Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Oseltamivir untuk Influenza A Langka, Menkes: Tak Sembarangan Dipakai

2 min read
Oseltamivir untuk Influenza A Langka, Menkes: Tak Sembarangan Dipakai
Menkes Budi Gunadi Sadikin bersama Sekda Jateng saat konferensi pers terakhir perkembangan terbaru layanan CKG untuk wilayah Jateng. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan oseltamivir tidak untuk semua pasien influenza dan penggunaannya dibatasi bagi kasus berat atau pasien dengan komorbid.

  • Pembatasan oseltamivir dilakukan untuk mencegah resistansi antivirus, yang berisiko mengurangi pilihan obat saat menghadapi wabah influenza lebih berat.

  • Kemenkes mencatat aktivitas influenza meningkat di Indonesia dan Asia Tenggara, tetapi hingga minggu ke-38 2026 masih kategori medium; surveilans dan kesiapsiagaan diperkuat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Budi Gunadi Sadikin buka suara terkait viralnya curhatan pasien yang mencari obat Oseltamivir untuk Influenza A di apotek dan rumah sakit.

Curhatan tersebut ramai dibagikan di media sosial. Seorang pasien mengaku kedua anaknya positif Influenza A dan mendapat resep Oseltamivir dari dokter. Namun, ia diminta mencari obat tersebut sendiri di luar rumah sakit karena stok disebut sulit ditemukan. Namun, di apotik pun susah dicari.

Menkes menegaskan obat antivirus seperti oseltamivir tidak ditujukan untuk semua pasien influenza.

“Oseltamivir penggunaannya harus tepat. Berdasarkan masukan para ahli, obat ini sebaiknya digunakan secara terbatas pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan antivirus,” ucap Budi dalam keterangan, Selasa (29/9/2026)

"Jadi obat oseltamivir itu ada di rumah sakit, tapi berdasarkan para ahli yang menyampaikan bahwa tidak bisa sembarangan diberikan karena bisa mengakibaykan resistensi," lanjutnya.

  1. 1. Pembatasan oseltamivir mencegah resistansi obat antivirus

    Obat Oseltamivir untuk Pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri. (dok. Kemenkes)
    Obat Oseltamivir untuk Pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri. (dok. Kemenkes)

    Pembatasan penggunaan oseltamivir diperlukan untuk mencegah terjadinya resistansi terhadap obat antivirus. Menkes mengibaratkan hal tersebut dengan penggunaan antibiotik yang tidak tepat yang dapat mendorong terjadinya resistansi antimikroba.

    “Kita tidak boleh menggunakan antivirus secara berlebihan karena ada risiko resistansi. Kalau resistansi terjadi, justru kita bisa kehilangan pilihan obat ketika menghadapi wabah yang lebih berat dan mengancam nyawa, seperti influenza H5Nx,” beber Menkes.

  2. 2. Kemenkes perkataan surveilans

    IMG-20260928-WA0004.jpg
    Cegah Influenza A, Dinkes Bandung Ajak Warga Terapkan Pola Hidup Sehat

    Kemenkes terus memperkuat surveilans influenza, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, laboratorium, serta komunikasi risiko kepada masyarakat.

    Masyarakat diimbau tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker ketika sakit atau berada di tempat ramai, menerapkan etika batuk dan bersin, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang memburuk.

    "Kelompok rentan seperti bayi dan anak kecil, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta perlu mendapat perhatian lebih karena memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi," katanya.

  3. 3. Kasus Influenza naik

    Warga menunggu antrean sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat.
    Warga menunggu antrean sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Senin (28/9/2026). Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencatat hingga Jumat 25 September 2026 terdapat 65 kasus positif influenza tipe A di Kota Bandung serta pihaknya menghimbau agar masyarakat diminta untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat agar terhindar dari penularan. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Namun, berdasarkan hasil surveilans hingga minggu ke-38 tahun 2026, kondisi tersebut masih berada dalam rentang medium dan belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.

    Meski demikian, Budi mengatakan peningkatan kasus influenza perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan, bukan dengan kepanikan.

    “Memang ada kenaikan kasus influenza, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara. Tetapi berdasarkan data surveilans yang kita miliki, kondisinya masih dalam rentang medium. Karena itu, yang kita lakukan adalah meningkatkan surveilans dan kesiapsiagaan agar perkembangan kasus dapat terus dipantau,” ujar Budi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More