Comscore Tracker

Waspada Berlebihan Seolah Terancam Bahaya, Kenali Hypervigilance

Sering disamakan dengan paranoid

Sebagai antisipasi potensi bahaya, sudah sepatutnya kamu waspada terhadap lingkungan sekitar. Namun, kalau kewaspadaan ini berlebihan, misalnya merasa selalu terancam atau terteror bahaya besar padahal nyatanya tidak demikian, ini bukanlah hal wajar. Bisa jadi itu adalah tanda hypervigilance.

Hypervigilance adalah kondisi kewaspadaan ekstrem yang lama-lama bisa merusak kualitas hidup. Penderitanya bisa sangat waspada, bahkan sampai mencari-cara bahaya tersembunyi, baik yang nyata maupun yang hanya berupa dugaan.

Selain itu, hypervigilance ini juga bisa menjadi tanda dari masalah kesehatan mental yang lebih serius. Yuk, kenali berbagai fakta tentang hypervigilance berikut ini!

1. Kekhawatiran ekstrem saat mendeteksi potensi bahaya

Waspada Berlebihan Seolah Terancam Bahaya, Kenali HypervigilanceUnsplash.com/Alexander Krivitskiy

Mengutip dari buku “Encyclopedia of Personality and Individual Differences”, hypervigilance secara luas didefinisikan sebagai keadaan sadar akan rangsangan yang berpotensi mengancam dengan tingkat kepekaan tinggi.

Orang yang mengalami hypervigilance begitu sensitif, baik terhadap lingkungan maupun orang-orang di sekitarnya. Menurut sebuah laporan dalam “Journal of Anxiety Disorder” tahun 2014, seseorang yang punya tingkat kewaspadaan berlebihan tidak hanya menyadari sensasinya, tetapi juga tak mampu mengalihkan perhatiannya dari kondisi tersebut.

Karena tingginya tingkat kewaspadaan, hypervigilance dapat membuat penderitanya kelelahan dan kewalahan, dapat mengganggu hubungan antarpribadi, pekerjaan, serta kemampuan dalam menjalani fungsi sehari-hari.

Dilansir Verywell Health, disebutkan juga bahwa hypervigilance tak hanya dianggap sebagai ciri utama dari gangguan stres pasca trauma (PTSD), tapi juga bisa muncul dengan gangguan kecemasan lainnya, termasuk gangguan panik, gangguan kecemasan akibat zat atau obat-obatan, dan gangguan kecemasan umum. Selain itu, skizofrenia, demensia, dan paranoia juga dapat menyebabkan hypervigilance.

2. Gejala yang ditunjukkan kompleks

Waspada Berlebihan Seolah Terancam Bahaya, Kenali Hypervigilanceunsplash.com/Elsa T.

Maksud dari kompleks di sini adalah adalah keterlibatan gejala fisik, perilaku, emosional, dan mental yang bisa terjadi secara bersamaan.

Gejala fisik hypervigilance biasanya ditunjukkan dengan berkeringat, degup jantung yang kian cepat, napas tersengal, serta kelelahan. Sementara itu, gejala perilaku ditunjukkan dengan refleks gelisah dan reaksi spontan terhadap lingkungan.

Hypervigilance bisa terbentuk dari rasa takut akan penilaian orang lain, sehingga memengaruhi emosi individu yang bersangkutan.

Perubahan suasana hati, ledakan emosi, memilih untuk menyendiri, dan terbentuknya pemikiran distorsi seperti pemikiran hitam putih kemungkinan besar dapat terjadi. Selain itu, perasaan takut, panik, terus-terusan khawatir, dan kecemasan parah menjadi gejala emosional yang ditunjukkan orang dengan hypervigilance.

Gejala yang berkaitan dengan mental biasanya dikaitkan dengan paranoid, yang mungkin disertai dengan rasionalisasi pembenaran akan tingkat kewaspadaan yang berlebihan. Gangguan tidur juga kerap dialami pada seseorang dengan hypervigilance akibat PTSD.

Bila gejala-gejala tersebut tidak mendapatkan penanganan yang benar, lama-lama bisa terbentuk kebiasaan yang berdampak pada isolasi sosial dan retaknya hubungan dengan keluarga, kerabat, teman, dan pasangan.

Baca Juga: Serba-serbi Fobia, Kenapa Seseorang Bisa Punya Rasa Takut Berlebihan?

3. Mengapa seseorang bisa mengembangkan hypervigilance?

Waspada Berlebihan Seolah Terancam Bahaya, Kenali Hypervigilanceunsplash.com/Priscilla Du Preez

Berbagai spekulasi terus berkembang untuk menguak misteri tentang bagaimana seseorang bisa mengembangkan hypervigilance. Dilansir Healthline dan Verywell Health, beberapa kondisi di bawah ini diduga dapat menjadi faktor risiko:

  • Skizofrenia;
  • PTSD;
  • Kegelisahan;
  • Fibromialgia;
  • Hipertiroidisme;
  • Kurang tidur;
  • Pemicu lainnya seperti ingatan buruk di masa lalu, trauma, berada di lingkungan yang chaos, tekanan emosional, sakit fisik, perasaan ditinggalkan, perasaan terjebak, mendengar suara yang memengaruhi sisi emosional, merasa dihakimi, dan bentuk antisipasi akan rasa takut atau rasa sakit.

4. Diagnosis hypervigilance

Waspada Berlebihan Seolah Terancam Bahaya, Kenali Hypervigilanceunsplash.com/Hannah Xu

Kalau ditanya, tentu saja tidak ada orang yang mau terus-terusan hidup dengan tingkat kewaspadaan yang ekstrem. Jika seseorang dicurigai memiliki kondisi hypervigilance, dokter akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan riwayat kesehatan, serta pemeriksaan klinis.

Tes diagnostik seperti tes darah dan tes pencitraan juga dapat membantu dokter mengetahui penyebab hypervigilance.

Sementara itu, evaluasi tambahan seperti konsultasi dengan psikiater, urinalisis, pemeriksaan toksikologi, CT scan, MRI, serta ultrasonografi perut atau leher juga dapat dilakukan.

5. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hypervigilance

Waspada Berlebihan Seolah Terancam Bahaya, Kenali HypervigilanceUnsplash.com/Priscilla Du Preez

Intervensi medis untuk pengobatan hypervigilance umumnya dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Beberapa opsi berikut ini biasanya dijadikan rekomendasi oleh ahli medis profesional, seperti terapi (terapi perilaku kognitif, terapi eksposur, dan desensitisasi gerakan mata dan pemrosesan ulang atau EMDR) dan konsumsi obat-obatan tertentu (antidepresan, beta blocker, dan obat anti cemas non adiktif).

Dilansir Verywell Health, teknik konseling dan teknik coping dipercaya efektif untuk meredakan gejala hypervigilance. Dengan bantuan dari terapis, pasien akan mengembangkan perspektif yang lebih seimbang mengenai kewaspadaan yang berlebih.

Mengenai teknik coping, terapis mungkin dapat merekomendasikan beberapa opsi, seperti yoga, meditasi, pelatihan mindfulness, dan teknik pernapasan dalam.

Kewaspadaan itu bagus, tapi jangan sampai itu berubah menjadi kecemasan, ketakutan, dan paranoid yang berlebihan. Bila berpikiran positif tak membantu serta berdampak buruk pada kualitas hidup, sebaiknya cari bantuan profesional dari ahli kejiwaan agar kualitas hidupmu tetap terjaga.

Baca Juga: Selain Psikologis, Ini 8 Gejala Fisik Gangguan Kecemasan atau Anxiety

Indriyani Photo Verified Writer Indriyani

Riset, data, dan kepenulisan ilmiah adalah hal yang menyenangkan untuk ditelisik. Kecintaan terhadap dunia kepenulisan ditorehkannya melalui bait-bait alinea. Business inquiries: indriyaniann124@gmail.com

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya