Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mendengkur Bisa Jadi Tanda Bahaya, Ini 5 Ciri-cirinya
ilustrasi istri terganggu dengan suaminya yang tidur mendengkur (magnific.com/jcomp)
  • Mendengkur sesekali tidak selalu berarti ada penyakit. Namun, dengkuran keras dan rutin, terutama disertai henti napas atau tersedak saat tidur, perlu diperhatikan.

  • Mengantuk berat pada siang hari, sulit berkonsentrasi, dan tekanan darah tinggi dapat menambah kecurigaan terhadap sleep apnea.

  • Diagnosis tidak bisa dipastikan dari suara dengkuran saja. Dokter dapat menyarankan pemeriksaan tidur untuk menilai pola napas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Suara dengkuran sering kali lebih dulu disadari orang yang tidur sekamar. Kadang dengkuran cuma muncul sesekali, misalnya saat hidung tersumbat atau setelah minum alkohol. Namun, dengkuran yang keras dan rutin, apalagi disertai napas terhenti atau tersengal, bisa menjadi tanda sleep apnea obstruktif, yaitu kondisi ketika saluran napas menyempit atau tertutup berulang kali saat tidur. Tidak semua orang yang mendengkur mengalami kondisi ini, tetapi sejumlah gejala patut diperiksa.

Berikut lima ciri mendengkur yang sebaiknya tidak diabaikan.

1. Dengkuran keras dan sering terjadi

Dengkuran muncul ketika jaringan di sekitar lidah, langit-langit mulut, atau tenggorokan bergetar saat udara melewati saluran napas yang menyempit.

Dengkuran yang sesekali muncul belum tentu menandakan masalah serius. Namun, jika suaranya keras, terjadi berulang, atau sampai mengganggu tidur orang lain, sebaiknya perhatikan apakah ada gejala lain.

Dengkuran saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami sleep apnea. Penilaiannya perlu melihat keseluruhan gejala dan, bila dibutuhkan, hasil pemeriksaan tidur.

2. Napas seperti berhenti, lalu disusul dengusan atau tersedak

Salah satu tanda yang penting adalah jeda napas berulang saat tidur. Setelah jeda itu, seseorang mungkin kembali bernapas dengan suara mendengus keras, tersengal, atau seperti tercekik.

Orang yang tidur sendiri bisa tidak menyadarinya, sehingga pengamatan pasangan atau anggota keluarga berguna untuk disampaikan kepada dokter.

Pada sleep apnea, otak dapat memicu seseorang terbangun sejenak agar ia kembali bernapas. Gangguan ini bisa terjadi berkali-kali dalam semalam dan membuat tidur kurang berkualitas.

3. Tetap mengantuk atau lelah meski sudah tidur

ilustrasi orang mengantuk pada siang hari (unplash.com/ vitaly gariev)

Tidur sepanjang malam tidak selalu terasa cukup jika napas berulang kali terganggu. Pada siang hari, tanda yang bisa muncul antara lain rasa kantuk berlebihan, cepat lelah, sulit fokus, dan lambat bereaksi.

Sakit kepala atau mulut kering saat bangun tidur juga dapat menyertai sleep apnea.

Jika kantuk sampai membuat kamu nyaris tertidur saat mengemudi atau bekerja dengan mesin, keselamatan perlu diutamakan. Hentikan aktivitas berisiko dengan aman dan bicarakan gejala tersebut dengan tenaga kesehatan.

4. Dengkuran disertai tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi bukan bukti seseorang mengalami sleep apnea. Namun, jika hipertensi muncul bersama dengkuran keras yang rutin, henti napas yang disaksikan orang lain, atau kantuk berat pada siang hari, sleep apnea perlu dicurigai.

Kombinasi kantuk berlebihan pada siang hari dengan sedikitnya dua dari tiga tanda—dengkuran keras yang rutin, henti napas atau tersedak yang disaksikan orang lain, dan hipertensi yang sudah didiagnosis—sebagai petunjuk risiko sleep apnea sedang hingga berat. Kriteria ini membantu dokter menentukan perlunya pemeriksaan.

Sleep apnea juga dikaitkan dengan masalah kardiovaskular, termasuk hipertensi. Namun, kaitan tersebut berhubungan dengan gangguan napas saat tidur, bukan berarti suara dengkuran itu sendiri otomatis menyebabkan penyakit jantung. Sebuah tinjauan sistematis pada 2024 merangkum penelitian yang menemukan hubungan antara sleep apnea dan sejumlah risiko kardiovaskular.

5. Anak mendengkur rutin atau sulit berkonsentrasi

Sleep apnea juga dapat terjadi pada anak. Dengkur yang rutin, jeda napas, tidur gelisah, atau masalah perhatian dan perilaku di sekolah patut dibicarakan dengan dokter anak.

Pada anak, masalah amandel atau adenoid yang membesar dapat ikut mempersempit saluran napas.

Buat janji temu dengan dokter jika dengkuran keras terjadi secara rutin, terlebih jika disertai jeda napas, terbangun sambil tersengal, kantuk berat pada siang hari, atau tekanan darah tinggi.

Dokter akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan, lalu dapat menyarankan pemeriksaan tidur untuk mengetahui apakah ada sleep apnea dan seberapa berat kondisinya.

Pemeriksaan dapat dilakukan di laboratorium tidur atau, pada pasien dewasa tertentu, di rumah dengan alat yang direkomendasikan tenaga kesehatan. Diagnosis tetap perlu ditegakkan oleh dokter.

Referensi

Mayo Clinic, “Snoring: Symptoms and Causes,” diakses Oktober 2026.

National Heart, Lung, and Blood Institute, “Sleep Apnea Symptoms,” diakses Oktober 2026.

Vishesh K. Kapur et al., “Clinical Practice Guideline for Diagnostic Testing for Adult Obstructive Sleep Apnea,” Journal of Clinical Sleep Medicine 13, no. 3 (2017): 479–504, https://doi.org/10.5664/jcsm.6506.

Swati Thareja et al., “Impact of Obstructive Sleep Apnea on Cardiovascular Health: A Systematic Review,” Cureus 16, no. 10 (October 20, 2024): e71940, https://doi.org/10.7759/cureus.71940.

National Heart, Lung, and Blood Institute, “Sleep Apnea Diagnosis,” diakses Oktober 2026.

American Academy of Sleep Medicine, “Clinical Use of a Home Sleep Apnea Test: An Updated American Academy of Sleep Medicine Position Statement,”diakses Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article