dianggap hanya berdampak pada paru-paru, kebiasaan ini juga berhubungan erat dengan kesehatan jantung serta kadar kolesterol. Bahan kimia dalam rokok dapat menurunkan jumlah kolesterol baik yang berfungsi untuk menguras kelebihan kolesterol dalam darah.

Apabila kadar HDL menurun, kemungkinan terjadinya penumpukan kolesterol dalam pembuluh darah pun bisa meningkat. Meski dampaknya mungkin tidak segera dirasakan, efeknya dapat terakumulasi lambat seiring bertahun-tahun. Mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok adalah salah satu pilihan terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh di masa depan.

7. Stres berkepanjangan yang memengaruhi pola hidup

ilsutrasi stres karena pekerjaan
ilustrasi stres karena pekerjaan (freepik.com/jcomp)

Beban pekerjaan, target akademik, dan berbagai tuntutan kehidupan sering kali membuat generasi muda mengalami stres dalam keseharian mereka. Dalam kondisi ini, banyak orang cenderung mencari pelarian melalui makanan yang tinggi kalori, tidur yang tidak cukup, atau mengabaikan aktivitas fisik. Kebiasaan-kebiasaan ini secara tidak langsung berkontribusi pada peningkatan kadar kolesterol.

Selain itu, stres yang berlangsung terus-menerus juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon di dalam tubuh. Kombinasi dari berbagai aspek tersebut meningkatkan risiko masalah kesehatan jika tidak dikelola dengan baik. Meluangkan waktu untuk beristirahat, melakukan hobi, atau berolahraga bisa membantu menjaga kesehatan mental serta mendukung kondisi fisik yang lebih baik.

Kolesterol tinggi di usia muda bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola makan yang kurang sehat, minimnya aktivitas fisik, hingga kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele. Meski kerap dikaitkan dengan usia lanjut, kondisi ini juga dapat terjadi pada anak muda, terutama jika faktor risiko tersebut terus berlangsung dalam jangka panjang. Karena itu, tidak ada salahnya mulai memperhatikan gaya hidup dari sekarang agar kesehatan tetap terjaga dan tubuh bisa tetap fit untuk menjalani berbagai aktivitas setiap hari.

Referensi

“Risiko Metabolik Tersembunyi Pada Usia Dewasa Muda: Analisis Obesitas, Prediabetes, dan Hiperkolesterolemia.” Jurnal Sosial Terapan. Diakses Juni 2026.

“Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan Kadar Kolesterol pada Remaja Putri.” Jurnal Ilmiah Kebidanan Indonesia. Diakses Juni 2026.

“Pengaruh Exercise terhadap Kadar Glukosa dan Profil Lipid Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana.” Cendana Medical Journal. Diakses Juni 2026.

“Hubungan Obesitas dengan Kadar Kolesterol pada Mahasiswa.” Jurnal Kesehatan Tambusai. Diakses Juni 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira

Related Articles

See More