Comscore Tracker

Apendektomi (Operasi Usus Buntu): Prosedur dan Pemulihan

Prosedur darurat untuk mencegah komplikasi apendisitis

Apendektomi atau operasi usus buntu adalah operasi untuk mengangkat usus buntu atau apendiks yang terinfeksi (apendisitis atau radang usus buntu). Apendektomi adalah operasi darurat yang umum.

Apendiks adalah kantong tipis yang melekat pada usus besar, yang ada di bagian kanan bawah perut. Jika kamu mengalami apendisitis, usus harus segera diangkat. Jika tidak cepat diobati, usus buntu bisa pecah, yang mana ini adalah keadaan darurat medis.

1. Mengapa apendisitis dikategorikan sebagai keadaan darurat medis?

Karena ukurannya yang sangat kecil, usus buntu membengkak dengan cepat dengan adanya peradangan dan tidak butuh waktu lama untuk pecah. Apendiks yang pecah dapat menyebarkan agen infeksi ke seluruh rongga perut, menyebabkan peritonitis, peradangan pada lapisan perut, seperti dijelaskan dalam laman Cleveland Clinic.

Apabila infeksi menyebar ke aliran darah, ini dapat menyebabkan sepsis. Baik peritonitis dan sepsis dapat menyebabkan penyakit serius, bahkan kematian. Usus buntu bisa pecah dalam waktu 36 jam sejak gejala pertama usus buntu. Jadi, waktu adalah hal penting dalam penanganan apendisitis.

Gejala apendisitis yang perlu kamu ketahui antara lain:

  • Sakit perut yang terjadi secara tiba-tiba dekat area pusar dan menyebar ke perut kanan bawah.
  • Perut bengkak.
  • Otot perut kaku.
  • Konstipasi atau diare.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Hilang nafsu makan.
  • Demam ringan.

Walaupun rasa sakit dari apendisitis umumnya muncul di bagian kanan bawah perut, ibu hamil mungkin mengalami rasa sakit di bagian kanan atas perut. Ini karena letak usus buntu lebih tinggi selama masa kehamilan.

2. Persiapan

Apendektomi (Operasi Usus Buntu): Prosedur dan Pemulihanilustrasi apendektomi laparoskopi (pexels.com/Raul Infante Gaete)

Biasanya, kamu harus menghindari makan dan minum setidaknya selama 8 jam sebelum operasi usus buntu. Beri tahu dokter mengenai obat resep atau obat bebas yang sedang digunakan. Dokter akan memberi tahu bagaimana obat-obatan tersebut harus digunakan sebelum dan sesudah prosedur.

Juga, beri tahu dokter jika:

  • Sedang hamil atau ada kemungkinan hamil.
  • Alergi atau sensitif terhadap lateks atau obat-obatan tertentu, seperti anestesi.
  • Memiliki riwayat gangguan perdarahan.

Usahakan ada orang yang mengantar kamu pulang setelah operasi dilakukan. Operasi usus buntu sering dilakukan dengan menggunakan anestesi umum, yang dapat membuat kamu mengantuk dan tidak dapat mengemudi selama beberapa jam setelah operasi.

Setelah berada di rumah sakit, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik. Selama pemeriksaan, dokter akan dengan lembut mendorong perut untuk mencari lokasi sumber sakit perut.

Dokter mungkin memesan tes darah dan tes pencitraan jika radang usus buntu diketahui lebih awal. Namun, tes ini mungkin tidak dilakukan jika dokter yakin bahwa operasi usus buntu darurat diperlukan.

Sebelum operasi usus buntu, kamu akan dipasangkan infus untuk menerima cairan dan obat-obatan.

Menambahkan dari National Library of Medicine, apendektomi dilakukan dengan menggunakan:

  • Anestesi spinal: Obat dimasukkan ke punggung untuk membuat mati rasa di bawah pinggang. Kamu juga akan mendapatkan obat untuk membuat mengantuk.
  • Anestesi umum: Kamu akan tertidur dan tidak merasakan sakit apa pun selama operasi.

3. Prosedur

Untuk prosedur apendektomi, kamu akan menggunakan gaun rumah sakit dan melepas semua perhiasan, lalu dibawa ke ruang operasi. Kamu akan berbaring telentang dan akan diberikan anestesi. Kamu juga akan diberikan relaksan otot untuk mencegah kejang otot. 

Sebuah tabung tipis akan ditempatkan melalui mulut ke tenggorokan untuk menjaga jalan napas yang bersih dan memantau pernapasan. Ahli anestesi akan memantau tanda-tanda vital terus-menerus selama operasi.

Ada dua jenis apendektomi, yaitu apendektomi terbuka dan apendektomi laparoskopi. Jenis yang dipilih dokter tergantung pada beberapa faktor, termasuk tingkat keparahan radang usus buntu dan riwayat kesehatan.

Apendektomi laparoskopi

Ahli bedah akan memulai dengan sayatan kecil di dekat pusar. Mereka akan memasukkan lubang kecil ke dalam sayatan. Melalui lubang tersebut, dokter akan memasukkan tabung kecil yang disebut kanula.

Kanula digunakan untuk menggembungkan rongga perut dengan gas karbon dioksida. Ini membuat lebih banyak ruang untuk operasi dan memungkinkan rongga perut dan isinya muncul lebih jelas dalam gambar fotografi.

Setelah itu, dokter akan melepas kanula dan memasukkan laparoskop, yaitu tabung tipis panjang dengan lampu kecil dan kamera beresolusi tinggi.

Kamera akan menampilkan operasi pada layar video, memungkinkan ahli bedah untuk menemukan usus buntu dan memandu instrumen melalui satu hingga tiga sayatan kecil. Kadang, laparoskop dapat mengungkapkan komplikasi yang tidak diharapkan, dan operasi laparoskopi mungkin perlu diubah menjadi operasi terbuka untuk mengelolanya.

Apendektomi terbuka

Dalam prosedur ini, ahli bedah akan membuat satu sayatan yang lebih besar di perut kanan bawah. Mereka akan membuka rongga perut dan memisahkan otot perut untuk menemukan usus buntu di bawahnya.

Jika usus buntu telah pecah, mungkin ada abses atau cairan di rongga perut perlu dialirkan atau dikeringkan sebelum dapat melalukan operasi usus buntu. Kemudian, dokter akan membilas rongga perut dengan larutan garam.

Baik dalam prosedur apendektomi laparoskopi maupun apendektomi terbuka, usus buntu diikat dengan jahitan, kemudian dilepaskan dari usus dan diangkat. Kelebihan cairan dan gas akan dikeringkan melalui sayatan.

Jika mengalami peritonitis, ahli bedah mungkin akan meninggalkan tabung drainase di perut untuk terus mengalirkan cairan dan mengeluarkannya nanti. Tabung pernapasan akan dilepas dan sayatan akan ditutup dengan jahitan, dibersihkan, dan diperban. Setelahnya, kamu akan dipindahkan ke ruang pemulihan.

Baca Juga: 7 Gejala Radang Usus Buntu pada Orang Dewasa, Jangan Lengah!

4. Pemulihan

Apendektomi (Operasi Usus Buntu): Prosedur dan Pemulihanilustrasi pemulihan setelah apendektomi atau operasi usus buntu (pexels.com/RODNAE Productions)

Setelah operasi usus buntu selesai dilakukan, kamu akan dipantau selama beberapa jam sebelum dibolehkan pulang. Tanda-tanda vital, seperti pernapasan dan detak jantung, akan dimonitor secara ketat. Staf rumah sakit juga akan memeriksa apakah ada reaksi yang merugikan terhadap anestesi atau prosedur operasi.

Kapan kamu boleh pulang akan tergantung pada hal-hal ini:

  • Kondisi fisik secara keseluruhan.
  • Jenis operasi usus buntu yang dilakukan.
  • Reaksi tubuh terhadap operasi.

Dalam beberapa kasus, kamu mungkin harus menginap di rumah sakit semalaman. 

Kamu mungkin bisa pulang pada hari yang sama setelah operasi jika radang usus buntu tidak parah. Pastikan ada anggota keluarga atau teman yang mengantar pulang jika menerima anestesi umum. Efek anestesi umum biasanya membutuhkan waktu beberapa jam untuk hilang, sehingga tidak aman untuk mengemudi setelah operasi.

Waktu pemulihan bervariasi tergantung pada seberapa rumit radang usus buntu dan operasi serta bagaimana tubuh merespons operasi. Secara umum, rasa sakit dan efek samping seharusnya akan sangat berkurang dalam beberapa hari. Mungkin perlu beberapa hari hingga minggu untuk kembali ke aktivitas normal. Kebanyakan orang pulih sepenuhnya dalam waktu enam minggu.

Pada hari-hari setelah operasi usus buntu, kamu mungkin merasakan nyeri sedang di area di mana sayatan dibuat. Setiap rasa sakit atau ketidaknyamanan akan membaik dalam beberapa hari. Dokter mungkin meresepkan obat untuk menghilangkan rasa sakit. Dokter mungkin juga meresepkan antibiotik untuk mencegah infeksi pascaoperasi. Kamu dapat mengurangi risiko infeksi dengan menjaga luka sayatan tetap bersih.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan tanda-tanda infeksi. Ini dapat meliputi:

  • Kemerahan dan bengkak di sekitar sayatan bekas operasi.
  • Demam di atas 38,3 derajat Celcius.
  • Menggigil.
  • Muntah.
  • Kehilangan selera makan.
  • Kram perut.
  • Diare atau sembelit yang berlangsung lebih dari dua hari.

5. Tips pemulihan

Setelah bangun dari operasi, kamu kemungkinan akan merasa pusing dan sulit berpikir jernih. Beri tahu dokter jika mengalami mual atau kesakitan.

Kamu bisa mulai minum seteguk kecil cairan bening. Namun, kamu belum boleh beralih ke makanan padat sampai tim medis meyakini kamu dapat menoleransi cairan bening. Sebelum pulang, dokter biasanya akan memberikan beberapa tips untuk meningkatkan pemulihan dan mengurangi infeksi.

Tips untuk membantu pemulihan setelah operasi usus buntu meliputi:

  • Menahan diri dari mengangkat benda berat: Hindari mengangkat barang yang lebih berat dari 10 pon selama 3–5 hari setelah operasi laparoskopi atau 10–14 hari setelah operasi terbuka.
  • Mencuci tangan secara menyeluruh: Cuci tangan dengan air hangat dan sabun sebelum menyentuh area yang dekat dengan lokasi sayatan.
  • Mengikuti instruksi tim medis tentang mandi: Kebanyakan ahli bedah merekomendasikan untuk tidak mandi sampai setidaknya hari kedua setelah operasi.
  • Memeriksa perban untuk tanda-tanda infeksi: Ini bisa termasuk drainase yang kental dan berbau kuat atau kemerahan dan nyeri di tempat sayatan.
  • Menahan diri dari mengenakan pakaian ketat: Ini bisa bergesekan dengan lokasi sayatan dan menyebabkan ketidaknyamanan.
  • Menggunakan pereda nyeri untuk meminimalkan ketidaknyamanan: Obat nyeri narkotik dapat menyebabkan konstipasi. Akibatnya, dokter mungkin meresepkan pelunak feses dan merekomendasikan peningkatan asupan cairan untuk mengurangi kemungkinan obstruksi usus.
  • Memegang bantal di atas perut: Gunakan ini untuk memberikan tekanan kuat sebelum batuk atau bergerak untuk meminimalkan ketegangan di tempat sayatan (splinting).

6. Risiko komplikasi

Apendektomi (Operasi Usus Buntu): Prosedur dan Pemulihanilustrasi apendektomi atau operasi usus buntu (unsplash.com/Richard Catabay)

Dilansir Johns Hopkins Medicine, ada beberapa kemungkinan risiko dari operasi usus buntu. Ini meliputi:

  • Perdarahan.
  • Infeksi luka.
  • Infeksi dan kemerahan dan pembengkakan (radang) perut yang dapat terjadi jika usus buntu pecah saat operasi (peritonitis).
  • Usus tersumbat.
  • Cedera pada organ terdekat.

Kamu mungkin memiliki risiko lain yang unik. Pastikan untuk mendiskusikan masalah apa pun dengan penyedia layanan kesehatan sebelum operasi.

Siapa pun tidak ingin sampai mengalami radang usus buntu, apalagi sampai harus menjalani apendektomi. Akan tetapi, jika memang mengalaminya, operasi radang usus buntu adalah satu-satunya cara untuk menanganinya. Operasi ini ini tidak hanya cara teraman dan paling efektif untuk penanganan usus buntu, tetapi juga mencegahnya kembali dan menyebarkan infeksi, yang bisa berpotensi fatal. 

Inovasi terbaru seperti laparoskopi telah memungkinkan dilakukannya operasi usus buntu sebagai prosedur rawat jalan invasif minimal jika keadaan memungkinkan. 

Dalam mayoritas kasus, apendektomi dianggap sebagai pengobatan teraman untuk radang usus buntu. Ada beberapa pengecualian, misalnya beberapa orang mungkin tidak layak sebagai kandidat operasi. Beberapa orang mungkin merespons antibiotik saja jika radang usus buntu tidak rumit dan terdeteksi cukup dini. Namun, mereka berisiko mengalami apendisitis berulang. Pada akhirnya, risiko usus buntu pecah jauh lebih besar daripada risiko rendah yang terkait dengan operasi. Jika usus buntu cukup meradang hingga pecah, paling aman adalah mengangkatnya.

Baca Juga: CT Scan: Tujuan, Cara Kerja, Risiko, Persiapan, Efek Samping

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya