Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Makanan yang Harus Dihindari bagi Penderita Kanker Payudara
ilustrasi kanker payudara (unsplash.com/Sasun Bughdaryan)
  • Kanker payudara dapat berkembang di lobulus atau duktus, lalu menyebar ke jaringan lain; pola hidup sehat direkomendasikan untuk membantu mengurangi risikonya.
  • Alkohol, makanan cepat saji, daging merah atau olahan, serta makanan dan minuman manis dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara.
  • Gorengan dengan minyak berulang, suplemen dosis tinggi saat terapi, serta karbohidrat olahan perlu dihindari karena dapat mengganggu pengobatan atau meningkatkan faktor risiko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kanker payudara adalah jenis kanker yang paling umum dan penyebab kematian kedua pada perempuan. Namun, meskipun kanker payudara menyumbang 1 dari 10 diagnosis kanker pada perempuan, dalam kasus yang jarang terjadi atau kurang dari 1 persen, laki-laki juga bisa didiagnosis mengidap kanker payudara, lho, menurut sebuah studi yang ditulis oleh A Sanguinetti, dkk., berjudul "Male Breast Cancer, Clinical Presentation, Diagnosis and Treatment: Twenty Years of Experience in Our Breast Unit" (2016), yang diterbitkan dalam International Journal of Surgery Case Reports.

Seperti kebanyakan kanker, kanker payudara adalah penyakit ketika sel-sel di berbagai jaringan payudara mulai tumbuh tanpa terkendali. Payudara terdiri dari tiga anatomi utama: lobulus, saluran (duktus), dan jaringan ikat. Namun, kanker umumnya berkembang di lobulus atau saluran (duktus), yaitu area payudara yang bertanggung jawab untuk memproduksi dan mengangkut ASI untuk menyusui. Meskipun demikian, sel kanker sering menyebar dari payudara ke jaringan tubuh lainnya. Proses ini dikenal sebagai metastasis. Jika sudah ditahap ini, pemulihan dan kelangsungan hidup akan jauh lebih minim.

Nah, karena merupakan jenis kanker yang umum, CDC memberikan rekomendasi yang bisa membantu mengurangi risiko penyakit ini, seperti pola hidup sehat. Berikut ini kita akan membahas beberapa makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari bagi penderita kanker payudara.

1. Alkohol

ilustrasi alkohol (unsplash.com/Gabriel Hohenstein)

Beberapa jenis minuman beralkohol, seperti anggur merah, memang dianggap punya beberapa manfaat bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah sedang. Namun, untuk melawan kanker, sebaiknya tidak meminum alkohol maupun anggur merah, mengingat asupan alkohol secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara.

Dalam jurnal yang ditulis oleh Jasmine A McDonald, dkk., berjudul "Alcohol Intake and Breast Cancer Risk: Weighing the Overall Evidence" (2013) dalam Current Breast Cancer Reports, ditemukan bahwa perempuan yang minum 2 hingga 3 minuman alkohol per hari memiliki peningkatan risiko kanker payudara sebesar 32 persen, dan risiko tersebut meningkat hingga 46 persen pada mereka yang mengonsumsi lebih dari 3 minuman beralkohol per hari dibandingkan dengan mereka yang tidak minum alkohol. Beberapa penelitian telah mengusulkan dua mekanisme potensial di balik efek negatif alkohol pada perkembangan kanker payudara.

Di satu sisi, sebuah artikel yang ditulis oleh Joanne F. Dorgan, dkk., berjudul "Serum Hormones and the Alcohol–Breast Cancer Association in Postmenopausal Women" (2001), yang diterbitkan dalam Journal of the National Cancer Institute menjelaskan bahwa ada hubungan langsung antara asupan alkohol dan peningkatan konsentrasi hormon seks, yaitu estrogen dan androgen—yang bisa mendorong pertumbuhan tumor pada kanker payudara Estrogen Receptor-positive (ER+). Di sisi lain, konsumsi alkohol yang lebih tinggi menyebabkan kadar folat yang lebih rendah, yaitu vitamin yang membantu mengurangi risiko kanker payudara dengan mencegah pertumbuhan tumor.

2. Makanan cepat saji

ilustrasi makanan cepat saji (unsplash.com/Dan Gold)

Hampir semua dari kita pasti pernah makan pizza atau burger yang memanjakan lidah. Yap, ditambah kentang goreng, kan. Namun, terlepas dari seberapa besar kita menyukainya atau seberapa praktisnya makanan tersebut, bukan rahasia lagi kalau makanan cepat saji bukanlah makanan sehat.

Makanan cepat saji diklasifikasikan sebagai makanan padat energi. Artinya, makanan tersebut memiliki banyak kalori per porsinya. Namun, makanan ini juga tidak punya banyak nutrisi. Bahkan, menurut beberapa penelitian, makanan cepat saji meningkatkan risiko kanker.

Menurut sebuah studi yang ditulis oleh Urmila Chandran, dkk., berjudul "Intake of Energy-Dense Foods, Fast Foods, Sugary Drinks, and Breast Cancer Risk in African American and European American Women" (2015), yang diterbitkan dalam jurnal Nutrition and Cancer, menyebutkan bahwa frekuensi konsumsi makanan cepat saji yang lebih tinggi, serta makanan padat energi lainnya, dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Nah, karena alasan ini, World Cancer Research Fund (WCRF) merekomendasikan untuk membatasi konsumsinya.

Selain kepadatan energinya, sebuah studi yang ditulis oleh Behjat Marzbani, dkk., berjudul "Dietary Patterns, Nutrition, and Risk of Breast Cancer: A Case-Control Study in the Eest of Iran" (2019), yang diterbitkan dalam Epidemiology and Health, menjelaskan bahwa kandungan natrium nitritnya merupakan faktor lain yang menghubungkan makanan olahan dan makanan cepat saji dengan kanker. Natrium nitrit adalah zat tambahan yang digunakan untuk memperpanjang umur simpan makanan. Namun, begitu tubuh memecahnya, zat tersebut diubah menjadi nitrosamin, yang merupakan zat karsinogen (zat beracun penyebab kanker). Bahkan, menurut penelitian tersebut, para peneliti telah menentukan bahwa konsumsi makanan cepat saji setiap hari dapat meningkatkan risiko kanker payudara hingga tiga kali lipat.

3. Daging merah dan daging olahan

ilustrasi daging olahan (pixabay.com/Dagny Walter)

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), daging merah adalah daging otot sapi, domba, babi, sapi muda, dan kambing. Sebaliknya, daging olahan atau yang diawetkan adalah daging yang telah diasinkan, diasap, atau difermentasi untuk mengawetkannya dan meningkatkan rasanya, seperti hot dog, sosis, ham, dan dendeng sapi. Namun, daging olahan dan daging merah diklasifikasikan sebagai karsinogenik. Artinya, daging olahan diketahui menyebabkan kanker, sedangkan daging merah diketahui meningkatkan risikonya.

Menurut tinjauan yang ditulis oleh Maryam S Farvid, dkk., berjudul "Consumption of Red and Processed Meat and Breast Cancer Incidence: A Systematic Review and Meta-Analysis of Prospective Studies" (2018), yang diterbitkan dalam The International Journal of Cancer, menjelaskan bahwa ada beberapa alasan kenapa jenis daging ini dapat berdampak negatif pada kesehatan payudara. Pertama, dalam hal daging merah, ada hubungan antara residu hormon yang digunakan pada sapi potong dan kanker payudara yang berhubungan dengan hormon. Kedua, daging merah cenderung tinggi lemak jenuh (tidak sehat) dan kolesterol, dua senyawa yang memperkuat hubungannya dengan kanker. Ketiga, memasak daging pada suhu tinggi dapat menyebabkan pembentukan senyawa penyebab kanker yang disebut amina heterosiklik (HCA). Dan keempat, daging merah merupakan sumber zat besi heme yang kaya, yang dibutuhkan untuk transportasi oksigen ke seluruh tubuh, tetapi juga dapat memfasilitasi produksi zat penyebab kanker.

Mengenai daging olahan, tingginya jumlah aditif seperti nitrat dan nitrit mungkin menjadi penghubung antara daging olahan dan kanker payudara, yang risikonya lebih tinggi pada kasus setelah menopause, tapi tidak sebelum menopause.

4. Makanan dan minuman manis

ilustrasi makanan dan minuman manis (unsplash.com/Jojo Yuen sharemyfoodd)

Gula tambahan diketahui berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan, seperti diabetes tipe 2, obesitas, dan penyakit jantung. Gula tambahan biasanya terdapat dalam bentuk permen, kue-kue, makanan penutup, dan minuman manis seperti minuman ringan, soda, dan jus buah. Nah, apakah kamu termasuk orang yang sering mengonsumsinya?

Sayangnya, menurut sebuah studi yang ditulis oleh Behjat Marzbani, dkk., berjudul "Dietary Patterns, Nutrition, and Risk of Breast Cancer: A Case-Control Study in the West of Iran" (2019), yang diterbitkan dalam Epidemiology and Health, mengungkapkan bahwa asupan makanan manis yang lebih tinggi dan lebih sering juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Selain itu, makanan tinggi gula tambahan mengakibatkan penambahan berat badan, yang mengganggu penanda metabolisme, meningkatkan resistensi insulin dan peradangan, serta mendorong ketidakseimbangan hormon seks. Hal ini perlahan-lahan menyebabkan perkembangan dan progresi kanker payudara. Selain itu, dengan menghambat metabolisme insulin, asupan gula yang tinggi juga meningkatkan kadar faktor pertumbuhan seperti insulin (IGF), yang mendorong pertumbuhan tumor.

Adapun, tinjauan lain yang ditulis oleh Yuting Lidi, dkk., berjudul "Consumption of Sugar-Sweetened Beverages and Fruit Juice and Human Cancer: A Systematic Review and Dose-Response Meta-Analysis of Observational Studie" (2021), yang diterbitkan di Journal of Cancer, menjelaskan bahwa makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi menyebabkan kadar gula darah tinggi kronis, yang dikaitkan dengan kanker terkait diabetes (seperti kanker payudara). Terakhir, tinjauan tersebut menemukan bahwa beberapa senyawa kimia, seperti zat tambahan yang digunakan untuk memberi warna karamel pada minuman soda dan permen, terkait dengan peningkatan risiko kanker.

5. Makanan yang digoreng dengan minyak yang digunakan berulang kali

ilustrasi makanan yang digoreng (unsplash.com/Parmanand Jagnandan)

Kue-kue seperti donat hingga makanan asin seperti ikan asin, atau makanan gorengan merupakan makanan populer di Indonesia. Sayangnya, selain tinggi lemak jenuh atau jenis lemak tidak sehat yang meningkatkan risiko penyakit jantung, gorengan dikaitkan dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi, menurut sebuah studi yang ditulis oleh Behjat Marzbani, dkk., berjudul "Dietary Patterns, Nutrition, and Risk of Breast Cancer: A Case-Control Study in the West of Iran" (2019), yang diterbitkan dalam Epidemiology and Health. Lebih tepatnya, studi tersebut menemukan bahwa perempuan yang sering mengonsumsi gorengan atau makanan yang digoreng memiliki risiko kanker 4,5 kali lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak mengonsumsinya.

Seperti yang dijelaskan dalam jurnal yang ditulis oleh Kumar Ganesan, berjudul "Deep Frying Cooking Oils Promote the High Risk of Metastases in the Breast-A Critical Review" (2020), yang diterbitkan dalam jurnal Food and Chemical Toxicology, adalah bahwa minyak goreng yang dipakai berulang kali, menyebabkan produksi berbagai produk sampingan dengan sifat penyebab kanker, tumor, dan mutasi yang sudah dikenal. Faktanya, minyak sayur yang dipanaskan kembali juga dikaitkan dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi, kanker paru-paru, kolorektal, dan prostat.

6. Suplemen makanan

ilustrasi suplemen makanan (unsplash.com/Mariana Rascão)

Vitamin dan mineral yang dikenal sebagai mikronutrien, secara alami ditemukan dalam makanan. Dengan demikian, mengonsumsi makanan seimbang seharusnya bisa menyediakan semua mikronutrien yang dibutuhkan tubuh. Namun, kondisi medis tertentu dapat meningkatkan kebutuhan vitamin dan mineral, atau dalam beberapa kasus (seperti pengobatan kanker), asupan makanan mungkin terbatas.

Oleh karena itu, banyak orang beralih ke suplemen makanan untuk menghindari kekurangan vitamin dan mineral. Meskipun demikian, dalam kasus kanker, suplemen justru bisa lebih merugikan, karena dapat mengurangi efektivitas kemoterapi atau radiasi jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Menurut uji klinis yang dilakukan oleh Christine B Ambrosone, dkk., berjudul "Dietary Supplement Use During Chemotherapy and Survival Outcomes of Patients With Breast Cancer Enrolled in a Cooperative Group Clinical Trial (SWOG S0221)" (2019), yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Oncology, menyebut bahwa pengobatan kanker menghasilkan spesies oksigen reaktif (ROS), senyawa dengan efek toksik yang dimaksudkan untuk menyerang sel kanker. Namun, hal ini juga dapat membahayakan sel sehat. Oleh karena itu, karena antioksidan melawan ROS, uji coba tersebut menunjukkan bahwa asupan antioksidan yang tinggi dapat mengurangi efektivitas pengobatan. Bahkan, para peneliti menemukan bahwa risiko kanker kambuh dapat meningkat sebesar 41 persen ketika antioksidan dikonsumsi, baik sebelum maupun setelah pengobatan. Selain itu, penelitian tersebut menemukan bahwa asupan suplemen yang menyediakan vitamin B12 dan zat besi juga dapat meningkatkan risiko kanker kambuh lagi dan bahkan kematian.

Demikian pula, sebuah tinjauan yang ditulis oleh Brian D Lawenda, berjudul "Should Supplemental Antioxidant Administration be Avoided during Chemotherapy and Radiation Therapy?" (2008), yang diterbitkan dalam The Journal of the National Cancer Institute menjelaskan bahwa selain melindungi sel-sel sehat dari efek toksik kemoterapi dan radiasi, dosis antioksidan besar yang diberikan oleh suplemen makanan juga dapat melindungi sel-sel kanker, sehingga mengurangi tingkat kelangsungan hidup pasien kanker.

7. Roti putih dan karbohidrat olahan lainnya

ilustrasi roti (unsplash.com/mohamed hassouna)

Karbohidrat sederhana atau olahan (seperti roti putih, nasi, dan pasta) adalah jenis karbohidrat yang mudah diserap tubuh, dan karenanya, dapat meningkatkan kadar gula darah lebih cepat. Ini berarti karbohidrat tersebut memiliki indeks glikemik (GI) yang tinggi, yaitu ukuran seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat meningkatkan kadar gula darah. Sayangnya, asupan karbohidrat sederhana dan GI-nya yang tinggi dapat meningkatkan risiko kanker payudara dengan meningkatkan kadar insulin.

Menurut studi yang ditulis oleh Graham G. Giles, dkk., berjudul "Dietary Carbohydrate, Fibre, Glycaemic Index, Glycaemic Load and the Risk of Postmenopausal Breast Cancer" (2005), yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer, mengungkapkan bahwa kadar insulin yang tinggi menyebabkan peningkatan faktor pertumbuhan mirip insulin (IGF), yang meningkatkan risiko kanker dengan mendorong pertumbuhan sel yang tidak terkontrol. Selain itu, karena kadar gula darah yang tinggi dapat mengganggu efek perlindungan vitamin C dan merusak respons imun tubuh, asupan karbohidrat sederhana yang tinggi dikaitkan dengan penurunan angka harapan hidup untuk kanker payudara. Oleh karena itu, cobalah mengganti karbohidrat sederhana dengan karbohidrat kompleks seperti kacang-kacangan, umbi-umbian, dan biji-bijian utuh.

Makanan rupanya punya peran penting bagi kesehatan tubuh kita, ya. Itu sebabnya, menerapkan pola hidup sehat dan menjauhi makanan yang kurang baik bagi tubuh adalah hal yang wajib dilakukan. Semoga informasinya membantu, ya.

Referensi

“Breast Cancer.” StatPearls Publishing, National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses Oktober 2026.

“Physical Activity and Breast Cancer Risk: Results from the Women’s Health Initiative.” National Library of Medicine (PubMed Central). Diakses Oktober 2026.

“About Breast Cancer.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Oktober 2026.

“Preventing Breast Cancer.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Oktober 2026.

“Benefits of Good Nutrition and Physical Activity During Cancer Treatment.” American Cancer Society (ACS). Diakses Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article