Comscore Tracker

Ternyata Ada 9 Faktor Fisik Penyebab Depresi, Apa Saja?

Mulai dari genetik, kimia di otak, hingga penyakit tertentu

Depresi pada umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Nyatanya, peristiwa menyedihkan atau traumatis tak selalu diikuti oleh depresi. Hal ini karena adanya faktor-faktor lain yang ikut berperan dalam mengubah atau memengaruhi hubungan tersebut.

Depresi jarang dipicu oleh satu faktor saja, tetapi lebih sering disebabkan oleh berbagai faktor yang berinteraksi dalam berbagai kombinasi, sehingga menciptakan suatu kondisi tertentu yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya tingkat dan frekuensi depresi.

Seperti halnya penyakit lain, penyebab depresi yang sesungguhnya tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, telah ditemukan sejumlah faktor fisik yang bisa memengaruhinya.

Kemungkinan, ada unsur bawaan penting yang membuat beberapa orang lebih mudah mengalami depresi. Gabungan dari ketidakseimbangan biologis dan psikologis itulah yang menyebabkan timbulnya depresi.

Lantas, apa saja faktor fisik yang berkontribusi dalam menyebabkan depresi? Berikut ini penjelasannya.

1. Faktor genetik

Ternyata Ada 9 Faktor Fisik Penyebab Depresi, Apa Saja?pixabay.com/EliasSch

Bila ada seseorang yang salah satu anggota keluarganya menderita depresi berat, ia berisiko lebih besar untuk juga mengalaminya. Risiko terbesarnya adalah pada kembar identik yang terkena depresi.

Sulit untuk menghitung tingkat risiko karena pengaruh dari gen berbeda untuk tiap tipe depresi. Pengaruh gen lebih penting pada depresi berat daripada depresi ringan, dan lebih penting pada individu muda yang menderita depresi daripada individu yang lebih tua. Gen lebih berpengaruh pada orang-orang yang punya periode mood tinggi dan mood  rendah atau gangguan bipolar.

Menurut sebuah penelitian berjudul "A Population-Based Twin Study of Major Depression in Women: The Impact of Varying Definitions of Illness" dalam jurnal Archives of General Psychiatry tahun 1992, anak kembar berbagi faktor risiko terhadap neurotisme dan depresi berkisar antara 70 persen karena genetik, 20 persen karena faktor lingkungan, dan 10 persen akibat penyebab langsung depresi berat.

Artinya, jika salah satu anak kembar terdeteksi menderita depresi berat, saudara kembarnya memiliki faktor risiko yang besar mengalami depresi juga.

2. Faktor susunan kimia dalam otak dan tubuh

Ternyata Ada 9 Faktor Fisik Penyebab Depresi, Apa Saja?pexels.com/RF._.studi

Secara biologis, depresi terjadi di otak. Otak manusia adalah pusat komunikasi paling rumit dan paling canggih. Sebanyak 10 miliar sel mengeluarkan miliaran pesan tiap detik. Pembawa pesan biokimia ini dikenal dengan neurotransmiter. Ketika neurotransmiter berada pada tingkat yang normal, otak bekerja dengan harmonis, dan kita merasa baik, punya harapan, dan tujuan.

Walaupun banyak macam neurotransmiter yang berbeda, riset ilmiah menunjukkan bahwa kekurangan dari beberapa neurotransmiter seperti serotonin, norepinefrin, dan dopamin dapat menyebabkan depresi.

Di lain sisi, kelebihan jumlah neurotransmiter dapat menjadi penyebab fase manik dalam periode manik-depresi. Selain itu, diketahui bahwa stres dapat melemahkan respons imunitas atau kekebalan tubuh.

Masalah emosional akan merangsang hipotalamus dalam otak. Lalu, hipotalamus akan merangsang kelenjar pituitari, yang kemudian kelanjar ini akan merangsang kelenjar adrenal.

Kemudian, kelenjar adrenal mulai mengeluarkan semacam hormon yang dinamakan glukokortikoid dalam jumlah besar yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan. Di bawah pengaruh glukokortikoid inilah,seseorang tidak menghasilkan cukup banyak antibodi.

Baca Juga: 5 Hal Ini Sebabkan Orang Introvert Bisa Rentan Terkena Depresi 

3. Faktor usia

Ternyata Ada 9 Faktor Fisik Penyebab Depresi, Apa Saja?pexels.com/Edward eyer

Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa golongan usia muda, yaitu remaja dan orang dewasa, lebih banyak terkena depresi. Hal ini terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahap-tahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau kerja, serta masa pubertas hingga masa pernikahan.

Namun, sekarang ini usia rata-rata menunjukkan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak yang terkena depresi. Ada survei yang melaporkan adanya prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depresi pada golongan usia dewasa muda, yaitu 18-44 tahun.

Sebuah penelitian berjudul "Does old age reduce the risk of anxiety and depression? A review of epidemiological studies across the adult life span" dalam jurnal Psychological Medicine tahun 2000 menemukan bukti bahwa pada usia dewasa terdapat penurunan kecenderungan kecemasan dan depresi seiring bertambahnya usia.

Faktor yang diduga memengaruhi penurunan tersebut adalah berkurangnya respons emosi seiring bertambahnya usia, meningkatnya kontrol emosi, dan kekebalan terhadap pengalaman yang memicu stres.

4. Faktor gender

Ternyata Ada 9 Faktor Fisik Penyebab Depresi, Apa Saja?pexels.com/Magda Ehlers

Berdasarkan penelitian berjudul "Puberty and depression: the roles of age, pubertal status and pubertal timing" yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Medicine tahun 1998, perempuan dua kali lebih sering terdiagnosis depresi ketimbang laki-laki.

Bukan berarti perempuan lebih mudah terserang depresi, ya! Bisa saja karena perempuan lebih sering mengakuinya ketimbang lelaki, dan dokter lebih bisa mengenali depresi pada perempuan.

Bagaimanapun, tekanan sosial pada pada perempuan yang mengarah ke depresi lebih jarang ditemui pada pria (misalnya seorang diri di rumah dengan anak-anak kecil). Ada juga perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan, kelahiran, dan menopause yang membuat perempuan lebih rentan mengalami depresi atau jadi pemicunya.

Data dari Bank Dunia menyebutkan bahwa prevalensi terjadinya depresi sekitar 30 persen pada perempuan dan 12, 6 persen dialami laki-laki.

Menurut sebuah laporan berjudul "Susceptibility and precipitating factors in depression: sex differences and similarities" dalam Journal of Abnormal Psychology tahun 1979, perbedaan tingkat depresi pada perempuan dan laki-laki lebih ditentukan oleh faktor biologis dan lingkungan.

Dijelaskan bahwa adanya perubahan peran sosial dapat menimbulkan berbagai konflik serta membutuhkan penyesuaian diri yang lebih intens, adanya kondisi yang penuh stresor (pemicu stres) bagi kaum hawa, misalnya penghasilan dan tingkat pendidikan lebih rendah dibandingkan lelaki, serta adanya perbedaan faktor fisiologi dan hormonal dibanding laki-laki.

Baca Juga: Depresi Geriatri, Masalah Kesehatan Mental yang Sering Dialami Lansia 

5. Faktor gaya hidup

Ternyata Ada 9 Faktor Fisik Penyebab Depresi, Apa Saja?pixabay.com/Free-Photos

Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat yang menyebabkan munculnya penyakit, misalnya penyakit jantung yang juga dapat memicu kecemasan dan depresi.

Tingginya tingkat stres dan kecemasan dikombinasikan dengan pola makan yang tidak sehat, kurang tidur, serta tidak berolahraga dalam jangka waktu lama dapat menjadi faktor beberapa orang mengalami depresi.

Penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup tidak sehat pada pasien berisiko penyakit jantung

Walaupun tidak sering dihubungkan dengan depresi, tetapi kekurangan nutrisi (terutama vitamin B) dan makanan yang terlalu banyak bahan kimia di dalamnya juga dapat menjadi faktor terjadinya depresi pada beberapa orang.

Pada usia lanjut, depresi lebih banyak berhubungan dengan gaya hidup. Khususnya pada individu lanjut usia di atas 70 tahun, aktivitas sosial berhubungan dengan penurunan tingkat depresi. Lansia yang sering terlibat aktivitas sosial lebih jarang mengalami depresi ketimbang lansia yang sering sendirian di rumah saja.

6. Faktor penyakit fisik

Ternyata Ada 9 Faktor Fisik Penyebab Depresi, Apa Saja?pixabay.com/Pexels

Penyakit fisik dapat berdampak pada kondisi mental. Perasaan terkejut saat terdiagnosis penyakit serius dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan diri (self-esteem), juga depresi.

Alasan depresi bisa terjadi cukup kompleks. Misalnya, depresi sering terjadi setelah serangan jantung. Mungkin penyebabnya karena baru saja mengalami peristiwa yang hampir menyebabkan hilang nyawa atau karena tiba-tiba menjadi orang yang tidak berdaya. Pada lansia, penyakit fisik adalah penyebab paling umum terjadinya depresi.

Penelitian berjudul "Affective illness after stroke" yang tertuang dalam British Journal of Psychiatry tahun 1987 mengamati 149 penderita stroke. Ditemukan adanya gangguan afektif depresi pada penderita stroke akut setelah 6 bulan.

Beberapa penyakit menyebabkan depresi karena pengaruhnya terhadap tubuh. Depresi dapat menyertai penyakit Parkinson dan multiple sclerosis karena efeknya terhadap otak. Begitu juga penyakit yang memengaruhi hormon yang bisa berkontribusi pada kemunculan depresi.

Berdasakan penelitian berjudul "Depression in Parkinson's disease" dalam jurnal The Journal of Nervous and Mental Disease tahun 1990 menunjukkan bahwa 105 pasien penyakit Parkinson, 21 persen di antaranya mengalami depresi berat, 20 persen mengalami depresi ringan, dan sisanya tidak.

7. Faktor obat-obatan

Ternyata Ada 9 Faktor Fisik Penyebab Depresi, Apa Saja?pixabay.com/Steve Buissinne

Beberapa obat-obatan ternyata dapat menyebabkan depresi. Namun, bukan berarti obat tersebut penyebab depresi, dan menghentikan pengobatan dapat lebih berbahaya dari depresi.

Menurut Kwame McKenzie dalam buku Understanding Depression 1999, ada beberapa obat yang dapat menyebabkan depresi, yaitu obat untuk epilepsi, obat anti tekanan darah tinggi, obat antimalaria mefloquine (lariam), obat Parkinson, beberapa obat kemoterapi, pil kontrasepsi (kontrasepsi kombinasi dan kemungkinan pada pil progesteron saja), digitalis (jantung), diuretik (jantung dan tekanan darah), interferon-alfa untuk pengobatan hepatitis C, obat penenang, dan terapi steroid (untuk asma, artritis, dan sebagainya).

8. Faktor obat-obatan terlarang

Ternyata Ada 9 Faktor Fisik Penyebab Depresi, Apa Saja?pixabay.com/Steve Buissinne

Obat-obatan terlarang sudah terbukti dapat menyebabkan depresi karena memengaruhi kimia dalam otak dan menimbulkan ketergantungan.

Menurut buku The Everything Health Guide to Depression: Reassuring advice to help you feel like yourself again, beberapa obat-obatan terlarang yang dapat menimbulkan depresi yaitu mariyuana, heroin atau putau, kokain, ekstasi, dan sabu-sabu.

9. Faktor kurangnya cahaya matahari

Ternyata Ada 9 Faktor Fisik Penyebab Depresi, Apa Saja?pixabay.com/silviarita

Kebanyakan dari kita merasa lebih baik di bawah sinar matahari daripada hari mendung. Namun, hal ini sangat berpengaruh pada beberapa individu. Mereka merasa baik-baik saja saat musim panas, tetapi menjadi depresi ketika musim dingin. Ini merupakan kondisi seasonal affective disorder (SAD). 

SAD berhubungan dengan tingkat hormon yang disebut melatonin yang dilepaskan dari kelenjar pineal ke otak. Pelepasannya sensitif terhadap cahaya, lebih banyak dilepaskan ketika gelap.

Terapi yang bisa dilakukan adalah dengan terapi cahaya, yaitu memberikan cahaya sebesar 10.000 luc. Kadang-kadang terapi ini efektif menghilangkan gejala SAD dan 4 jam terkena cahaya terang dalam sehari dapat mengurangi depresi dalam waktu seminggu. Jadi, sering-sering berjemur, ya!

Jadi, depresi bukan hanya disebabkan karena faktor psikis. Yuk, lebih perhatian dengan kesehatan mental dengan memperhatikan kesehatan fisik. Ingat, depresi bukan sekadar perasaan sedih, ya. Mau berat atau ringan, depresi harus tetap diobati dengan bantuan ahli kejiwaan seperti psikolog maupun psikiater.

Baca Juga: 5 Penyebab Merasa Sedih Tanpa Alasan, Bisa Jadi Tanda Depresi

Ina Qoriah Photo Writer Ina Qoriah

women on progress

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya