Comscore Tracker

Proteinuria, Adanya Protein dalam Urine akibat Gangguan Fungsi Ginjal

Bisa jadi indikasi awal gagal ginjal

Setiap orang pasti memiliki protein di dalam darah yang disebut albumin. Protein punya peran penting bagi tubuh untuk membangun tulang dan otot, mencegah infeksi, dan mengontrol jumlah cairan dalam darah. 

Ginjal membuatmu tetap sehat dengan menyaring darah dalam tubuh. Fungsi ginjal inilah yang akan mengeluarkan cairan dan kotoran dalam darah, tetapi membiarkan protein dan nutrisi penting lainnya melewati dan kembali ke aliran darah.

Akan tetapi, ketika fungsi ginjal bermasalah, protein albumin ini dapat bocor ke dalam urine. Kondisi ini disebut dengan proteinuria atau albuminuria.

1. Penyebab proteinuria

Proteinuria, Adanya Protein dalam Urine akibat Gangguan Fungsi Ginjalilustrasi dehidrasi (freepik.com/gpointstudio)

Proteinuria atau awam sering menyebutnya sebagai 'ginjal bocor' ini memiliki beberapa penyebab, di antaranya:

  • Dehidrasi. Tubuh membutuhkan cairan untuk mengirimkan protein ke ginjal. Namun, ketika dehidrasi, ginjal akan sulit mendapatkan protein dengan benar, akibatnya protein akan berakhir ke urine.
  • Tekanan darah tinggi. Hipertensi dapat melemahkan pembuluh darah di ginjal, sehingga menurunkan kemampuannya untuk menyerap kembali protein.
  • Diabetes. Kondisi gula darah yang tinggi akan memaksa ginjal untuk menyaring darah secara berlebihan yang dapat merusak ginjal. Hal ini memungkinkan protein menjadi bocor ke dalam urine.
  • Ginjal kronis. Penyakit ginjal kronis (PKG) adalah hilangnya fungsi ginjal secara progresif yang dapat menyebabkan proteinuria tahap awal.
  • Penyakit autoimun. Sistem imun akan membuat antibodi dan imunoglobulin menyerang jaringan tubuh, zat ini disebut autoantibodi. Jika autoantibodi melukai glomeruli, peradangan dapat terjadi yang menyebabkan kerusakan ginjal dan akhirnya menyebabkan proteinuria.
  • Preeklamsia. Ini merupakan kondisi tekanan darah tinggi pada atau setelah 20 minggu pada masa kehamilan. Preeklamsia dapat mengganggu kemampuan ginjal untuk menyaring protein, yang menyebabkan kebocoran protein dalam urine.

2. Gejala dan tanda proteinuria

Proteinuria, Adanya Protein dalam Urine akibat Gangguan Fungsi Ginjalilustrasi buang air kecil (freepik.com/jcomp)

Kebanyakan penderita proteinuria tidak menyadari atau merasakan gejala kondisinya itu, terutama pada tahap ringan. Namun, saat kondisi semakin parah, beberapa gejala akan muncul, seperti:

  • Urine berbusa atau berbuih
  • Pembengkakan (edema) pada tangan, kaki, perut, dan wajah
  • Sering buang air kecil
  • Kram otot pada malam hari
  • Kelelahan
  • Mual dan muntah
  • Kehilangan selera makan
  • Sesak napas

Baca Juga: 7 Pantangan untuk Kamu yang Menderita Penyakit Ginjal

3. Faktor risiko proteinuria

Proteinuria, Adanya Protein dalam Urine akibat Gangguan Fungsi Ginjalilustrasi hipertensi (freepik.com/jcomp)

Semua orang bisa mengalami proteinuria. Namun, beberapa orang dengan kondisi tertentu memang lebih berisiko, seperti:

  • Usia. Usia 65 tahun ke atas lebih rentan terhadap dehidrasi dan masalah ginjal.
  • Obesitas. Orang yang kelebihan berat badan akan rentan terhadap penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan preeklamsia yang merupakan penyebab proteinuria
  • Riwayat keluarga. Seseorang akan lebih berisiko mengalami proteinuria jika memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ginjal atau preeklamsia.
  • Etnis tertentu. Keturunan Afrika-Amerika, Latin, Indian Amerika, dan Asia memiliki risiko lebih besar mengalami masalah ginjal.

4. Diagnosis proteinuria

Proteinuria, Adanya Protein dalam Urine akibat Gangguan Fungsi Ginjalilustrasi tes urine (freepik.com/freepik)

Untuk diagnosis, tes urine bisa dilakukan. Dokter akan meminta pasien untuk buang air kecil ke dalam cangkir spesimen. Selanjutnya, dokter akan mencelupkan dipstick atau setrip plastik tipis yang dilapisi bahan kimia ke dalam sampel urine. Jika terlalu banyak protein, maka setrip akan berubah warna.

Setelah itu, sisa urine akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa di bawah mikroskop. Jika dokter menemukan indikasi penyakit ginjal, tes urine ulang bisa dilakukan serta beberapa tes berikut:

  • Tes darah. Tes ini dilakukan untuk memeriksa seberapa baik kinerja ginjal.
  • Ultrasound atau CT scan. Tes ini bertujuan untuk mengambil gambar rinci dari ginjal dan saluran kemih.
  • Biopsi ginjal. Sampel ginjal akan diambil dan diperiksa untuk mengetahui tanda-tanda kerusakan ginjal.

5. Pengobatan proteinuria

Proteinuria, Adanya Protein dalam Urine akibat Gangguan Fungsi Ginjalilustrasi makanan sehat (freepik.com/yanalya)

Proteinuria sebetulnya tidak memerlukan perawatan khusus. Namun, kondisi ini bisa merupakan tanda dari adanya kondisi medis yang mendasarinya. Untuk mengetahuinya, kamu perlu melakukan beberapa penanganan dan perawatan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada ginjal bergantung pada penyebabnya. Maka dari itu, pemeriksaan dokter sangat dibutuhkan.

Perawatan yang bisa dilakukan meliputi:

  • Obat tekanan darah. Jika ada indikasi hipertensi, dokter akan memberikan obat untuk membantu menurunkan tekanan darah.
  • Obat diabetes. Bila mengidap diabetes, pasien akan membutuhkan obat atau terapi insulin untuk mengontrol gula darah.
  • Mengubah pola makan. Dokter akan menyarankan untuk menjalani diet dengan pola makan yang lebih sehat, guna mengontrol hipertensi, diabetes, maupun ginjal.
  • Menurunkan berat badan. Mengontrol berat badan dapat mengatasi kondisi yang mengganggu fungsi ginjal.

Demikian sederet fakta mengenai proteinuria yang perlu kamu ketahui. Bila mengalami gejala-gejalanya, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Pasalnya, proteinuria bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius dan butuh penanganan medis.

Baca Juga: Seperti Apa Proses Pembentukan Urine Manusia? Ini Tahapannya!

Nursyamsi Kusuma Dewi Photo Verified Writer Nursyamsi Kusuma Dewi

The girl who has millions of dreams | Find me on Instagram : Nursyamsidewi

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya