Referensi
Mayo Clinic, “Craving and Chewing Ice: A Sign of Anemia?,” diakses 6 November 2026.
Barbara J. Bryant, Yu Ying Yau, Sarah M. Arceo, Julie A. Hopkins, and Susan F. Leitman, “Ascertainment of Iron Deficiency and Depletion in Blood Donors through Screening Questions for Pica and Restless Legs Syndrome,” Transfusion 53, no. 8 (2013): 1637–44.
Pallavi R. Ganesan and Audrey A. Vasauskas, “The Association Between Pica and Iron-Deficiency Anemia: A Scoping Review,” Cureus 15, no. 4 (2023): e37904.
National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements, “Iron: Health Professional Fact Sheet,” diakses 6 November 2026.
NHS, “Iron Deficiency Anaemia,” diakses 6 November 2026.
Sering Mengunyah Es Batu? Itu Bisa Jadi Tanda Kekurangan Zat Besi

Dorongan kuat dan berulang untuk mengunyah es disebut pagofagia. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan kekurangan zat besi.
Kekurangan zat besi bisa terjadi sebelum hemoglobin turun. Artinya, seseorang mungkin kekurangan zat besi meski belum mengalami anemia.
Jika keinginan mengunyah es terus muncul, dokter dapat menyarankan pemeriksaan darah untuk mengecek kadar zat besi dan mencari penyebabnya.
Beberapa orang punya kebiasaan mengunyah es batu setelah selesai minum. Namun, jika keinginan mengunyah es muncul terus-menerus, bahkan hampir setiap hari dan sulit ditahan, kebiasaan ini mungkin merupakan sinyal kesehatan.
Dalam dunia medis, kebiasaan mengunyah es batu secara berlebihan dikenal sebagai pagofagia, salah satu bentuk pika, yaitu dorongan untuk mengonsumsi benda yang bukan makanan atau memiliki nilai gizi sangat rendah. Menariknya, kebiasaan ini sering dikaitkan dengan kekurangan zat besi.
Temuan penelitian
Salah satu studi pada donor darah menemukan bahwa pika—yang paling sering berupa keinginan mengunyah es—lebih banyak dilaporkan oleh donor dengan cadangan atau kadar zat besi rendah dibandingkan donor dengan status zat besi normal, yaitu 11 persen berbanding 4 persen. Setelah mendapat terapi zat besi, keinginan tersebut berkurang pada sebagian peserta dalam beberapa hari dan menghilang dalam 10–14 hari.
Tinjauan cakupan penelitian yang terbit pada 2023 juga merangkum 20 artikel tentang pika dan anemia defisiensi besi. Dalam artikel-artikel tersebut, gejala pika dilaporkan mereda setelah kekurangan zat besi ditangani. Temuan ini mendukung adanya kaitan, tetapi tidak berarti setiap orang yang mengunyah es pasti kekurangan zat besi.
Kekurangan zat besi bisa terjadi sebelum anemia

ilustrasi gelas berisi es batu (pexels.com/Engin Akyurt) Zat besi dibutuhkan tubuh untuk membentuk hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membantu membawa oksigen. Saat asupan atau cadangan zat besi berkurang, tubuh dapat menghabiskan simpanannya lebih dulu sebelum kadar hemoglobin turun. Karena itu, seseorang bisa mengalami kekurangan zat besi meski belum terdiagnosis anemia.
Selain keinginan untuk mengunyah es, anemia akibat kekurangan zat besi dapat menimbulkan rasa lelah, lemas, sulit berkonsentrasi, sakit kepala, kulit tampak lebih pucat, atau sesak napas.
Risiko kekurangan zat besi dapat meningkat, antara lain, pada orang dengan menstruasi berat, kehamilan, rutin donor darah, asupan zat besi yang kurang, atau gangguan saluran cerna yang memengaruhi penyerapan maupun menyebabkan perdarahan.
Kapan perlu menemui dokter?
Jika keinginan mengunyah es terasa kuat, berulang, atau baru muncul tanpa alasan yang jelas, sebaiknya konsultasikan itu dengan dokter. Pemeriksaan dapat mencakup tes darah lengkap dan ferritin—protein yang menggambarkan cadangan zat besi.
Dokter mungkin mempertimbangkan pemeriksaan lain, karena ferritin dapat dipengaruhi peradangan dan hasilnya perlu dibaca bersama kondisi kesehatan serta pemeriksaan lain.
Jangan langsung mengonsumsi suplemen zat besi hanya berdasarkan kebiasaan mengunyah es. Pemeriksaan membantu memastikan apakah memang ada kekurangan zat besi sekaligus mencari penyebabnya, sehingga penanganan bisa disesuaikan.























