Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kasus Influenza A Naik, IDAI Ingatkan Risiko pada Anak

5 min read
Kasus Influenza A Naik, IDAI Ingatkan Risiko pada Anak
ilustrasi anak sakit flu pakai masker (unsplash.com/Phan Khôi)
  • Anak, terutama yang berusia di bawah lima tahun, lebih berisiko mengalami komplikasi influenza.

  • Influenza dapat menyebabkan pneumonia, memperburuk asma, hingga memicu gangguan pada jantung dan otak.

  • Vaksinasi tahunan mulai usia 6 bulan, menjaga kebersihan, dan tidak membawa anak yang sakit ke sekolah menjadi perlindungan penting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Influenza sering dianggap sebagai flu biasa yang akan membaik dengan istirahat. Namun, pada anak, infeksi ini dapat berkembang menjadi penyakit serius, terutama pada bayi, balita, dan anak dengan penyakit penyerta.

Dalam rilis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 21 September 2026, peningkatan aktivitas influenza dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. IDAI pun mengingatkan orang tua untuk memperkuat perlindungan keluarga karena anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap infeksi dan komplikasi influenza.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan influenza musiman menyebabkan sekitar 1 miliar infeksi setiap tahun, termasuk 3–5 juta kasus berat dan 290 ribu–650 ribu kematian akibat gangguan pernapasan.

  1. Anak lebih rentan mengalami influenza bergejala

    Menurut Dr. dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp.H.Onk(K), Sekretaris Umum Pengurus Besar IDAI, anak usia 0–17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi mengalami influenza bergejala dibandingkan orang dewasa.

    “Sistem imun anak masih berkembang, sehingga tubuh mereka belum cukup kuat untuk segera mengendalikan dampak infeksi virus. Anak juga cenderung melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan lebih lama, sehingga berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan keluarga dan sekolah,” ujarnya mengutip rilis.

    Anak di bawah 5 tahun, terutama yang berusia di bawah 2 tahun, lebih berisiko mengalami komplikasi influenza. Risiko juga meningkat pada anak dengan asma, diabetes, penyakit jantung, gangguan saraf, atau kondisi kesehatan kronis lain.

    Sekitar 5 persen anak yang terinfeksi influenza disebut memerlukan rawat inap. Dari kelompok tersebut, 80 persen merupakan anak di bawah usia 2 tahun dan sekitar separuhnya berusia kurang dari 6 bulan.

  2. Komplikasi influenza tidak hanya menyerang paru-paru

    Ilustrasi seorang anak yang sedang sakit flu, menggambarkan kondisi tubuh tidak enak badan akibat gejala influenza.
    ilustrasi anak sakit flu (magnific.com/magnific)

    Gejala influenza dapat muncul tiba-tiba, seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, lemas, dan pilek. Sebagian besar orang pulih dalam waktu sekitar satu minggu, tetapi influenza dapat menjadi berat pada kelompok berisiko.

    Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT, dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, menyebut influenza pada anak dapat menyebabkan sejumlah komplikasi.

    “Pada anak dengan faktor risiko, influenza dapat menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis, hingga ensefalopati,” ujarnya.

    Pneumonia merupakan infeksi pada paru-paru. Sementara itu, miokarditis adalah peradangan otot jantung dan ensefalopati merupakan gangguan fungsi otak. Keduanya jarang terjadi, tetapi dapat menjadi kondisi serius yang membutuhkan penanganan medis.

    Orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas, demam tinggi yang tidak membaik, penurunan kesadaran, sulit minum, buang air kecil jauh lebih sedikit, atau tanda dehidrasi.

  3. Pemeriksaan dan antivirus harus berdasarkan evaluasi dokter

    RT-PCR dapat membantu memastikan infeksi influenza. Pemeriksaan lanjutan juga dapat dilakukan untuk kepentingan pemantauan virus dan surveilans.

    Namun, pengobatan antivirus tidak selalu harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Antivirus perlu diberikan sesegera mungkin pada pasien yang dirawat di rumah sakit, mengalami gejala berat atau memburuk, atau termasuk kelompok berisiko tinggi.

    Oseltamivir merupakan salah satu antivirus yang dapat digunakan berdasarkan evaluasi dan resep dokter. Manfaat pengobatan biasanya paling besar jika dimulai dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Pada pasien dengan kondisi berat, terapi tetap dapat memberikan manfaat meski diberikan lebih dari 48 jam setelah gejala dimulai.

    “Pemberian antivirus harus berdasarkan evaluasi dokter. Jangan memberikan obat tanpa resep, dan waspadai tanda bahaya seperti sesak napas, demam tinggi yang tidak turun, penurunan kesadaran, atau dehidrasi,” pesan Dr. Hikari.

    Untuk anak dengan gejala ringan,pastikan anak cukup beristirahat dan minum. Obat penurun demam sebaiknya diberikan sesuai anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tepat berdasarkan usia dan berat badan anak.

  4. Vaksinasi tahunan membantu melindungi keluarga

    Ilustrasi bayi dan balita menerima vaksinasi sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan kekebalan tubuh.
    ilustrasi vaksinasi pada bayi, balita (magnific.com/magnific)

    IDAI merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan untuk semua anak mulai usia 6 bulan. Vaksinasi juga penting bagi orang tua, pengasuh, dan anggota keluarga lain yang sering berinteraksi dengan anak.

    Vaksin influenza dapat mengurangi risiko sakit, rawat inap, dan kematian akibat influenza pada anak. Vaksin tidak menjamin seseorang bebas dari infeksi, tetapi membantu menurunkan risiko penyakit berat.

    “Vaksinasi influenza harus diberikan setiap tahun karena virus influenza terus berevolusi. Selain itu, vaksinasi pada anak juga melindungi anggota keluarga lain, terutama bayi di bawah 6 bulan yang belum bisa divaksinasi,” jelas Prof. Anggraini.

    Selain vaksinasi, orang tua perlu mengajarkan anak mencuci tangan, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, menggunakan masker bila diperlukan, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.

    Anak yang mengalami gejala influenza sebaiknya beristirahat di rumah dan tidak dibawa ke sekolah atau tempat bermain. Menurut rilis IDAI, anak dapat menularkan virus sejak 24 jam sebelum gejala muncul hingga sekitar 10 hari setelahnya.

    Anak sebaiknya kembali beraktivitas setelah setidaknya 24 jam bebas demam tanpa obat penurun panas dan kondisinya membaik. Langkah sederhana ini membantu mengurangi penularan di sekolah, tempat bermain, dan lingkungan keluarga.

    Influenza memang sering sembuh tanpa komplikasi. Namun, perhatian lebih diperlukan ketika infeksi terjadi pada bayi, balita, atau anak dengan penyakit penyerta. Perlindungan dapat dimulai dari vaksinasi, mengenali tanda bahaya, dan mencari pertolongan medis tanpa menunda ketika kondisi anak memburuk.

    Referensi tambahan

    World Health Organization, “Influenza (Seasonal),” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Flu and Children,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Influenza Antiviral Medications: Summary for Clinicians,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More