Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Perempuan Lebih Berisiko Osteoporosis daripada Laki-laki?

3 min read
Kenapa Perempuan Lebih Berisiko Osteoporosis daripada Laki-laki?
ilustrasi lansia jalan santai (magnific.com/rawpixel-com)
  • Secara rata-rata, perempuan memiliki tulang yang lebih kecil dan massa tulang puncak yang lebih rendah daripada laki-laki.

  • Penurunan estrogen saat menopause dapat mempercepat pengurangan massa tulang.

  • Osteoporosis juga dapat dialami laki-laki; usia, riwayat keluarga, berat badan, pola hidup, penyakit, dan obat-obatan ikut memengaruhi risiko.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tulang terus bekerja meski kita tidak merasakannya. Jaringan lama dibongkar, lalu tubuh membentuk jaringan baru untuk menjaga kekuatan tulang. Proses ini berlangsung sepanjang hidup. Namun, jika tulang yang dibongkar lebih banyak daripada yang terbentuk, massa dan kekuatannya dapat menurun. Kondisi inilah yang dapat berujung pada osteoporosis.

Osteoporosis kerap tidak menimbulkan gejala sampai tulang patah. Karena itu, risiko yang meningkat pada perempuan sering kali tidak terasa sampai masalah muncul. Lalu, mengapa perempuan lebih rentan?

  1. Massa tulang awal perempuan rata-rata lebih rendah

    Salah satu jawabannya berkaitan dengan kondisi tulang sejak dewasa muda. Secara rata-rata, perempuan memiliki tulang yang lebih kecil dan massa tulang puncak yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Massa tulang puncak adalah jumlah massa tulang tertinggi yang dicapai seseorang, biasanya pada usia 20-an.

    Ibarat memiliki cadangan, massa tulang puncak yang lebih rendah berarti ruang untuk kehilangan massa tulang sebelum mencapai tingkat yang berisiko juga bisa lebih kecil. Ini bukan berarti setiap perempuan pasti mengalami osteoporosis. Kondisi tulang setiap orang berbeda, dan risiko turut dipengaruhi faktor lain.

  2. Perubahan estrogen saat menopause berpengaruh

    Ilustrasi perbandingan struktur tulang normal yang padat dengan tulang osteoporosis yang lebih keropos dan berpori.
    ilustrasi perbedaan tulang normal dan tulang yang mengalami osteoporosis (magnific.com/brgfx)

    Perubahan hormon menjadi alasan penting berikutnya. Estrogen berperan dalam keseimbangan pembentukan dan penguraian tulang. Saat kadar estrogen menurun selama transisi menuju menopause dan setelahnya, penguraian tulang dapat berlangsung lebih cepat daripada pembentukan tulang baru. Akibatnya, kepadatan tulang dapat berkurang dan risiko patah tulang meningkat.

    Penurunan estrogen tidak hanya berkaitan dengan menopause. Kadar estrogen yang rendah akibat gangguan hormon atau tidak menstruasi dalam waktu lama juga dapat menjadi faktor risiko pada perempuan yang belum menopause. Karena itu, perubahan menstruasi yang tidak biasa sebaiknya dibicarakan dengan dokter, terutama jika disertai faktor risiko lain.

  3. Risiko tidak ditentukan oleh jenis kelamin saja

    Usia turut memengaruhi kekuatan tulang pada semua orang. Seiring bertambahnya usia, kehilangan tulang dapat berlangsung lebih cepat sementara pembentukan tulang baru melambat. Berat badan yang rendah, riwayat osteoporosis atau patah tulang pada orang tua, asupan kalsium dan vitamin D yang kurang, serta aktivitas fisik yang rendah juga dapat meningkatkan risiko.

    Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, beberapa penyakit, dan penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang—seperti kortikosteroid—perlu ikut diperhitungkan.

    Laki-laki pun dapat mengalami osteoporosis. Secara umum, mereka memiliki massa tulang puncak lebih tinggi dan kehilangan tulang lebih lambat, sehingga risikonya sering meningkat pada usia yang lebih lanjut. Jadi, anggapan osteoporosis "eksklusif" dialami perempuan bisa membuat membuat masalah tulang pada laki-laki luput diperiksa.

    International Osteoporosis Foundation (IOF) memperkirakan 1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki berusia di atas 50 tahun akan mengalami patah tulang terkait osteoporosis sepanjang sisa hidupnya.

  4. Kapan perlu membicarakan kesehatan tulang?

    Ilustrasi seorang lansia sebagai gambaran kehidupan dan perhatian terhadap kebutuhan kelompok usia lanjut.
    ilustrasi lansia (pexels.com/Los Muertos Crew)

    Patah tulang setelah jatuh ringan, menopause yang terjadi lebih cepat, tidak menstruasi dalam waktu lama, berat badan rendah, atau penggunaan kortikosteroid jangka panjang adalah beberapa hal yang bisa dibicarakan dengan dokter. Dokter akan menilai faktor risiko dan menentukan apakah pemeriksaan kepadatan tulang diperlukan.

    Menjaga tulang juga dapat dimulai jauh sebelum menopause dengan cara tetap aktif, mengonsumsi makanan dengan kalsium dan vitamin D yang cukup, tidak merokok, dan membatasi alkohol.

    Jika memiliki beberapa faktor risiko atau pernah mengalami patah tulang, pemeriksaan dan saran dokter membantu menentukan langkah berikutnya.

    Referensi

    National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS), “Osteoporosis,” diakses 21 Oktober 2026.

    NIAMS, “Osteoporosis in Men,” diakses 21 Oktober 2026.

    Olivia Platt, James Bateman, and Shagaf Bakour, “Impact of Menopause Hormone Therapy, Exercise, and Their Combination on Bone Mineral Density and Mental Wellbeing in Menopausal Women: A Scoping Review,” Frontiers in Reproductive Health 7 (May 12, 2025), https://doi.org/10.3389/frph.2025.1542746.

    International Osteoporosis Foundation, “Epidemiology,” diakses 21 Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More