Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Oseltamivir Harus dengan Resep Dokter?

4 min read
Kenapa Oseltamivir Harus dengan Resep Dokter?
ilustrasi oseltamivir (IDN Times/NRF)
  • Kemenkes mengimbau masyarakat tidak memborong atau mengonsumsi oseltamivir tanpa resep. Obat antivirus ini tidak diperlukan oleh semua orang yang mengalami gejala flu.

  • Oseltamivir ditujukan untuk influenza. Dokter menilai tingkat keparahan, risiko komplikasi, waktu sejak gejala muncul, serta kondisi pasien sebelum menentukan perlu tidaknya obat.

  • Manfaat pada pasien rawat jalan dengan gejala ringan cenderung terbatas. Dosis dan lama pengobatan juga perlu disesuaikan, terutama pada anak dan orang dengan gangguan ginjal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika kasus influenza sedang meningkat, beberapa orang mungkin langsung berburu obat, seperti antivirus oseltamivir.

Namun, oseltamivir bukan obat yang diminum begitu saja begitu demam dan batuk muncul. Dalam imbauan pada 28 September 2026, Kementerian Kesehatan RI meminta masyarakat tidak melakukan panic buying dan tidak menggunakan obat ini tanpa resep.

  1. 1. Oseltamivir bekerja untuk influenza, bukan setiap batuk-pilek

    Oseltamivir adalah obat antivirus untuk influenza A dan B. Obat ini bekerja dengan menghambat penyebaran virus dari sel yang terinfeksi ke sel lain. Namun, gejala seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, dan hidung tersumbat juga bisa disebabkan oleh infeksi lain. Karena itu, oseltamivir tidak efektif untuk semua penyakit pernapasan.

    Karena gejala berbagai infeksi sering mirip, dokter perlu menilai kemungkinan penyebab, tingkat keparahan penyakit, dan faktor risiko pasien. Tes influenza dapat membantu, tetapi pada pasien dengan penyakit berat, yang dirawat di rumah sakit, atau berisiko tinggi, terapi antivirus bisa diberikan tanpa menunggu hasil tes. Dengan kata lain, keputusan pemberian obat terutama didasarkan pada kondisi klinis pasien.

  2. 2. Manfaatnya berbeda menurut kondisi dan waktu pemberian

    Oseltamivir tidak diberikan kepada semua pasien influenza. Obat ini terutama digunakan untuk pasien dengan penyakit berat atau yang berisiko tinggi mengalami komplikasi, setelah dinilai oleh dokter.

    Pada orang yang sehat dengan gejala ringan, dokter dapat mempertimbangkan pemberian oseltamivir jika influenza dicurigai dan pengobatan dapat dimulai dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Manfaat terbesar umumnya diperoleh jika obat diberikan sesegera mungkin. Namun, pasien dengan influenza berat atau yang dirawat di rumah sakit tetap perlu dievaluasi meski sudah melewati batas waktu tersebut.

    Penelitian menunjukkan bahwa pada anak dengan influenza yang terkonfirmasi, oseltamivir yang diberikan tepat waktu dapat memperpendek durasi sakit sekitar 18 jam, meski efek samping berupa muntah lebih sering terjadi.

    Sementara itu, pada remaja dan orang dewasa yang menjalani perawatan rawat jalan, oseltamivir secara keseluruhan tidak terbukti menurunkan risiko rawat inap secara bermakna. Karena itu, penggunaan obat ini pada pasien rawat jalan perlu dipertimbangkan.

  3. 3. Dosis dan lama pengobatan tidak sama untuk setiap orang

    Ilustrasi kapsul oseltamivir, obat antivirus bermerek Tamiflu, tampak di atas latar belakang putih.
    ilustrasi oseltamivir (commons.wikimedia.org/Mk2010)

    Dosis oseltamivir tidak sama untuk setiap orang. Penentuannya bergantung pada usia, berat badan, fungsi ginjal, kondisi kesehatan, serta tujuan penggunaan, apakah untuk mengobati influenza atau mencegahnya setelah paparan. Pada anak dan pasien dengan gangguan fungsi ginjal, dosis mungkin perlu disesuaikan.

    Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah mual dan muntah. Karena itu, menggunakan sisa obat dari penyakit sebelumnya atau obat milik orang lain tidak dianjurkan. Dosis dan lama penggunaan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko efek samping tanpa memastikan bahwa obat tersebut memang diperlukan.

  4. 4. Ada kekhawatiran soal resistansi pada pemakaian berlebihan

    Virus influenza terus berubah. Perubahan genetik dapat membuat virus menjadi kurang peka terhadap obat antivirus. Perubahan semacam ini bisa muncul spontan atau selama maupun setelah pengobatan.

    Para ahli mengingatkan agar oseltamivir tidak digunakan berlebihan karena resistansi dapat mengurangi pilihan pengobatan saat pasien benar-benar membutuhkannya.

    Ingat, penggunaan obat tanpa indikasi medis memberi paparan obat yang tidak perlu

  5. 5. Kapan sebaiknya mencari pertolongan?

    Orang dengan influenza ringan umumnya bisa beristirahat, mencukupi cairan, dan memantau gejala di rumah. Namun, segera hubungi dokter jika pasien merupakan kelompok berisiko—seperti anak kecil, lansia, ibu hamil, orang dengan penyakit penyerta atau daya tahan tubuh lemah—agar kebutuhan antivirus dapat dinilai sedini mungkin.

    Cari pertolongan darurat jika muncul sesak napas, nyeri dada, kebingungan, sulit dibangunkan, atau tanda dehidrasi.

    Oseltamivir juga dapat digunakan untuk pencegahan dalam keadaan klinis tertentu, misalnya setelah paparan atau saat menangani wabah di lingkungan khusus. Namun, obat ini bukan untuk diminum sendiri sebagai langkah untuk berjaga-jaga. Jika ada kontak erat dengan pasien influenza atau kekhawatiran khusus, konsultasikan kepada dokter.

    Referensi

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Kemenkes Imbau Masyarakat Tak Panic Buying, Oseltamivir Hanya untuk Pasien Influenza Berat,” diakses September 2026.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Kemenkes: Kasus Influenza Meningkat, tetapi Masih dalam Rentang Kewaspadaan,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Influenza Antiviral Medications: Summary for Clinicians,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Influenza Antiviral Medications: Summary for Clinicians,” section “Priority Groups for Antiviral Treatment of Influenza," diakses September 2026.

    Ryan E. Malosh et al., “Efficacy and Safety of Oseltamivir in Children: Systematic Review and Individual Patient Data Meta-analysis of Randomized Controlled Trials,” Clinical Infectious Diseases 66, no. 10 (2018): 1492–1500, https://doi.org/10.1093/cid/cix1040.

    Ryan Hanula et al., “Evaluation of Oseltamivir Used to Prevent Hospitalization in Outpatients With Influenza: A Systematic Review and Meta-Analysis,” JAMA Internal Medicine 184, no. 1 (2024): 18–27, https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2023.0699.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Influenza Antiviral Medications: Summary for Clinicians,” sections “Adverse Events” and “Duration of Treatment or Chemoprophylaxis,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Influenza Antiviral Drug Resistance,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Signs and Symptoms of Flu,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More