Ilustrasi perempuan hamil (unsplash.com/@cuartodeiibra)
Ini mungkin salah satu mitos yang paling menyakitkan dan merusak tentang infertilitas dan perawatan kesuburan. Pasangan yang memutuskan untuk berhenti mencoba memiliki akan dipermalukan oleh orang-orang karena menyerah terlalu cepat. Tak jarang mereka mungkin diberi tahu, “Jika terus mencoba, pasti nanti akan hamil.”
Ini tidak benar. Perawatan tidak menjamin adanya kehamilan. Meski secara teknis, pasangan dapat beralih menggunakan pengganti, donor telur, dan donor sperma (jika semuanya gagal), dan akhirnya mendapatkan kehamilan, rasanya itu adalah penyederhanaan proses yang terlalu berlebihan. Ada banyak waktu, emosi, dan biaya yang terlibat dan rata-rata orang lain tak bisa mengerti sehingga pada akhirnya mereka akan berkomentar, "Tuh kan, kubilang apa. Pasti hamil!"
Move on adalah pilihan yang harus diambil oleh setiap pasangan, dan jika mengalami masalah komunikasi, pasangan bisa pergi ke psikolog pernikahan untuk melakukan terapi atau konseling. Karena masalah kemandulan atau infertilitas adalah salah satu faktor yang biasanya menyebabkan pasangan suami istri mengalami pertengkaran dan tak jarang bisa berakhir dengan perceraian.
Maka dari itu, jika pasangan suami istri sudah lebih dari satu tahun belum kunjung dikaruniai momongan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter kandungan untuk segera melakukan tes kesuburan. Namun jika memang tidak berencana untuk memiliki anak, itupun juga tidak masalah.
Kebahagiaan sebuah pernikahan tak hanya bergantung pada kehadiran seorang anak di tengah-tengah, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengisi kekosongan hati. Semangat!